Nih, Pesan Buat Loe Mahasiswa Yang Suka Ngamen!


Ini kisah nyata. Namun sebenarnya ini bukanlah kisahku sendiri. Kali ini kisah atau cerita dari salah seorang temanku yang tak sengaja menceritakannya padaku. Mungkin baginya itu kejadian atau cerita lucu atau lebih cenderung memalukan. Tapi bagiku itu ceita yang sarat akan makna.

Jadi, saat itu temanku pergi cari makan malam seperti biasa di sekitar area Tembalang. Tibalah dia  di satu tempat makan favoritnya. Sesudah dia memesan makanan. Sambil menunggu makanan yang dipesan itu diantar, tiba – tiba datanglah seorang ….

“Misi ganteng…”

IMG_1359_zpsd182ac7d

Continue reading

MELIBATKAN ALLAH


Pernahkah kita selalu melibatkan Allah di setiap aktivitas dakwah kita? Bagaimana caranya? Bagaimana menghadirkan Allah selalu dalam hati kita?

Untukmu para aktivis dakwah dan golongan orang muflihuun

Mukminin wa mukminat rahimakumullah

Kita memang sudah sangatlah sering mengalami berbagai musibah , kesukaran , kepahitan, kekecewaan dalam perjalanan dakwah kita. Namun, ingatlah bahwa semuanya itu terjadi karena memang atas izin Allah.

”Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah”. (At-Taghaabun 11)

Percayalah, pasti ada hikmah besar dibalik musibah yang kita alami ini. Dan pilihannya hanya ada dua, mundur atau bangkit. Bisa jadi, musibah ini justru membuat kita “terpaksa” untuk lebih kuat lagi, lebih cerdas lagi, lebih solid lagi, lebih banyak belajar dalam berjamaah dan berdakwah. Ujian kelas kakap pasti akan melahirkan orang kelas kakap, ujian kelas teri akan menghasilkan orang kelas teri juga. Oleh karena itu, bukankah kita termasuk wa ulaaika humul muflikhuun mendapat ujian ini?

Nahkoda yang tangguh tidak lahir di samudra yang tenang

  Continue reading

ROK MINI, BERBAHAYA!


Kategori : Opini gagal masuk koran
Date : 19 – 3 – 2012
 

223565_07575409032012_7Era globalisasi menghadirkan plurasisme di Indonesia. Namun, tak semua kultur – kultur yang dominansi dari western itu baik diadopsi oleh masyarakat Indonesia. Mulai dari bahasa, perilaku, adat, sampai ke tingkat fashion. Kebudayaan timur lama kelamaan akan terkikis oleh globalisasi yang mempunyai andil besar ini.

Dahulu, wanita memakai rok mini adalah hal yang tabu. Namun sekarang merupakan hal yang biasa dilihat. Sebagai mahasiswa yang merupakan makhluk berintelektual, seharusnya lebih bisa memandang lebih jauh tentang memakai rok mini di kampus. Selain bisa mengurangi nilai adat ketimuran yang kaya akan kesopanan, bisa juga meningkatkan kriminalitas yang merugikan kaum hawa ini. Yaitu, pelecehan seksual atau bahkan pemerkosaan. Sebagai mahasiswa seharusnya bisa berpikir sudut pandang ganda bahwa semua akibat pasti ada sebab. Ada gula ada semut, ada sebab ada akibat, ada banyak kasus pemerkosaan dan pelecehan karena salah satu sebab kaum wanita tidak bisa menjaga auratnya. Namun seringkali kita menemukan kaum pria yang menjadi kambing hitam atas kasus – kasus pelecehan dan pemerkosaan.

Rok mini juga jika kita telaah, merupakan simbol pergeseran nilai budaya. Dahulu, wanita memakai celana ketat merupakan hal yang tabu. Hingga sekarang wanita memakai rok mini merupakan hal biasa. Dan nanti sekitar 10 atau 20 tahun lagi, mungkin wanita telanjang merupakan hal yang biasa pula. Inilah hal yang seharusnya perlu kita perhatikan. Jadi, stop memakai rok mini karena membahayakan diri sendiri dan budaya.

SENIOR ITU BUKAN PREMAN


Kategori : Opini gagal masuk koran
Date : 27 – 12 – 2011

ospekPremanisme, salah satunya kekerasan fisik, acap kali kerap terjadi bahkan di dunia kampus. Kekerasan di kampus, biasanya sering terjadi pada saat masa orientasi mahasiswa baru. Dengan dalih menumbuhkan respect, disiplin dan kekompakkan, senioritas dinodai dengan tingkah laku seperti “preman”. Hal – hal tersebut, lebih mendatangkan kerugian daripada manfaatnya. Jika itu dilakukan pada mahasiswa baru maka akan menimbulkan dendam dan akan membalaskan dendamnya pada mahasiswa baru lagi akhirnya akan terjadi terus menerus. Dan bukan rasa hormat dan segan yang berlaku untuk senior tapi rasa takut atau benci yang terjadi.

Sebenarnya untuk menumbuhkan rasa disiplin, hormat atau kekompakkan pada mahasiswa baru banyak cara yang bisa dilakukan. Bisa dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan kreatif. Misalnya, mengadakan acara tanam 1000 pohon di area kampus, membuat perlombaan, dan lain – lain. Dan diharapkan senior terlibat langsung bersama mahasiswa baru agar tidak terkesan eksklusif dan tumbuh rasa kekeluargaan.

“KAPAL KOSONG, NAHKODA TANPA NAVIGATOR”


Aku dan LPM Publica Health

-Chapter 1-

“Bi, PU tahun depan kamu ya?…” itu kalimat pertama yang mengawali ceritaku disini. Sebuah kalimat pertanyaan yang sebenarnya bisa menjadi retoris, jika ditanyakan kepada kebanyakan orang. Dan pasti kebanyakan jawabannya adalah “Tidak mau.., Ah aku gak siap..,..coba cari yang lain aja…bla and bla…” Seperti kebanyakan contoh disekitar kampus, jika orang atau mahasiswa diajak atau disuruh untuk memimpin, pasti jawabannya hampir semua seperti itu. Atau jika disuruh bertanya oleh dosennya disaat kuliah, hampir semuanya juga pasti diam seribu bahasa. Kultur seperti itu memang susah untuk dihilangkan di bumi pertiwi ini. Tak tahu aku apa sebabnya. Continue reading

LAMUNANKU PUN TLAH USAI, AKU JATUH CINTA SATU SETENGAH JAM DI KERETA ITU -18 JAM DI JAKARTA- (CHAPTER 2)


Berawal ingin mengikuti seminar kesehatan nasional yang diselenggarakan di Balairung UI kemarin pada tanggal 12 Oktober 2010. Dalam benakku padahal sama sekali tiada stimulan untuk ikut hijrah sementara di salah satu dari 5 kota metropolitan di Indonesia, Jakarta. Apalagi kocek yang semakin menipis di bulan itu karena dipakai sana – sini untuk kegiatan kampus dan bingung untuk hutang kemana lagi. Namun, melihat antusias teman – teman yang ikut, pikiranku pun ikut berubah.

“Iseng – iseng mungkin di Seminar nanti ku bisa dapat tanda tangan Bu Menkes” , pikirku. Karena di Seminar Kesehatan itu akan datang menteri kesehatan RI dr. Endang Sri Rahayu.

“Mungkin juga bisa foto bareng”, khayalku lagi.

Akhirnya dengan sedikit persiapan, bekal, baju ganti, dan tentu saja kocek yang seadanya, aku berangkat ke Jakarta bersama dengan teman – teman lainnya.

…. Continue reading

Tukang Jaga Toilet -18 jam di Jakarta- (chapter 1)


18 jam di jakarta

-chapter 1-

Tukang Jaga Toilet

Pengalaman ini begitu singkat, namun cukup membuatku sadar akan salah satu arti jalani hidupku..

Berawal ingin mengikuti seminar kesehatan nasional yang diselenggarakan di Balairung UI kemarin tanggal 12 oktober 2010. Padahal dalam benakku sama sekali tiada stimulan untuk ikut hijrah sementara di salah satu dari 5 kota metropolitan di Indonesia, Jakarta. Apalagi kocek yang semakin menipis di bulan ini karena dipakai sana – sini untuk kegiatan kampus dan bingung untuk hutang kemana lagi. Namun, melihat antusias teman – teman yang ikut, pikiranku berubah.

“Iseng – iseng mungkin di Seminar nanti ku bisa dapat tanda tangan bu Menkes” pikirku. Karena di Seminar Kesehatan itu akan datang menteri kesehatan RI dr. Endang sri Rahayu.

“Mungkin juga bisa foto bareng” pikirku lagi.

Akhirnya dengan persiapan, bekal, baju, dan tentu saja kocek yang seadanya aku berangkat ke Jakarta bersama dengan teman – teman lainnya.Kami ada 34 orang, kami mahasiswa FKM Undip angkatan 2008,2009 dan 2010.

Stasiun Poncol Semarang, pukul 17.00 kami kumpul di parkiran stasiun untuk pengecekan, kordinasi dan persiapan terakhir untuk pemberangkatan. setelah sholat maghrib di stasiun dan dilanjutkan sholat isya yang dijama’ qoshor, akhirnya kurang lebih sekitar pukul 18.55 kita sudah di kereta dan berangkat menuju tujuan terakhir stasiun jakarta kota. Diringi canda gurau,debat kusir penumpang kereta tawang jaya menghiasi malam perjalanan. Tak lupa pula bakul – bakul pengais rezeki di kereta sibuk mondar – mandir mempromosikan jualannya dengan gayanya yang khas. Suasana semakin sunyi karena mata ini semakin berat diiringi hilangnya suara deru mesin kereta..ku pun tertidur lelap.

Pukul 04.02 wib stasiun jakarta kota, Jakarta.

Mata terkantuk-kantuk terlihat jelas di wajah teman – temanku. Pagi untuk pertama kalinya ku di Jakarta ini bukan kicauan burung yang ku dengar seperti biasanya, namun deru mesin dan suara langkah kaki sibuk yang mondar – mandir.

Kami segerakan untuk kumpul dan akan melakukan sholat subuh didekat toilet  stasiun yang sudah terlihat tua ini.

“Seperti bangunan jaman Belanda” benakku.

Aku beserta teman – teman ku segerakan untuk melakukan sholat subuh di musholla stasiun. Sempit tak terawat.

“Kenapa bangunan sebesar ini musholla nya sekecil ini?, ini mungkin lebih kecil dari kantor kepala stasiun dan tolietnya.”pikirku menggerutu. Ini juga berlaku pada Mall – Mall,Toserba dan Swalayan yang pernah ku singgahi.

Setelah sholat subuh, tak lupa saya berdzikir sejenak, meminta perlindungan dan keselamatan serta mengadu penatku seharian kepada sang Khalik Alloh SWT tempat ku bergantung.

Kulihat Handphoneku di saku celana yang hampir mati kehabisan energi. Tak berpikir panjang kucabut kabel dekat tempat imam kucolokkan charger HP yang ku beli dengan uang hasil keringatku sendiri ini. Teman – temanku sepertinya sudah melakukan dan merasakan hal yang serupa.

Ku mundur beberapa langkah untuk sekedar bersandar dan meneruskan kantukku yang masih terasa.

Selang beberapa menit kemudian..

“Heh mas !! kalo mau

nyolokin bilang – bilang dong!! Maen cabut – cabut aja!! Air WC mati tuh !! “…

Ternyata tukang jaga toilet yang menimbulkan kebisingan ini. Salah satu temanku sebut saja Syarif yang kebetulan duduk dekat colokkan yang dimaksud kena semprot dari Tukang jaga toilet tersebut.

“huhh..gimana sih?!!”…sambil menggerutu dia cepat cabut charger Hpku dan memasang kabel air yang ku cabut itu kembali. Dia pun kembali ke toilet tempat dia bekerja sambil terpincang – pincang karena kakinya memang pincang sebelah.

Ternyata biangnya adalah aku.

Sambil ketawa cekikikan diikuti teman – teman sedikit menertawai keadaan tadi karena ekspresi Syarif yang tak berdosa kena marah seperti itu.

Kasihan juga si Syarif. Tak punya salah malah kena marah. Bukannya aku lempar batu sembunyi tangan, namun kejadiannya terlalu cepat tak sempat berpikir untuk mengaku. Lagian kenapa tukang jaga toilet itu langsung marah – marah? Kenapa tidak tanya dahulu dengan baik – baik dan halus? Sejenak ku berpikir apakah memang ini kultur dari kota metropolitan yang setiap lebaran bertambah penduduknya ini? Apa sebenarnya penyebab kultur  ini? Berbagai pertanyaan terlintas cepat dalam otakku.

Setahuku memang teman – temanku yang berasal dari Jakarta sebagian besar mempunyai karakter yang khas..namun tentu saja tidak semuanya. Semuanya kembali kepada diri masing – masing apakah dia cerdas bisa beradaptasi dengan lingkungan yang membutuhkan keramahan dan tata krama atau hanya mementingkan keegoisan tanpa memperhatikan apa perasaan orang dan menghargai budaya tempat yang disinggahinya. Itu berlaku pada semua orang yang berasal dari daerah manapun. Itu point yang bisa kuambil saat itu.