APA PERLU, SETIAP BULAN ITU RAMADHAN?


ilustrasi: inet

ilustrasi: inet

Masih terekam jelas, saat malam pertama Ramadhan. Pemandangan yang tak biasa. Waktu menjelang isya, masjid yang biasanya sepi, kali ini menjadi ramai. Sangat ramai. Hingga yang biasanya kudapatkan shaf depan dengan mudah, kali ini harus mengalah di barisan jauh ke belakang, penuh sesak.

Sebelum hadir di masjid pun,  kulihat, orang – orang ramai berjalan kaki, berbondong – bondong datang ke masjid. Bahkan melebihi yang biasanya. Berpakaian rapi lengkap “seragam masjid”. Baju koko, sarung dan peci. Tak kalah wanitanya pun sudah mengenakan mukena, tertutup auratnya, bahkan sejak awal berangkat dari rumah.

Bahkan setelah tarawih, tak sedikit yang masih bertahan di masjid guna melantunkan ayat Allah hingga satu , dua atau ber juz – juz.

Subuh di masjid pun, sama. Dari hari yang biasanya tak melebihi satu atau dua shaf, kini penuh hingga ada yang terpaksa menggelar sajadahnya di dekat tempat wudhu.

Itulah hari dan malam pertama Ramadhan. Sungguh indah.

Di televisi, genre tayangan umum berubah. Menjadi religi. Dari yang biasanya dijejali dengan tayangan lawakan kini berubah dengan tayangan berhikmah. Walaupun tak semuanya. Tetap lawakan masih ada.

Apakah perlu setiap bulan itu Ramadhan, baru kita temui suasana yang seperti ini?

Kuamati sekali lagi fenomena di masjid. Semoga saja ku bukanlah termasuk jamaah “dadakan” sholat isya di masjid, hanya karna euforia tarawih Ramadhan. Hanya terbawa euforia, atmosfer Ramadhan. Walaupun tak bisa dinilai buruk. Ke istiqomahan, itulah titik pointnya.

Apakah benar , kita ini benar – benar bahagia menyambut Ramadhan? Yang ku tahu, yang paling bahagia saat Ramadhan adalah para tukang penjual mercon, para penjual pakaian, mall – mall, karena laris terjual akibat “berkah” Ramadhan ini.

Apakah benar, kita ini benar – benar, saat itu, sudah mempersiapkan untuk menyambut Ramadhan tiba? Ataukah justru hanya tersibukan dengan hitungan mundur tiba harinya Ramadhan saja? “Ramadhan 2 hari lagi, Ramadhan 1 hari lagi”. Hingga lupa apa yang seharusnya disiapkan saat itu?

Sejenak kita harus merenungkan…

Dalam satu hari kita hidup, berapakah presentasi antara amal saleh dan maksiat yang kita perbuat? Berapakah presentase antara amal saleh dan kelalaian yang kita perbuat?

Dari amal – amal yang sudah kita lakukan selama ini, berapa persenkah yang sudah syariat? Dari yang sesuai syariat itu berapa persenkah yang ikhlas dan diterima Allah ? Jangan – jangan kita termasuk yang merugi dan sia – sia amalnya. Naudzubillah !

Oh.. Allah… Ampuni aku jika ada sisi kemunafikan dalam diriku. Sisi yang berpura – pura beriman kepadaMu, sisi berpura – pura mencintai RamadhanMu. Hilangkan sisi buruk itu.

Oh…Allah… Jadikan Aku hamba di Ramadhan ini, yang hanya benar – benar mencari ridhoMu dan ampunMu dengan bentuk lebih meningkatkan amalku. Tidak hanya terbawa euforia semu.

Oh… Allah… Jadikan bulan yang lainnya seperti Ramadhan bagiku, hari lainnya hari Ramadhan bagiku, malam di bulan lainnya seperti malam pertama Ramadhan bagiku. Yang disitu aku merasa lebih dekat denganMu, dan Dirimu lebih dekat denganKu. Walaupun sebenarnya, setiap saat Dirimu lebih dekat dari urat leherku. Yang tak pernah mengantuk dan yang tak pernah tidur. Selalu melihatku.

Oh.. Allah… Jangan jadikan Ramadhan ini yang terakhir bagiku.

One thought on “APA PERLU, SETIAP BULAN ITU RAMADHAN?

  1. Pingback: Syawal Menamparku Dengan Kesedihan | ensiklopedihikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s