Nih, Pesan Buat Loe Mahasiswa Yang Suka Ngamen!


Ini kisah nyata. Namun sebenarnya ini bukanlah kisahku sendiri. Kali ini kisah atau cerita dari salah seorang temanku yang tak sengaja menceritakannya padaku. Mungkin baginya itu kejadian atau cerita lucu atau lebih cenderung memalukan. Tapi bagiku itu ceita yang sarat akan makna.

Jadi, saat itu temanku pergi cari makan malam seperti biasa di sekitar area Tembalang. Tibalah dia  di satu tempat makan favoritnya. Sesudah dia memesan makanan. Sambil menunggu makanan yang dipesan itu diantar, tiba – tiba datanglah seorang ….

“Misi ganteng…”

IMG_1359_zpsd182ac7d

Sontak temanku itu pun kaget, wt karna didatangi seorang waria dengan perawakan tubuh tinggi, tegap, kekar tapi memakai rok mini. Sambil memegang icik – icik, siap tuk mengamen.

“Misi ganteng, eike mau ngamen nih ciin, dengerin ya..,” katanya, dengan intonasi manja.

Waria itu pun mengamen dengan menyanyikan sebuah lagu. Tak selesai satu lagu itu , temanku memberi sejumlah uang , isyarat agar waria itu cepat pergi.

Namun, sebelum waria itu beranjak pergi. Tiba – tiba ada…

mahasiswa ngamen

“Misi kakak… kami dari ***%%&$, ingin mepersembahkan sebuah lagu…”

Nampak, beberapa mahasiswa rupanya di situ ingin mengamen pula. Namun, mereka membawa beberapa kotak kardus bertuliskan donasi untuk dikumpulkan sebuah acara tertentu.

Mereka pun kompak bernyanyi beramai – ramai dibantu sebuah alat gitar, sembari beberapa dari mahasiswa itu membawa kotak kardus berkeliling.

“Ganteng tahu gak?”, kata Si Waria.

Tenyata, waria itu belum pergi setelah temanku memberi uang. Setelah tercuri fokus sebentar pada mahasiswa – mahasiswa yang datang mengamen tadi. Dan ternyata waria itu juga ikut memperhatikan mahasiswa – mahasiwa itu.

“Eh, iya tante kenapa?”, kata temanku canggung.

“Mereka itu kaya pengemis intelektual “, kata waria.

Temenku cuma bengong… poker

“Mereka itu kan pendidikannya tinggi, secara ekonomi juga cukup.. lebih beruntung mereka daripada eike.. tapi kenapa mencari uang buat dana dengan cara ngamen keroyokan gitu?.. Mereka ngamen buat apa sih? Buat acara konser – konser gitu kan?” kata waria.

Temenku tambah bengong… poker2

“ Mereka kan berpendidikan.. mereka itu cerdas.. kenapa harus dengan cara itu? Kenapa gak ke perusahaan buat proposal minta sponsor? Mereka akan dapet lebih banyak ketimbang dengan cara yang seperti itu? Mereka itu pintar, cerdas, tapi mentalnya pengemis..

Kadang bukan salah mereka.. kadang senior mereka yang ngajarin.. bukan eike sirik..  karna eike udah terkenal di Semarang.. hehe

Eike gak susah buat cari uang.. Cuma eike kasihan sama pengemis yang pada suka kumpul dan curhat kalo mereka gak dapet rezeki karena mahasiswa keroyokan pada ngamen gitu…”, imbuh si Waria.

“Kalau punya temen yang suka ngamen, tolong bilangin ya?, yaudah Tamara keliling dulu. Makasih ganteng..”, kata si Waria pergi sambil mengelus pipi temanku. wt

Mendengar cerita itu dari temanku, aku tertohok. Sakit-2Respon pertamaku bukanlah tertawa,  tapi iba. Walaupun temanku menceritakannya lebih menekankan pada bagian “elusan maut” Tamara ke pipinya.

Karena, penulis pun pernah ngamen alias pernah menjadi mahasiswa yang ngamen.

Walaupun bukan untuk acara konser – konser, tapi sekedar cari danus atau untuk sosial. Tapi, tertampar rasanya karna disebut “Pengemis Intelektual” dari seorang waria. Dari yang Tamara bilang.

Bahkan seorang  Tamara pun mengakui jika aktivitas itu adalah aktivitas “pengemis”. Ini bukan kata penulis, tapi Tamara. Penulis hanya menyampaikan. Karena ternyata saat ku Googling, waria yang bernama lengkap “Tamara Jalan Raya” tak sekali saja menyampaikan pesan ini. Beberapa ada artikel yang memuat cerita yang sama persis. Oleh karena itu, berdosa rasanya, beban moral rasanya, jika… pesan indahnya ini tidak kusampaikan atau tidak kutulis ulang.

Jika kita renungkan, Tamara menyebut  pengemis intelektual atau mahasiswa cerdas yang bermental pengemis itu sangatlah wajar baginya. Bagaimana tidak? Mahasiswa yang notabene seorang yang memiliki intelektual lebih, mempunyai skill berlebih, jaringan yang lebih luas, kesempatan yang besar dan menyebut dirinya agent of change lebih memilih mencari uang dengan mengamen.

Entah untuk tujuan acara apa mengamen itu. Entah danus, charity atau bahkan untuk mengadakan acara konser musik yang membutuhkan dana besar tapi minim manfaat dan habis hanya dalam semalam itu.

Karena mereka mahasiswa yang mengamen itu diibaratkan mengambil lapak orang lain yang kadar skillnya hanya itu, disadari atau tidak. Mengambil ladang rezeki orang lain seperti Tamara bilang. Seperti pengemis dan pengamen yang lain tergusur dan tercuri lapaknya dari orang – orang yang seharusnya bisa melakukan aktivitas  yang lebih intelek.

Tak mengapa mungkin mahasiswa mengamen jika tidak ada alasan ini. Tapi apapun alasannya sekarang, Tamara benar, mahasiswa seharusnya bisa mencari uang dengan cara yang sesuai tingkat skill dan intelektualnya. Dan sekali lagi Tamara benar, ini bukan masalah skill dan intelektual, tapi mental.

Aku pun heran, bagaimana seorang waria bisa berpikiran seperti itu.

Ah, mungkin kita, khususnya aku, terlalu dibutakan dengan “kemasan” ketimbang bisa jernih melihat isi atau esensi dari sesuatu. Terlalu sibuk melihat cover daripada isi bukunya.

Kita mungkin pernah atau cenderung sering, merasa terganggu jika pengamen atau pengemis datang. Sehingga memberi uang sebagai niat untuk mengusir bukan untuk bersedekah. Atau bahkan cuek, membuang muka dan memasang ekspresi kuburan. Dingin, tak ada senyum.meme

“Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya!. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Q.S Ad – Dhuha: 10-11)

Atau bahkan sampai menghina atau menghardiknya? Entah hanya dalam hati atau sudah sampai aktualisasi, sekali – sekali jangan lakukan  itu.

Untukmu Para Dermawan

Jika ingin menolak, tolaklah dengan lembut, sembari senyum melihat wajah mereka. Walaupun memberi mereka uang itu lebih baik.sedekah

Lalu bagaimana jika yang meminta –minta itu karena malas untuk berusaha lebih? Sehingga menjadikan aktivitas pengemis itu sebagai pekerjaan tetapnya?

Bukankah tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah? Tidak akan berkurang kok, kemuliaan dari seorang dermawan, walaupun sudah banyak ceritanya, uang yang dikumpulkan pengemis – pengemis itu lebih banyak yang kita kira.

Prinsip dasar… apakah sedekah harus nunggu kaya? Tentu saja tidak.

Tidak ada yang menjadi miskin karena rajin sedekah.

Jika kita khawatir sedekah kita tidak memandirikan atau memberdayakan si miskin, salurkan pada lembaga kemanusiaan atau lembaga amil zakat yang kita percayai. Tentu saja nilai donasi seharusnya lebih tinggi daripada nilai uang yang biasa kita kasih pada pengemis langsung. Sedekah langsung iya, disalurkan ke lembaga kemanusiaan pun iya. Itu yang terbaik bukan?
Yang jelas, intinya jangan berhenti sedekah dengan mencari – cari alasan.

Kenapa harus bersedekah?

Sesuai dengan ayat yang kukutip. Salah satunya agar kita bersyukur. Saat sembari bersedekah, kita melihat kepada yang meminta – meminta itu, agar kita sadar dan bersyukur, bahwa kondisi kita lebih baik dari yang kita lihat itu. Entah dari ekonominya, fisiknya, intelektualnya ataupun mentalnya.

Bukankah dengan bersyukur kita menjadi merasa cukup nikmat, tenang dan bahagia?

Untukmu Tamara

Good Job Tamara!4939proxy

Terimakasih atas pesanmu. Kamu tidak hanya mengkritik, tapi juga memberikan solusi yang lebih baik dengan menyarankan mahasiswa membuat proposal sponsor.  Aku meminta maaf karena pernah menjadi “Pengemis Intelektual”. Kamu sebenarnya berhati baik dan peduli sesama. Kamu hanya kurang beruntung dan berada di lingkungan yang kurang baik. Semoga Allah SWT menuntunmu ke jalan yang  lebih baik.

Untukmu Pengamen Mahasiswa

Silahkan mengamen. Tapi apapun tujuan dan alasanmu untuk mengamen, pikirkan dulu mereka…

si miskin

Wallohu’alam

Abhy Hikmatyar

1 Februari 2015

PENTING UNTUK DIBACA !!
Penulis tambahkan beberapa point untuk digaris bawahi untuk pembaca hehe, stelah baca koment2 luar biasa dibawah :

  1. Tulisan ini bersifat himbauan/ajakan/nasihat bukan kebijakan ya… penulis sama sekali TIDAK MELARANG mahasiswa untuk mengamen.
  2. Jika ingin protes, langsung ke tante Tamara ya, bisa dikasih “elusan maut” juga hehehe
  3. Plis, jgn menggeneralisir dan terlalu cepat menyimpulkan. Penulis tidak bilang semua mengamen itu sama.Tentu berbeda-beda tergantung tujuannya, caranya, oleh siapa, tempatnya dimana dll. termasuk pengemis dll. Apa yg dilihat penulis dan Tamara berbeda dg apa yg dilihat dg teman – teman semua.
  4. Jangan bawa SARA!
  5. Baca sekali lagi dengan hati tenang dan damai. hehe

113 thoughts on “Nih, Pesan Buat Loe Mahasiswa Yang Suka Ngamen!

  1. Well-written blog. Like this so much.
    Memang kita tidak bs melihat sesuatu dr satu sisi saja, namun dalam kasus ini saya rasa poin Tamara TAK TERBANTAHKAN lagi. Semoga tulisan ini bs menjadi sumber inspirasi bagi adik2 mahasiswa.

    • Acara dengan konsep tidak jelas ?
      proposal ditolak kenapa ?

      pelajarannya apa atas kegagalan tersebut ?

      Lihat Market,
      proposal disetujui bila market dan nilai yg jelas.
      ada keuntungan signifikan bagi donatur pasti di setujui !!
      kecuali perusahaan bapak anda

      Marketnya Mahasiswa,
      1. bikin proposal cuma utk minta dana, PASTI GUGUR !
      2. bikin proposal, donstur cuma dapat umbul-umbul. Pasti Gugur !
      3. Bikin proposal, donatur cuma dapat kursi paling depan, PASTI GUGUR !

      Apa sih Value dari proposal tersebut ?

      Plan A = proposal
      gugur

      harus ada plan B, C, D, dan E.

      Minimal ada 5 sumber keuangan

      Ngamen, tetap tidak bisa dijadikan alasan.
      Thanks

      • Setuju kang, plan cadangam memang sangat diperlukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bakal terjadi.
        Kita perlu berfikiran idealis, tapi idealis yang realistis mungkin sangat tepat di terapkan🙂

        HIDUP MAHASISWA!!

    • Saya pernah mengadakan acara,
      mengajukan proposal untuk makanan discount.

      Plan A
      proposal ditujukan kpd siapa ?

      Yg didapat hanya uang senilai 500,000 saja oleh perusahaan makanan..

      Kenapa bgitu?
      karena perusahaan tersebut tidak punya TARGET MARKET MAHASISWA
      atau TARGET MARKET dengan demografi usia remaja, pendidikan tertentu, dsb.

      Jangan lupa, angka 500,000 Itu kotor.
      bersihnya hanya 320,000
      Kok, bisa?
      karena kami ada perjanjian,
      kami beri kontribusi berupa promosi melalui media umbul-umbul.
      atas dasar kontribusi tersebut, mereka menyetujui proposal tersebut.

      Plan B
      kontribusi untuk donatur ?

      * promosi melalui media umbul-umbul, media cetak, dsb.
      * Promosi lanjutan bisa voucher makanan utk Resto ABC yg sangat digandrungi remaja/mahasiswa
      * tiket wisata
      * voucher belanja toko buku Gr…..a

      Plan C
      bila ada peserta internal, siapa yg anda undang dari pihak luar?
      * Mahasiswa univ. Lain nya…
      * umum
      * dosen
      * …….

      terakhir,
      berkoordinasilah dengan mahasiswa/dosen Marketing anda
      agar proposal anda disetujui perusahaan.

      GOOD LUCK

      Note:
      anak SMA kesatuan bogor sudah bisa membuat proposal
      dan disetujui

  2. sebenernya mahasiswa itu ngamen karena udah mentok deadline acara, proposal bnyk yg ditolak, tiket udah kejual,dana blm nutup, jualan makanan jg blm nutup dana, makanya pada ngamen < pengalaman dulu pas ada acara trs dana kurang

      • IMHO mungkin itu kalau pemikiran mas dimas itu seperti orang yang udah punya duit terus pengen beli sesuatu mas dimas. kalau setahu saya ya kita harus membuat plannig dulu. merancang bagaimana acara kita akan buat. karena kalau mengumpulkan dana baru buat acara itu jadinya kita ngajuin proposalnya dalam rangka apa? siapa juga yang mau mendanai acara tidak jelas secara konsep dan lain sebagainya.?
        kalau mahasiswa apa iya bisa mengumpulkan dana sebanyak itu? menurut saya memang mengamen bukan jalan tebaik. namun bisa menjadi opsi terakhir.

      • Mahasiswa kadang terbatas mas…
        nungguin duait ada trus bkin kegiatan….jadi acaranya buat yg berduait aja dong…

        dengan mengamen demi menutupi dana yg kurang…
        saya rasa itu lebih berbobot lagi…
        ada usaha lebih untuk mencapai target yg ada.

        pandangan saya dengan tulisan di atas, saya setuju2 aja…
        tapi tidak sedikit dari mereka (mahasiswa) yang mengamen itu adalah dari hati dan jiwa mereka yg emang beneran dia sangat suka dengan seni yaitu musik.

      • Acara dengan konsep tidak jelas ?
        proposal ditolak kenapa ?

        pelajarannya apa atas kegagalan tersebut ?

        Lihat Market,
        proposal disetujui bila market dan nilai yg jelas.
        ada keuntungan signifikan bagi donatur !!
        kecuali perusahaan bapak anda

        Marketnya Mahasiswa,
        1. bikin proposal cuma utk minta dana, PASTI GUGUR !
        2. bikin proposal, donstur cuma dapat umbul-umbul. Pasti Gugur !
        3. Bikin proposal, donatur cuma dapat kursi paling depan, PASTI GUGUR !

        Apa sih Value dari proposal tersebut ?

        Plan A = proposal
        gugur

        harus ada plan B, C, D, dan E.

        Minimal ada 5 sumber keuangan

        Ngamen, tetap tidak bisa dijadikan alasan.
        Thanks

      • Sebenernya kalau bijak, mahasiswa tidaklah mengamen jalanan seperti itu. Cerminkan pada diri sendiri, apakah kita mengapresiasi para pengamen yang lewat dengan diberi senyuman,sorakan,ikut meramaikan? atau hanya memberi uang tanpa menunggu lagu habis,tanpa memberi senyum sapa? Kita tentunya tau,mengamen seperti itu sama saja dengan mengemis,karena pada dasarnya tidak memberikan audience sebuah kenyamanan. Berbeda lagi dengan ‘mengamen’ di cafe atau taman,dengan alat lengkap dan bisa menghidupkan suasana disekitarnya. Mohon kita pertimbangkan lagi keputusan untuk mengamen itu.

        Sebenarnya kalau kita lebih bijak mencari celah, kita bisa menaruh uang anggaran yang sudah cair untuk event tsb ke pasar saham, dengan rekening saham salah satu panitia. Selain itu, carilah lembaga-lembaga sosial yang besar, seperti Rotary. Mereka seringkali memberi suntikan dana untuk acara acara yang sejalan dengan bidang garapannya. Selebihnya, kita bisa membuat acara2 kecil dengan orientasi profit, bukan sekedar realisasi yang tidak menghasilkan apa apa selain piala dan sertifikat peserta, sekedar contoh, saya dulu anggota OSIS di SMA, kami membuat acara2 yang berprofit (olimpiade akademik dan non-akademik) sebelum mengadakan pentas seni , hasilnya, kematangan persiapan pentas seni jadi bertambah pesat,kami tidak perlu bingung mencari dana ‘kepepet’ sana sini, karena sudah ditutupi oleh sponsor dan donatur.

        Begitulah pesan dari aku. Ketika pemerintah berkampanye untuk tidak memberi uang kepada pengemis agar menghilangkan mental-mental mengemis, mengapa para intelektual, agent of change ini menciptakan mental-mental kecut? Sungguh deh, mengamen itu tidak ada manfaatnya,hanya buah dari kebuntuan kita yang mencari-cari alasan untuk bekerja lebih keras.
        Kalau masih saja beralasan ini itu terkait masukan saya diatas (ex: taruh uang di pasar saham beresiko) untuk apa kalian masuk perguruan tinggi, mempelajari ilmu-ilmu rumit kalau kalian tidak bisa memanfaatkannya untuk survive dalam situasi terdesak? Tolong dipikirkan kembali keputusan ngamen itu.

        Salam.

    • ente aneh, serius aneh pola pikirnya, kalo gak ada uang yah udah gak usah bikin acara, makanya kalo mahasiswa HM/BEM mau bikin acara yah diplanning dulu lah, dicari uangnya jauh2 sebelum acara. Ane 2 tahun jadi anak HM dan BEM bikin acara gak pernah ampe ngamen kaya gitu, soalnya karena emang udah diplanning jauh2 hari (1 tahun sebelumnya bahkan kita planningnya)

  3. Abhy, tulisanmu keren. Tahun lalu aq juga pernah ketemu Tamara, dan kami ngobrol lama banget. Jujur saja, aq kagum dengan pemikirannya tentang hal-hal yang kamu sebutkan. Malah dia juga bilang suatu hari nanti ingin membuat buku yang berisi kisahnya dan teman-teman lain yang mencari uang di jalanan. Menurut ku itu bagus, karena Tamara tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan juga dia memperhatikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Salut.

  4. What a great post guys.
    Dimana ketika kebutuhan kita akan euforia bisa menggelapkan mata akan realitas sekitar kita

    Ps: pasti yg pernah di colek tamara ngerti deh :v

  5. gimana dengan mahasiswa yang passion di bidang musik? apakah tabu mencari dana dengan mengamen yang hasilnyapun untuk disumbangkan dengan mereka disana?

    • menurut aku, pahami konteksnya, apa ya iya mahasiswa dengan passion di bidang musik akan ngamen dari toko ke toko, rasanya tidak pas, dengan sebutan atau status “mahasiswa”. Mahasiswa kan punya banyak network, punya banyak link ke sesama mahasiswa laen, ada ukm, ada himpunan,mahasiswa jurusan, tempat tempat itu juga akan memfasilitasi mahasiswa sesuai dengan bidang dan passionnya, tinggal sampaikan, jika sesuai dengan tujuan atau goals kepengurusan atau tidak, atau jika memang tidak bisa, bisa disampaikan ke bem nya, atau cari kafe kafe , dan mengadakan kerjasam untuk buat cari dana untuk disumbangkan ke mereka, intinya jangan mengambil lahan yang sudah menjadi milik mereka apapun alasannya :))

    • temen2nya saya anak musik uny ama isi biasanya sih lebih milih manggung kecil2an di auditorium ..dan biasa yang passion musik itu jarang mau dibayar klau emang gk butuh2 banget… lebih ke nyari pengalaman…

      masalahnya disumbangkan ke mana… apakah di tempat mas lagi ngamen?kalau tidak ya sama saja..bantu satu merugikan satu..
      contoh..

      mas ngamen di tempat x… dan membuat pengamen di tmpat x tidak bisa ngamen disitu.dan mas ngasih uangnya ke buat orang yg memerlukan di tempat y..
      ya sama aja..bantuin y..tapi x nya kasian..gituloh..

    • Ya seenggaknya jangan ngamen di jalanan / emperan. Kan bisa cari lapak yang lebih elit, kayak di cafe atau di car free day atau event2 apa gitu. Sisi bagusnya juga kalo udah disitu, terpaksa pake alat musik lengkap, skill bagus. Gak alat musik sebiji, nyanyi keroyokan 1 suara, separonya fals pula.

      Kalo emang passion di musik harusnya sih punya banyak koneksi, gak susah nyari tempat kek gitu.

    • Ya, kan bisa dilihat ngamen buat apa. Toh, pemuda2 tadi juga bikin tulisan dikotak “dana untuk acara…”. Kalo emang passion dibidang musik, mainnya ga cuma lagi butuh aja kan?🙂 kalo emang punya keahlian dibidang musik, benar kata Tamara cari jalan yang nunjukin mahasiswa banget. Misalnya nyanyi di cafe. Biasanya cafe2 tuh seneng loh ada yang mau nyanyi di tempatnya (pengalaman). Dan untuk bayaran bisa diajuin proposal atau bargain kalo cuma cafe kecil. See, mahasiswa banget kan? Hehehe

  6. oke gw akui sebagai mahasiswa di suatu perguruan tinggi negeri Semarang, tulisan ini emang bagus dan sesuai fakta..
    tapi menurut gw mereka tidak mengambil kesempatan para pengamen lain.. kenapa?? mungkin pengamen berpikir karena ada mahasiswa yg mengamen disitu maka jika pengamen beneran ngamen di tempat itu tidak diberikan uang..

    TETAPI pernah ga kalian meninjau diri kalian sendiri? kalian menyumbang pengamen yg mahasiswa atau yg bener2 pengamen itu karena apa? karena iklas 100% ?atau karena tau tujuan pengamen itu?
    gw tau setiap orang yg mau nyumbang pasti berpikiran akan enggan nyumbang ke pengamen beneran, karena besok dan seterusnya pasti datang lagi dan terkesan memaksa, tp klo pengamen mahasiswa, kalian lebih iklas nyumbangnya karena tujuan mereka jelas.. ga seperti para pengamen beneran itu
    meskipun ada beberapa yg murni iklas tanpa memandang..

    jadi tolong jgn berpikir pengamen mahasiswa mengambil lahan pengamen lain..
    karena org yg nyumbang pasti ga semuanya iklas menyumbang tanpa memandang tujuan dari ngamen itu..
    gw sendiri kadang ngasih uang ke pengamen/pengemis klo lagi ada kemauan aja dan itu gw lakuin bener2 iklas atau terkadang juga mikir2 dan ga gw kasih… tapi klo ke pengamen mahasiswa gw ga kasih uang logam..selalu uang kertas (mohon maaf bukannya sombong) itu gw lakuin karena gw tau TUJUAN dari pengamen mahasiswa dan itu sangat jelas..
    sekian yg ada di pikiran gw

    • simpelnya gini ya, apa bedanya mahasiswa sama pengamen kalo gitu ? apa cuma ditujuan aja , terus lo setuju sama mereka ngamen gitu ? jadi jauh jauh di sekolahin, sampe universitas lo ngamen dan bersaing sama orang yang enggak punya pendidikan ? Hell-o ?

    • “mereka tidak mengambil kesempatan para pengamen lain..”

      mngkin adek harus sering2..sharing crita ama orang pinggiran..atau ngikutin mreka ngamen seharian atau dua hari…biar tau apa maksudnya mengambil ksempatan pengamen lain…

      • Samuel samuel anak mana kau ini konyol kali kau, koment panjang panjang tapi isi nya nol. Cocok lh kau jd pengemis intelektual hahah

    • point of viewnya gimana ini ko kacau dek -.-… tetap saja kan pengamen lain tergusur atau bahkan tidak dapat sama sekali pada saat ngamen karena ada mahasiswa di lapaknya. ini bukan tentang siapa yang tujuannya benar / salah melainkan tentang rizki

  7. Nice post, TAPI msih byk sangakalan yg dpat di lontarkan, tergantung ngeliat dr mna perspektif nya. Just don’t do it if you think it’s not deserve to do. Then do it when you think it’s worth to fight for something great. Haha

  8. “MAHA” siswa kok ngamen..
    simple sih, tapi kalo mau dirunut panjang banget tuh, mesti mikir..hehehe
    keren nih, kalo tamara bikin buku ane beli dah…sip

  9. Abisnya bikin acara yg ga bisa menarik minat untuk perusahaan mendanai. Udh tau gitu, diulang ulang pulak dari tahun ke tahun. Ketika saya tanya “kok bkin ky gini terus2an sih?” rata2 jawabnya “disuruh senior” “emg dr dulu selalu ada acara gini” dan alasan2 super klise macem “krn acara ini mengharumkan indonesia”.

    Sekedar saran aja sih, buat acara yg memang mengembangkan potensi kalian, juga berpikir realistis mengenai dana, pikirkan juga tentang efisiensi pencarian dana, kira2 perusahaan banyak berminat atau tidak. Klo memang tidak perlu bikin acara ya gpp, jng krn dulu ada, sekarang harus ada. Klo memaksakan ya jadilah fenomena ngamen ini..

  10. saya mahasiswa.
    saya seniman musik.
    mahasiswa ngamen buat donasi. jujur nih ya.. saya justru mengejek kalian mahasiswa yg nglakuin hal itu. kenapa ? bikin berisik, bikin macet jalan, ganggu kenyamanan, ngambil lahan makan orang kurang mampu.

    bisa nalar kan ?
    sekolah tinggi” tapi ga’ nalar.
    sangumu po kurang seko pakmu makmu ????
    kalo niat donasi ki yo niat. sponsor kurang yo inisiatif urunan seko duetmu dewe…
    pake alasan donasi.
    donasi po ngapusi ?

  11. Acara-acara itu untuk apa sih sebenarnya? Belajar saja lah, kuliah kan utamanya memang belajar. Ilmu dari bidang masing-masing saja masih setengah-setengah dimengerti… Sok bikin acara. Yang akan mengharumkan kampus itu bukan suksesnya acara kalian, tapi saat kalian berhasil menjadi orang yang BENAR-BENAR berilmu, maka hal itulah yang membuat kampus bangga. Cukupkanlah diri ini dengan belajar sesuai bidangnya masing-masing. Tak usah membuang waktu belajar dengan mengurus acara-acara yang malah memalukan kampus dan almamater.

    • Sepertinya anda harus lebih memahami arti mahasiswa, kalo cuman hanya belajar anak SD pun bisa, bahkan anak SD pun belajar sambil bermain

      Hidup mahasiswa!

  12. Ketika banci lebih bernalar & kritis dibanding mahasiswa.

    Di kampus saya sampe ketauan ada yang ngamen di jalanan pakai nama kampus, bisa langsung di sidang lalu DO.

    • Sama, kampus gw juga ngelarang untuk ngamen di jalanan, biasanya anak SMA sih di kota gw yg sering ngamen untuk acara.. kalo mahasiswa biasanya danus baju bekas dll pokoknya puter ide banget deh gimana caranya dapet duit tanpa ngamen entah itu bikin workshop dll atau jual tiket atau apaa gitu haha

  13. sebenarnya mengamen itu dilarangan saudara2 kalau setahu saya. jadi lebih baik tidak memberi kepada pengamen. banyak pengamen/ pengemis yang meminta2 di suatu tempat dan menetap. kalau tidak dikasih akan terus disitu. itu malahan seperti preman saja yang minta jatah tiap harinya.bener juga kata TS nih. IMHO saya lebih suka menyisihkan sedikit uang saya untuk orang yang mau berusaha. misal jika ada nenek2 sudah tua dan kita merasa kasihan karena dagangannya belum terjual maka saya lebih suka menyisihkan uang saya buat membeli apa yang ia jual. karena itu akan lebih mendidik sekaligus membantu dia.bukan hanya mengemis/ mengamen. untuk yang terbiasa memberikan uang kepada pengamen/pengemis maka lebih baik ditabung dulu uangnya. kalau sudah dirasa cukup bisa diberikan di tempat penggalangan dana sosial. kalau memang dirasa orang itu sangat membutuhkan mungkin kita bisa mengajaknya berbicara dan membantunya sebisa kita.tangan diatas memang lebih baik, namun memberikan kepada orang yang tepat akan menjadikannya barokah . tidak perlu menunggu sampai ia meminta2 bila kita memang ingin membantu seseorang.oiya soal tamara. kenapa dy kalau enggak kesusahan uang harus mengamen ya?
    sebagai mahasiswa seharusnya kita ikut mengentaskan kemiskinan di negeri kita ini.mari bersama kita berusaha bersama2😀 . oiya saya salut kepada para pencetus ide sedekah di Indonesia. semoga tujuan awalnya tercapai ya.. aminn.. HIDUP MAHASISWA INDONESIA

    • mungkin dia juga mahasiswa S2 atau apalah baru neliti obyeknya “pengemis” dan “mahasiswa” broh…. makanya di akhir tadi beliau pengen nulis buku kan? jangan-jangan….. thesis hahahahaha

  14. yeah, stlh liat komen2 dibawah sih gw jd pengen ngasih curcol. em, sjjrnya apapun alasannya gw gak se7 ama ngemis. karena ngemis itu indikasi males (baca:pengemis dijlnan). mau itu ngejar deadline, ato kas gak nutup itu smw salah. Why? karena ngemis kyk gitu cmn buang2 uang, kasihan ortu yg cari duitnya susah payah, anaknya nyumbangin duitmya cmn buat dihambur2in. (konser, ato apalah) . emang sih itu buat kreatifitas, Bisa kok, tinggal bgaimana manajemen wktnya harus diperbaiki lagi. yg penting jangan sampe ngelibatin org yg ga ada kepentingangannya. solidaritas? it’s ok, selama tuh ngamen itu bermanfaat bagi orang banyak bukan cmn bwt golongan2 tertentu n berakhir tnp menimbulkan kesan positif. contoh bencana alam, anak yatim dll. lagian jg banyak jg mahasiswa yg kalo mw nyumbang jorjoran kalo tuh dana buat konser, tp kalo buat bencana banjir or tanah longsor masi pasang ekspresi kuburan, sbagai mahsswa kita harus memberi contoh cara berpikir yg baik . ini cmn opini gw aja, , y krn setiap org pny pandangannya masing2 ..kalo emg mw ngamen, ya mending ngamen2 yg keren lah sekalinya kasih penyanyinya yg ganteng n alat musik yg agak lengkap (icik2 juga boleh) jd kaya ditanggep gitu . itu kan bisa dianggap sbg biaya buat jasa, jd gak sia2 ngeluarin uang. heheu. yg jelas ini opini bukan buat menghentikan kreatifitas anak bangsa. masak gak malu ama om tamara. saran sih planning harus disesuaikan dengan budget. memang sih ini sepele, tp sbgai anak bangsa kita harus bisa mengubah mindset qt macam hal2 beginian bro, kalo ini berlanjut gimana? malu vroh #gaknerimakomenbalesan

  15. Kalau dilakukan dengan sungguh2, knp malah dihujat? di luar negeri banyak pengamen jalanan baik nyanyi, atraksi, dsb, fine aja. Tp mereka bener2 punya skill, serius, bukan cuma mau ganggu orang dan berharap dikasih uang agar pergi. Bedanya pengemis sama jualan skill walau di jalan ya itu, punya skill ga? serius ga? Klo cuma blh manggung di cafe dan tempat2 tertentu, emang semudah itu? emang yg punya cafe ngijinin? emang g ganggu penyanyi cafe aslinya? emang bs setiap saat?
    Dan banyak pengemis yg terorganisir, bahkan bs bangun pabrik dan punya bbrp rumah krn “berprofesi” pengemis. Bayi2 dikasih obat bius agar g rewel selama “jam kerja” mengemis, anak2 usia sekolah diarahkan untuk mengemis drpd sekolah, dikasih kerja penyapu taman tp ngelunjak minta gaji besar (kasus di bandung). Hal2 gitu didukung? yg bener aja! Klo ngasih harus lihat2, kita dikaruniai pikiran bukan untuk disia2kan hanya karena sekedar tangan di atas lbh baik dr tangan di bawah. Bedakan orang menipu memanfaatkan rasa belas kasihan dengan org yg benar2 membutuhkan. Kalau kita ragu dalam menilai, msh gpplah ngasih.
    Sudah bener yg diutarakan di bbrp komen di atas, drpd ngasih pengemis, mending beli jualannya org2 yg susah tp msh niat berjuang, supaya pengemis2 itu sadar dan lbh milih berusaha. Atau dikumpulkan dan kasih panti asuhan dsb, mereka yg benar2 membutuhkan dan sedekah anda lbh berarti krn jelas.

    • Oo, jadi kalo ada hal susah itu lebih baik dihindari ya? Kok gini amat ya mahasiswa sekarang, pantes jual beli nilai & skripsi makin laku. Ada hambatan tantangan bukannya berjuang malah dihindarin.

      Lo ngambil lapak pengamen jalanan berarti secara langsung lo menempatkan diri selevel dengan pengamen jalanan yang pendidikannya gak jelas. Selevel dengan pengemis malas terorganisir kayak lo bilang. Selevel dengan Tamara.

      Mahasiswa itu secara pendidikan. pola pikir, dan nalar jelas lebih tinggi, Lalu cara nyari duitnya sama dengan orang2 yang lo jabarin panjang di paragraf 2 lebar diatas. Coba etis ngga?

  16. (*tepuk tangan)…ternyata sudah pada kemakan omongannya tamara ya,,,
    Yahhh…begitulah hidup, begitulah kenyataan, apa yang kamu dengar belum tentu semerdu suara rekaman, apa yang kamu lihat belum tentu seindah lukisan, semua orang punya hak yg sama bersuara walau tak seirama…begitu juga tamara, begitu juga penulis blog ini, begitu juga saya, semua orang bebas berfikir sesuai pemahaman dan kapasitas otaknya,
    Kalo cuma ngamen saja menjadikan debat kusir semacam ini, atas benar dan salah, baik dan buruk bagaimana kalian bisa mengakui diri kalian berintelektualitas tinggi, bijaksanalah dalam berfikir…kalo menurutmu cara berfikir tamara itu benar ya silahkan (hla wong deknen dadi lanang wae gagal), hidup itu pilihan, mau jadi pengamen…mau bikin proposal…mau jadi pengemis…mau korupsi…mau jadi waria…semua itu pilihan, dan setiap pilihan pasti ada konsekwensinya. intelektualitas bukan segala galanya untuk dijadikan parameter baik dan buruk, benar dan salah.
    Jadi silahkan memilih berpikir dulu baru melakukan atau melakukan dulu baru berpikir kemudian.
    Selamat mencoba… 😊

  17. greget banget gan Postingnya, mahasiswa harusnya tu berfikir lebih luas untuk mencari dana acara mereka. paling di tambah lagi paling benci kalau mahasiswa ngemis ngemis di lampu merah sambil bawa kota bertuliskan peduli &^$%^$^*, kalau mereka memang mahasiswa harusnya mereka bisa mencari dana dengan cara jual makanan di sekitar kampus, atau sponsorship, yang pasti memang harus dari usaha kita sendiri, bukan hasil dari meminta-minta ^-^

  18. Haha gw dulu juga waktu mahasiswa pernah ngamen 3x buat cari dana krn disuruh juga tapi itu klo acara kita kurang menarik soalnya sponsor itu males kalo ngasih acara gak mutu (pernah diusir😦 pas minta sponsor) apalagi macam konser2 itu…tapi klo acara seperti baksos, donor darah dll yang berguna buat masyarakat sponsor pasti ngasih.so ngamen itu lebih baik gak usah soalnya bikin jalan penuh,org lain juga gak nyaman, mending kalo bagus kadang ada yg kacau pun suaranya hahaha.buat adik adik mahasiswa yang sekarang gw harap bisa lebih kreatif dan cerdas jgn sama kayak yg dulu-dulu,itu tandanya loe gak maju padahal zaman dah berubah klo zaman gw dulu mahsiswa yg ngamen bisa diitung pakai jari paling 1 atau 2 kampus apalagi gw kuliah di jogja yg dimana mana kampus (ketahuan deh dah tua haha) so adik adik ayo kreatif dikritik biar lebih maju ya selamat kreatif

  19. Nice banget ini blog. Bagus bahasannya. Tapi setelah baca komentar-komentar sebelumnya, ada beberapa sih yang masih janggal.

    Share pengalaman sedikit, gue emang bukan orang yang pernah main atau pergi ke luar daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Jadi gue gak tau kondisi disana kayak gimana.
    Jadi begini, gue mahasiswa di sebuah kampus di daerah Jakarta. Dan, anak kampus gue juga suka ngamen, suka bikin acara, cari-cari dana sosial. Tapi, selama kuliah disana belom pernah denger yang namanya ngamen ke jalanan. Gak salah emang ngamen-ngamen gitu, tapi liat lokasi. Jangan ngamen di tempat yang banyak pengamen atau pengemnisnya. Gue akuin emang, kalo udah ngasih satu males ngasih yang lain. Disini biasanya nanti dateng lagi yang lain, dan jangka waktunya gak sampe satu menit.

    “mereka tidak mengambil kesempatan para pengamen lain..”
    Apaan nih? Kenapa tante Tamara bilang -ngambil rejeki pengemis lainnya- yang seharusnya emang rejeki si pengemis? Orang mau ngasih juga pasti liat kantong, apalagi kalo yang dimintain mahasiswa yang nge-kost. Belom tengah bulan udah makan mie terus, hehehe

    Balik lagi ke awal, mahasiswa ngamen ya bener juga komentar sebelumnya. Lihat tujuannya untuk apa, untuk bansos ya alhamdulillah jalannya dimudahkan. Untuk konser-konser yang… berkutip… Kerja keras. Kalo bisa, cari sponsor dari 6 bulan sebelum acara. Jadi gak ada alasan lagi buat mahasiswa ngamen dijalanan. Terus kebiasaan di kampus gue emang ngamen buat cari dana, ada salah satu UKM cari dana lewat ngamen. Tapi, ngamennya di kampus, minta dana talangan ke mahasiswa lain -yang gak tau acaranya untuk apa dan kayak apa, udah gitu gak dateng pula-. Kan kalo begini gak ngambil rejeki orang (baca: pengemis & pengamen), kalo bisa marketinginnya, juga bisa dobel dapetnya: donasi dan tiket. Kampus gue juga bukan kampus orang kaya dan bukan kampus papan atas. Semoga bermanfaat, terima kasih.

    —————————————————
    Lihat masalah dari berbagai sisi, telaah, pelajari, dan pahami.

  20. kalo ngeliat acara kampus skarang kayanya esensi ngundang band terkenal aja buat narik massa. esensi acara juga gak ada/gak dapet.

  21. Nice post…. Emang sering kepikiran n sedih sich klo ngeliat MAHA siswa ngamen… Seperti ngga ada cara lain aja… Krn klo di biarkan… Akan menjadi kebiasaan dan membentuk mental peminta2… , Tapi… Setiap orang punya perspektif yang beda2……, benar dan salah juga relatif… Hehe..

  22. Lanjutkan .. nice post lah.jd buat perenungan bi.. semuanya kembali pada pilihan.

    dan utk masalah donasi utk *&^%.. itu beda ya mas nya (yg komen di atas) ini bukan ngamen.🙂 tp ajakan untuk memberi. titik. salam damai🙂

  23. inspiratif banget tulisannya
    bersyukur juga belum pernah ngamen ngamen kayak gitu, mending jualan baju bekas “ngawul”

  24. Dari tingkat 1 sampai sekarang (jangan Tanya ya tingkat brapa) hehe,.. Paling males kalau Ada ajakan ngamen Dari senior atau temen… Dlu aja waktu Mau KKN untuk menghindari ngamen aku ngasih opsi jualan Bunga.. Meski mirip setidaknya gak begitu mematikan pengamen yang asli… Btw, salam ya buat jeng Tamara… #eh

  25. Kalian itu didik untuk jadi penerus bangsa wahai Mahasiswa. bukan jadi seorang pengamen coba kalo orang tua kalian tau kamu disana jadi pengamen gmna tanggung jawabmu untuk orang tua?? yang mahasiswa dateng dari jauh ada yang dari kalimantan sumatra bali sulawesi disini kuliah di semarang cuman jadi pengamen???? Sungguh memalukan .maap kalo ada yang kesindir

  26. “jangan nyalahin aja dong, kasih solusi kek” –> solusi cari dana kegiatan selain ngamen?
    nih : jualan, mo jualan makanan (donat, jeco, roti, dll), jualan bunga, jualan kaos, atau jualan jasa (ngelukis wajah, bikin web, dll)
    kalo masalah dana kurang udah mepet deadline, blablabla, ya kalian kurang benar manajemen waktu buat cari dananya, harusnya bikin plan cari dananya ga cuma satu, harus ada plan cadangan kalo plan utama ga berhasil (my true story)
    kalo ada cara lain, mengapa milih ngamen?
    kayak bukan mahasiswa aja~

  27. Mahasiswa ngamen itu bkn krn kurang dana, tp sebagai penambah dana, kan lumayan hanya dengan modal alat musik yg sbrp bisa dpt dana lumayan, padahal mahasiswa ngamen tu keluar tenaga dan bensin utk pergi ke tmpt ngamen. dan mahasiswa ngamen bkn sekedar nyari dana, tp brtujuan membuat para panitia acara (mahasiswa) tersebut lebih kompak. klo ngamen di cafe atau bawa alat musik yg agak elit itu kan ngeluarkan dana utk nyewa sound system dan blm tentu mahasiswa pny. krn gak semua mahasiswa pny duit lebih, kan ada yg ekonomi menegah ke bawah toh.

    Dan mahasiswa nyari dana bkn dr ngamen aja, nyari sponsor, danus jualan snack dan paket makanan, “ngawul” baju dan kertas bekas, barang bekas jual ke tukang botot, bahkan minta sumbangan ke orang tua, jualan bunga utk wisudawan, jualan pin universitas ke mahsiswa baru, jualan kaos, dan masih byk lagi semua nya dikerjakan.

    klo mengandalkan dana dr sponsor blm tentu semua sponsor berminat dan paling cuma bisa dpt brp persen dr total dana, krn pihak sponsor jg gak mau rugi dan harus ada untung ke mereka. untuk buat acara konser musik dgn ngundang artis bkn sekedar hambur” kan uang, tp ada tujuan yg mau dicapai mahasiswa seperti pengalaman berorganisasi atau kepanitiaan dlm suatu acara dimana itu diperlukan dlm dunia kerja, dan bukan hanya sekedar belajar di kampus utk dpt IPK tinggi dan lulus dpt ijazah.

    klo utk pengamen kita bisa liat dulu mana pengamen yg btul” ngamen atau cuma minta duit alias “malak”, byk pengamen skrg yg hanya sekedar dtg ke warung mkn, indomrt, toko, bahkan rumah/kos, mainin alat musik sbentar, nyanyi apa kita gak tau, dan para penghuni ngasih Rp. 500 langsung pergi ke sebelah dan trus lanjut sampe ujung jln, ibarat nya kyk preman yg minta jatah uang keamanan, tp berkedok pengamen.
    dtg gak permisi trus maksa minta duit, di kasih duit trus pergi gak blg trima kasih, gak di kasih duit malah menggerutu. dan ada yg udah di kasih duit yg ada, malah minta nambah, kan jelas “malak” tu.

    bahkan kita blm tentu tau tu pengamen emg beneran miskin atau hanya nipu orang. byk toh skrg pengamen/pengemis di kota, tp di desa atau kota lain ntah dmn dia pny motor, rumah yg layak, pny smartphone malahan seperti kasus kakek pengemis yg ketahuan bawa uang 27 juta di gerobak nya di dlm plastik. dan gak hanya di indonesia aja, di luar negeri jg ada sperti ini.

    bkn salah mahasiswa yang ngambil lapak org, wajar org lebih milih ngasih duit ke mahasiswa yg tujuan jelas, sungguh” berusaha, dan ikhlas menerima brp aja drpd ngasih yg gak tau beneran ngamen atau cuma “malak”. klo si pengamen mau dpt duit lebih, nyanyi yg bener bagus lah, pasti org juga ikhlas ngasih duit lebih, bbrp pengamen sperti itu pnh saya jumpai dan menguasai bbrp lagu barat dan daerah. kan keren

    memang tamara boleh kritik krn prihatin sama org lain, tp itu gak jd alasan utk melarang mahasiswa utk ngamen, pasti org ragu” ngasih duit ke tamara secara dia ngamen sperti itu. jd kesimpulannya kita POSITIVE THINGKING BROO, jeli dan pintar melihat situasi terhadap sesuatu. demikian sharing pengalaman saya, salam mahasiswa pengamen, Terima Kasih..

      • “Mahasiswa ngamen itu bkn krn kurang dana, tp sebagai penambah dana, kan lumayan hanya dengan modal alat musik yg sbrp bisa dpt dana lumayan,.”
        >> nah itu yg disebut mahsswa mental pengemis. pengen untung byk tapi minim modal dan usaha

        “padahal mahasiswa ngamen tu keluar tenaga dan bensin utk pergi ke tmpt ngamen.”
        >>> trus apa bedanya elo dg pengamen biasa??

        “dan mahasiswa ngamen bkn sekedar nyari dana, tp brtujuan membuat para panitia acara (mahasiswa) tersebut lebih kompak.”
        >>>masih byk cara keles, gak cuma ngamen. cari sponsor rame2 jg bisa ngebikin kompak

        “untuk buat acara konser musik dgn ngundang artis bkn sekedar hambur” kan uang, tp ada tujuan yg mau dicapai mahasiswa seperti pengalaman berorganisasi atau kepanitiaan dlm suatu acara dimana itu diperlukan dlm dunia kerja”
        >>> oi tong, yg dibutuhkan dunia kerja itu pengalaman pemberdayaan masyarakat bukan pengalaman ngundang artis!. daritadi lu alesannya utk pengalaman organisasi mahasiswa lah , panitialah, lu jg kudu mikir bikin acara jg utk manfaat masyarakat gak cuma mahasiswa nya sendiri doang. mahasiswa egois lu.

  28. Maaf, saya tidak setuju. Pada dasarnya mengamen itu apa? Menjual keahlian di bidang musik… meski kadang kadang keahliannya minim atau tidak ada keahlian sama sekali. Nah yang perlu dibedakan adalah tingkat keahliannya dan kemasannya. Menjual keahlian bermain musik ada banyak tingkatannya:
    1. Jadi Pengamen: tingkat keahlian bermacam macam, modal kecil sehingga tidak bisa menyewa tempat untuk konser. Dibedakan lagi menjadi 2:
    – pengamen elit: yang punya keahlian cukup dibidamg musik
    – pengamen mental pengemis: tidak ada keahlian dibidang musik, suara sember, lagu tidak jelas, Alat musik: tidak jelas
    2. Jadi Artis: tingkat keahlian tinggi, karena ada dana untuk menyewa tempat untuk konser.
    Sedangkan mahasiswa mahasiswa di tulisan di atas, yang pasti punya keahlian musik yang memadai, tapi belum punya dana yang cukup untuk membuat konser, BUKAN pengamen mental pengemis.

    Saran saya buat penulis:
    Jangan gampang terpesona dengan pendapat seorang waria. Kalau dia bisa mempengaruhi pendapat anda soal mahasiswa yang mengamen mempunyai mental pengemis… hmmmm…. gawat deh

    • Oh jadi kalo ada rakyat yang kastanya lebih rendah gak boleh didengerin ya? Waduh sombong amat, mental blocking sampe segitunya.

      Secara struktur frase emang salah “pengemis intelektual.” Tapi maksudnya gw ngerti, kaum intelektual yang mentalnya mengemis. Gua juga punya 2 kategori nih:

      Kategori 1 (penjual musik): Orang yang pergi ke konser / makan di cafe emang minta dinyanyiin lagu? Iya. Dikasih lagu? Iya. Minta bayaran? Iya. Maksa? Kagak. Artis/musisi disitu gak maksa kok kalo penontonnya gak ngasi duit (duitnya udah masuk lewat manajemen, professional). Penonton untung, musisi untung = jual beli.

      Kategori 2 (pengemis): Orang yang makan di emperan jalan, di restoran, emang minta dinyanyiin lagu? Nggak.. Tapi lo ngasi dia lagu? Iya.. Lo minta bayaran? Iya.. Maksa? Kadang2 (iyalah orang lagi makan diliatin 20 orang, gw lagi makan diliatin bapak gw aja udah gak enak)

      Bagi gw, gw setuju dengan Tamara, itu kategorinya udah ngemis, walaupun tujuannya mulia, tapi caranya tetep ngemis.

    • hah?!?! jelas-jelas yang gw liat mahasiswa pengamen itu cuma berdiri di lampu merah, nyanyi pake suara sember sambil ngomong “seribu aja seribu aja~”, itu yg namanya punya skill?!?!?!?!

      Mungkin anda harus liat sendiri “mahasiswa pengamen” yang dicontohkan admin seperti tulisan di atas.

  29. menurut saya kita harus melihat segala sesuatu dari dua perspektif, mahasiswa dan tamara. mungkin sejenak tamara benar, ataupun pernah terdengar cerita kalau ia mengamen untuk tujuan sosial, tapi menurut pendapat pribadi saya tamara pun sebenarnya merasa agak terancam pendapatannya dengan adanya pengamen mahasiswa tersebut. Menurut saya, mengamen itu tidak ada salahnya karena ada seni di dalamnya, maka mengamen pun tidak boleh asal asalan dan ada tatakramanya, suatu ketika saya pernah berada di suatu tempat makan dan ada rombongan mahasiswa yg perwakilannya meminta ijin pada pengelola warung saya untuk mengamen dan dibolehkan, ternyata mereka berbaris rapi, kalau tidak salah dari orange choir dan pernah pula dari psm teknik, dan ketika tampil pun mereka sangat bagus dan bukannya bete justru saya dan istri saya sangat mengapresiasinya. menurut saya, mereka ngamen karena pihak kampus kurang mengapresiasi bakat mereka, maka pihak kampus harusnya lebih mendukung, misalnya dana untuk kegiatan disupport. namun, pernah pula saya mengalami rombongan ngamen yang asal asalan, tidak nyanyi semua cuma jrang jreng tidak jelas. yg seperti itu harusnya jangan mengamen. ngamen itu harus bagus dan ada aturannya, yg bgamen yang bagus bagus aja lah hehehe.

  30. Maaf, saya hanya ingin berbagi dan barangkali bisa jadi masukan yang bermanfaat. Amiin_
    Oretan saya di bawah ini tidak dapat ditemukan dalam kurikulum dan tidak ada undang-undang yang mengatur. Jadi, maaf jika ada yang kurang setuju dengan pemikiran saya.

    Skema yang biasa saya buat ketika akan mengadakan kegiatan (kampus).
    buat proposal – ajukan ke kampus – ajukan ke sponsor/donatur dengan deadline dan target dana – jika dana terkumpul – plotkan dana sesuai proposal – jalankan kegiatan – evaluasi – selesai.

    jika dana belum terkumpul sesuai target sedangkan sudah deadline – kembali ke kampus untuk minta solusi (bantuan dana tambahan) – jika tetap tidak ada bantuan (kampus) – pakai “kebutuhan mengikuti dana” – jalankan kegiatan dengan dana seadanya yang lebih memainkan pesan akal. (otak lebih mahal dari sekedar uang bung).

    Poin – poin penting untuk mengadakan kegiatan :
    1. BANGUN TIM YANG SOLID.
    Yang saya alami, manusia akan membutuhkan manusia yang lainnya untuk saling membantu. Jika anda mahasiswa silahkan perluas sendiri makna poin ini.

    2. BUAT IDE KEGIATAN YANG KREATIF.
    Yang saya tau, semua yang tercipta oleh manusia di Bumi berdasarkan imajinasi (akal). Mariii.

    3. BANGUN RELASI DENGAN SPONSOR.
    Bagi yang pertama kali bikin kegiatan dan mengajukan proposal ke sponsor, jangan putus asa jika acara pertamanya kurang di lirik oleh sponsor, karena blm ada pembuktian kesuksesan acara, ketika bikin kegiatan selanjutnya jangan ragu untuk terus menerus mengajukan penawaran ke sponsor dengan dilengkapi data/dokumentasi kegiatan sebelumnya sebagai pembuktian. Sponsor akan melihat dari kerja keras yang telah kita bangun, walaupun entah kegiatan kita yang ke berapa sponsor akan melirik. Setelah dapat sponsor kecil ataupun besar, jaga dan rawat hubungan yang sudah terjalin (kepercayaan), sponsor = pembeli = raja. -pengalaman saya-

    Biaya mengikuti Kebutuhan? Kebutuhan mengikuti Biaya?

    Hanya itu oretan yang bisa saya bagi untuk kegiatan terhalang dana yang menyebabkan mami Tamara angkat bicara soal PENGEMIS INTELEK.
    Bagi yang tersinggung disebut PENGEMIS INTELEK silakan bercerita pada masing-masing Rektor anda soal ngamen demiii… (entahlah). Maka anda akan mengerti dari sudut pandang manapun anda memandang.

    Terimakasih_

  31. SHARINGnya bagus banget buat semua, terutama PARA PENGAMEN YG NGAKU INTELEKTUAL MUSLIM….HA….HA…..KOQ KATANYA NGE-CLAIM UMAT TERBAIK DI DUNIA ??????????????

  32. Sukses bro buat blog nya…
    saya setuju semuanya. ada yg pro ada yg kontra.
    seharusnya mahasiswa lebih aktif lagi. Ambilah saran terbaik comment2 diatas.
    Buat mahasiswa yg jd eo management hharusnya dibuat planning a-z bila perlu . Supaya event berjalan dengan matang..
    Dan tidak harus sampai ngamen dijalanan..

    hidup mahasiswa

  33. seriously tamara pun pernah mengatakan hal yg sama wkt saya dn temanteman saya nyantai di salah satu tempat nongkrong. “mahasiswa ngamen buat apa sih? buat acara? bukannya mahasiswa itu berintelektual tinggi? ko minta minta sih? cerdas ko mental ngemis – tamara”
    well prepare will get best result, kalo mau bikin acara emg bener harus di planning jauh sebelumnya, kalo sekiranya ga sanggup ya gausah ngadain acara hehe. mahasiswa kan cerdas bisa mengeksplore yg lain, mungkin memang mengamen itu bisa dikatakan opsi terakhir untuk menutup dana yg kurang dikala deadline sudah di depan mata tapi setidaknya think twice deh ya, kalo liat mereka yg memang hidup dr hasil ngamen itu rasanya sedih krn dgn keterbatasan mereka ga ada cara lain selain mengamen😦
    kasian kan adek adek yg ngamen di jalan kalo lahan nya kita ambil/
    dear agent of changes, our potentials is unlimited, before you do this just think again🙂

  34. buat semua nya …intinya mahasiswa itu memiliki pimikiran lebih di bandingkn pengamen, so apa yang tidak bisa di lakukn pengamen itulah yag seharusny jd pmikiran mahasiswa.jangan sampai apa yang bisa dilakukan pengamen mahasiswa juga lakukan🙂

    seharusnya justru mahasiswa nya lah yang menjadi solusi bagi pengamen, balik balik niat aja sih

  35. semua mahasiswa pasti bisa bikin proposal, tapi ga semua yang berani ngamen buat bikin acara, setidaknya mahasiswa berani ngumpulin nyali dan masang muka tembok buat ngumpulin dana bikin acara sosial ketimbang manusia yang ga tau malu dan ga bisa bersyukur dengan kodratnya. ngamen bukan pekerjaan mahasiswa, kalau di tanya satu2 mahasiswa mana ada yang suka ngamen, lebih baik kalau senior lgs kasih dana, tapi kenyataan kan be
    da, hanya karena label intelektual mahasiswa tidak bisa ngamen??? sombong sekali .. ga semua org bernasib sama.

  36. setuju dengan tulisan di atas, tapi mungkin judulnya bisa dispesifikan lagi misalnya, “nih pesan buat para loe mahasiswa yang ngamen untuk danus acara”. karena ada teman saya kuliah tidak seberuntung yang lain dan dia mengamen tiap sabtu dan minggu untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari nya, uang beasiswanya dia tabung. I really appreciate him ^_^

    memang maksud tulisan di atas lebih ke mahasiswa yang mengamen untuk danus, tapi alangkah baiknya kalo dari judul juga diperjelas🙂

  37. Sorry nih buat komentar-komentar temen-temen yang panjang lebar mengenai profit, duit, dan semacamnya, please guys apa diotak kalian cuma duit?
    Pertama-tama gw mau tanya sih, sebenernya kebanyakan mahasiswa bikin acara itu intinya untuk apa sih? Bikin konser? konsernya buat apa? buat adu gengsi antar jurusan, fakultas, atau universitas. Kalo pengalaman ane dulu sih di jurusan ane ngadain konser untuk memperingati Lustrum (buat yg gak tau googling deh ya jangan manja). Padahal Lustrum itu kan ajang temu kangen buat apa bikin konser? Jawabannya, katanya sih biar keren, biar gak gengsi sama jurusan sebelah, dan lain-lain. Owh jadi gitu doang, ngapain lu buang-buang duit. Kalo konteksnya di atas gw setuju sama pendapat tamara. Terus kalo buat Semnas(ga tau lagi googling aja mas), nih di kampus gw tiap tahun itu hampir semua jurusannya ngadain semnas yang topiknya kadang hampir sama aja, pembicara intinya satu, sisanya yang pembicara pelengkap, nah yang gw bingung kenapa gak tiap semnas yang punya kemiripan topic itu gak bikin satu semnas yang ngehadirin dua pembicara tersebut, kerja bareng antar jurusan gitu. Lagi-lagi gengsi muncul, please bro entar di dunia kerja lu gak cuma kerja sama orang satu jurusan.

    Nah back to topic lagi. Ini pengalaman ane di Biro mahasiswa lain selain jurusan. Di biro ini mahasiswanya dikit banget cuy, udah dikit, diajak mikir sama kerja bareng juga agak ribet, karena jurusannya beda-beda. Nah trus biro ini tiap tahun pasti ngadain event besar, yang tujuannya untuk mengkader anggota-anggota baru yang bakalan megang nih biro di kepengurusan berikutnya. Nah untuk mengadakan acara tersebut dananya gak sedikit bro, kami danusan hampir tiap hari, mulai dari jualan, ngirim proposal sana sini, ngawul, ngisi padus, dan masih banyak lagi. Nah lalu kadang kita jenuh dengan segala rutinitas danus yang seperti itu. Dan di biro gw ini emang nilai kekeluargaan lebih diutamakan sih, jadi klo udah jenuh gini apa yang kita lakuin, kita ngamen bro… Lho katanya gw setuju sama tamara.. Eits tunggu dulu.. mau tau alasan kenapa kita ngamen?

    1. Klo kita mau ngamen, gak pernah sendirian bro, minimal 20-30 orang, wah bener kata tamara tadi keroyokan.. ehh bentar, lu tau gak, ngumpulin 20-30 orang itu gak gampang lho, pertama pasti ada cewek, klo ada cewek berarti harus ada yang boncengin kalo tempat kita mau ngamen jauh, nah kalo ada cewek, pasti ada cowok yang harus mboncengin, nah ini salah satu siasat para konseptor kami, bagaimana caranya mengakrabkan anggota satu sama lain, kan ada proses tuh mulai dari ngehubungin orangnya satu-satu, sampe harus antar jemput kosannya, yang namanya manusiakan makhluk sosial, secara gak langsung para konseptor mengajak kita bercakap-cakap satu sama lainnya dalam proses itu. Pelajaran pertama proses bersosialisasi.

    2. Kita bisa karaokean bareng bro, gak harus pake modal, kurang asyik gimana coba..

    3. Jalan-jalan bareng bro, selama jalan-jalan kita bisa makin saling kenal satu sama yang lain, icip-icip jajanan.

    4. Selalu ada cerita dan pengalaman dalam setiap ngamen. Pengalaman ini yang biasanya bakal jadi cara buat kita akrab satu sama lain. Udah tau anggotanya sedikit masa iya gak akrab. Gimana gak dapet pengalaman, buat ngajak 20-30 orang itu kita paling gak udah mempelajari bagaimana berhadapan dengan orang lain, yang karakternya beda-beda.

    5. Kita ngamen karena kita mau senang-senang, klo ada yang ngasih ya terima kasih, kalo gak ya gak apa, tapi belom pernah ada yang gak ngasih sih.

    Dulu juga kami pernah kok memikirkan hal serupa, tapi ternyata dari mengamen tersebut kita bisa kumpul, kita bisa seneng, dan kita juga bisa belajar, kenapa harus dipermasalahkan. Toh kami memasang budget acarapun gak saklek, klo pada mepet-mepetnya gak nyampe ya, kami pakai plan B yang membutuhkan dana lebih sedikit.

    Yah mungkin agak panjang tapi itu pandangan gw sih, emang pada satu sisi ngamen terkesan seperti mengemis, tapi di sisi lain juga ada nilai positifnya buat gw sama temen-temen gw.

  38. wah saya salah satu orang juga yang pernah dengar langsung apa yang tamara bilang, dan saya sadar bahwa kita sebagai mahasiswa, masih bisa buat cari dana untuk sebuah event bisa dengan cara kreatif dan unik, bisa dengan berdagang, bisa menjual jasa dan banyak hal yang kreatif. Masa iya, Tamara aja bilang kalau mengamen sama kayak mengemis, masa kita yang sebagai agent of change mau di samakan dengan pengemis? Apa Kata Dunia?
    Masih banyak solusi dalam mencari dana tidak harus mengamen guys….
    Big Thanks Buat Tamara and untuk writer, tulisannya bagus,🙂

    • Woi gak usah bawa-bawa ALSA lo! Kami ini calon advokat! Pengacara! Paham! Makanya kami ngamen! Karena kami kebanyakan nganggur! Hohoho

  39. Klo ad yg ngomong kami org jalanan:pengemis,pengamen,gepeng,anjal.ad penyakit masyarakat,maka mahasiswa yg ngamen dijalanan adalah penyakit masyarakat AKUT,mohon pihak universitas menyembuhkan mereka mahasiswa yg ngamen dipinggir jalan supaya tdk jdi prodak gagal seperti kami,kasihan mahasiswa,udah pendidikan bagus,ekonomi bagus,pola fikir bagus disuruh minta2 senior diorganisasi kampus

  40. gatau kenapa nih dari tadi baca komentar kaka” diatas bikin ketawa sendiri, segala sesuatu ada segi positif negatifnya kakak, ada yg bilang tergantung pandangan masing” iyap bener banget menurut gw, kalo ga bener ya debat terus adanya wkwk tp nice post banget (y)

  41. Pingback: Nih, Pesan Buat Loe Mahasiswa Yang Suka Ngamen! | WOKEPEDIA

  42. Kampus yg dibendan udah melarang mahasiswa ngamen dijalan,kampus jalan sidodadi jga udah melarang mahasiswanya ngamen dijalan,kampus yg ditembalang baru beberapa fakultas yg melarang mahasiswa mengamen(pennginnya sih aturannya satu universitas),gmn dgn yg digunung pati,ngaliyan,kaligawe nyusul?masih banyak yg ngamen dijalan!

  43. Saya pribadi juga pernah berbincang dengan sang Tamara, dengan cerita yang sama. Pada saat itu saya tidak begitu menghiraukannya, karena saya juga berpikir seperti beberapa komentator diatas, kalau ngamen itu wajar dan tidak dilarang bagi siapa saja.
    Namun, beberapa waktu berjalan, saya semakin sering melihat teman-teman saya mengamen dengan kotak-kotak bertuliskan acara mereka. Semakin lama, semakin lucu melihatnya, karena yang saya lihat teman-teman saya ini rata-rata orang berada (bukan menggeneralisir, namun ini bukti empiris). Ironis rasanya saat melihat fenomena itu. KALAU ingin menutup dana, wahai teman-teman tutup dengan dompet sendiri dan orang tua kalian tidak bisakah? Walau hanya sementara dan dapat diganti? Bukankah sesudah acarapun masih bisa dilakukan kegiatan-kegiatan danus (selain mengamen, atau dikatakan Tamara “mengemis”) untuk menutup kekurangan dana? Ayolah, ini acara kelompok, jadi tanggung jawab kelompok. Bukan masyarakat, kan?

    Benar-benar post yang menggugah.

  44. Kegiatan mengemis itu hukumnya HARAM menurut ajaran agama islam, JADI MEMBERI PENGEMIS ITU JUGA HARAM, kalau mau berbagi, memberi, mensejaterakan, dll maka berbagilah dengan tetangga mu, [ JIKA SEMUA ORANG DI DUNIA INI BERPIKIR INGIN MENSEJATERAKAN TETANGGANYA MAKA TIDAK AKAN ADA LAGI PENGEMIS DI JALANAN SANA. ]

    • Perlu digaris bawahi, mengemis yg haram itu mengemis dg unsur menipu. mengemis pun ada yg boleh, asal dlm keadaan terpaksa dan terkena musibah sekedar utk memenuhi keadaan pokoknya. Islam mengutamakan usaha mencari nafkah, walaupun berat.

  45. Iya mas junaedi,mengemis dan mengamen itu halal bener.tapi tahukah anda pekerjaan halal yg tdk disukai masyarakat?ya ngemis dan ngamen itu,masak MAHAsiswa melakukan pekerjaa yg tdk disukai masyarakat,percuma dong kuliah klo tdk bisa memajukan pola fikir,malah kemunduran kualitas kehidupan.

  46. Loh loh buat acara dia pake ngamen bukan proposal??? idih?? gw dari dulu jadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa pake acara ngamen atau dus-dusan begitu cuma buat baksos bantuan korban bencana sama sumbangsih buat kawan-kawan mahasiswa yang terkena musibah..

  47. Ngamen di tembalang? Di benak gw ngamen disana itu = anak FH yg udah gatau mau ngapain lg buat cari duit hahah.. Entah itu anak mana, yg gw tau cuman FH doang yg sering bgt ngamen tiap malem wkw

  48. sekaya kaya kayanya orang, kalau masih ngamen tetap aja pengemis, peminta2.
    kalau mahasiswa masih ngamen apapun alasan nya yang terjadi bagi saya itu bukan mahasiswa tapi orang miskin.
    yang namanya pengamen adalah orang miskin apapun alasannya.
    jadi kalau mahasiswa masih ada juga yang ngamen “mati ajalah kau”
    doaku untuk mahasiswa yang pengamen semoga kalian tak akan pernah sukses.

  49. permisi, mungkin sedikit gak nyambung dengan pembahasan di atas, tpi mudah mudahan ada perubahan pemikiran di sini.
    “pengamen bukan pengemis/gepeng”.
    tau pengemis kan? pengemis adalah orang yg sering di temui di jalanan, di lampu merah, kadang suka sampai di depan rumah, bahkan suka masuk ke kafe. cara meminta nya dengan berbagai cara ada yang langsung minta2 (nyodorin tangan, dengan membujuk atau malah ada yg memaksa, sampai gak akan pergi klo gak di kasih), ada juga yg bermodus pakai amplop (sumbangan masjid, yatim piatu dll) kalo ke rumah2 kadang suka maksa seiklas nya ( minta seiklas nya tpi harus ngasih terus klo gak di kasih marah2, hehe aneh), ada yang menggunakan kecacatan nya ( padahal orang cacat juga bisa berkarya, udah banyak bukti dari televisi orang cacat malah bisa lebih hebat dari orang yg normal, asal mereka mau), ada anak kecil jga yg minta2 bahkan sampai balita ( saya suka aneh masa sih anak balita jalan dari rumah nya bawa bekas cup air minelar terus minta2 di jalanan, ini bayi ajaib banget hehe) ada jga yg meminta dengan cara “MENGAMEN” ( loh katanya pengamen bukan pengemis? nanti saya jelasin detil nya) yang pasti pengemis atau peminta minta akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan mangsa nya, dengan modus keprihatinan agar di kasihani sampai memaksa dengan menggangu. kalian pasti sering lah ngalamin di jalan, atau malah hampir di tiap sudut kota.
    nah kenapa pengamen saya bilang bukan pengemis? padahal diseni atas saya bilang ada yg meminta2 dengan cara ngamen???
    pengamen adalah orang yg menjual kebisaannya yg berhubungan dengan seni, ada yang akrobat, ada yang menari, ada juga yg bermusik (baik menyanyi atau pun sekedar memainkan alat musik) yang bertujuan untuk menghibur atau dalam kata lain pengamen Adalah artis dalam bahasa yg lebih keren. nah pengamen jga selain di televisi sering kita jumpai di jalanan, karna tidak semua pengamen bernasib bagus) atau ada juga yg cuma iseng2 atau dalam rangka donasi, tapi selama mereka menjual bakat seni yg mereka punya itu sah sah aja, asal jangan mengganggu apalagi memaksa karna MENGAMEN TUJUAN UTAMA NYA ADALAH MENGHIBUR BUKAN PEMINTA MINTA ATAU MENGEMIS.
    jadi kesimpulan nya buat mahasiswa yg suka mengamen atau pun orang yg sudah mengambil profesi di bidang pengamen baik yg bernyanyi, menari, akrobat ataupun berbanci ria mengamenlah dengan bijak yang dapat menghibur bukan mengaganggu atau berbelas kasihan karna kalian pengamen bukan bukan pengemis dan bukan pemalak hehe. masalah merebut jatah yang lain menurut saya klo emang bertujuan menghibur tidak perlu bersaing dalam hal lapak, dan buat pembeli atau pendonatur berbijaklah dalam memberi, jangan samakan pengamen dengan pengemis, karna pengamen itu layak nya seorang yg berdagang, bukan peminta minta, hargailah bakat mereka. mereka bukan ingin sekedar recehan kalian tpi lebih dari iru mereka ingin bakat mereka di apresiasi . kesimpulan lebih lanjut silahkan tanam kan dalam hati kalian, dalam pemikiran kalian. masa ke pengemis ngasih tapi ke orang yang tujuan nya menghibur gak ngasih sih hehe..

    • Tp ngamennya mahasiswanya sifatnya maksa, saya pernah makan di warung, mereka tiba2 “nggedabruk” di depan saya trus tiba2 aja nyanyi selesai ngomong dari mahasiswa mana gitu. 20Vs 1 di depan lagi makan mau ngasi dikit jg ga enak , ngga ngasi jg ga enak. “Pressure”nya itu lho.
      Saya yakin mereka tahu jg itu.
      Beda kalau orang ngamen di Singapore, Saya jalan2 di orchard road, mereka ngamen cuma duduk nyanyi atau akrobat di pinggir jalan, orang2 betul kelihatan happy liat kegiatan mereka dan ngasinya jg happy jg.
      Jadinya ngamennya mahasiswa tu masi ngemis menurut saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s