MEREKAM PESAN KEMATIAN DALAM TANAH. Bencana Longsor Karangkobar – Banjarnegara


o-CAMERA-facebook

“Abi?”

“Yak Pak? “

“Berangkat hari ini ya?”

“Siap Pak, kapan pak?”

“Sekarang.

“Sekarang?”

“Iya sekarang”.

Yap, saat ku di depan komputer kantor,tiba – tiba perintah itu muncul. Aku tahu jika PKPU sedang mempersiapkan aksi tanggap darurat di Lokasi bencana Banjarnegara. Tanpa pikir panjang aku segera bergegas berangkat bersama kepala cabang PKPU Semarang.

PKPU,tempatku bekerja ini, adalah sebuah lembaga kemanusiaan nasional yang selain mendistribusi dana ZIS juga expert dalam hal tanggap bencana atau Disaster Management Risk. Nasional maupun di internasional.

Tanpa persiapan apapun, bermodal apa saja yang dibawa saat berangkat ke kantor pagi tadi, aku pun berangkat.  Walaupun saat itu ku sempat cekatan meminjam celana dan sandal lapangan dari karyawan lain. Aku, kepala cabang dan driver ambulan, kami bertiga berangkat dari sekitar jam 11 siang dengan menggunakan kendaraan roda empat (ambulan).

Dan sampai di pos tanggap darurat PKPU sekitar jam 7 malam. Tujuh sampai delapan jam kami dalam perjalanan ke lokasi pos longsor di Banjarnegara untuk menjadi relawan khusus untuk membantu evakuasi korban di sana.

Saat itu hari senin tanggal 15 Desember 2014.

Sesampainya di pos -sebuah rumah yang  disewa untuk dijadikan basecamp– kami pun langsung diajak breafing bersama perwakilan dari PKPU pusat dan dari perwakilan daerah – daerah di Jateng yang lain, untuk persiapan aksi evakuasi untuk esoknya. Dan hasilnya, aku kebagian menjadi tim dokumentasi di tim evakuator inti.

Namun, tenyata Pak Surur -kepala cabang- harus mengikuti Rakernas PKPU besoknya dan harus meninggalkan pos malam itu juga. Tinggallah aku dan Pak Heri sang driver ambulan yang charming orangnya itu, tinggal di pos, sebagai perwakilan dari cabang Semarang. Kami pun belum tahu sampai kapan kami akan tinggal.

Sebenarnya agak berat, saat ku berangkat dengan meninggalkan deadline – deadline yang ada. Meninggalkan Tesis yang sudah usang tak kunjung selesai itu. Yang orang tuaku lebih sering tanyakan saat menelponku. Dan juga janji dengan costumer – costumer dari pesanan karikaturku. Padahal seminggu itu banyak deadline order karikatur dan jadwal aku bimbingan Tesis lagi. Terpaksa aku cancel semua.

Tak apa sebenarnya, karna aku yakin rezekiku yang tak seberapa itu nanti diganti dengan yang lebih baik dan aku akan mendapatkan pengalaman luar biasa nantinya. Dan Allah pasti sedang akan menunjukan hikmahNya kepadaku pastinya. Itulah yang menjadi semacam aspirin untukku. Dan sebuah “tes” dari Allah.

Evakuasi

Subuh jam 4 pagi.

Kala itu aku bangun lebih awal. Terbangun karna hawa dingin yang tak biasa. Maklum saja daerah bukit itu masih dekat dengan kawasan pegunungan. Aku masih memakai baju yang sama saat masih di kantor kemarin.

Kami sholat, di masjid terdekat dan ternyata jamaahnya lumayan banyak. Subhanallah. Setelah Sholat subuh, kita brieafing kembali dan bersiap berangkat menuju pos PKPU kedua, pos rescue yang terletak dekat lokasi bencana longsor.

Jam 5 pagi.

Kita berangkat menuju pos kedua, yaitu pos rescue. Sesampai disana, terlihat pos rescue hanya terdiri dari 2 buah barak atau tenda dengan perlengkapannya. Serta beberapa branding bendera – bendera  PKPU. Ternyata disana sudah ada relawan – relawan dari mahasiswa dari KRC atau KAMMI Reaksi Cepat yang sudah menginap duluan.

IMG_7675Setelah sarapan, kita apel pagi dan pembagian tim dan penjelasan tugas. Selesai disitu, kita bergegas untuk bergabung bersama KOPASSUS untuk dilebur menjadi satu tim lagi.

Khusus berfungsi sebagai evakuator korban meninggal longsor yang saat hari itu, masih terpendam di dalam tanah.

Sebelum berangkat kita breafing dengan dipandu seorang, entah kapten atau kolonel pangkatnya, namun beliau mengisi breafing atau semacam IMG_7690motivasi yang cukup menggugah semangat.

Mungkin memang sudah ciri khas orang militer yang tak terlalu banyak berkata – kata. Tiap kata yang keluar selalu ada penekanan, lugas, jelas, dan intonasi yang kuat. Ditambah dengan tatapan tajam kepada kami. Menyulut kobar api semangat.

Breafing selesai kita pun diangIMG_7943kut dengan menggunakan mobil khas tentara. “Seperti ingin berangkat perang atau jihad saja”, benakku. Mungkin suatu saat aku akan mengalaminya (jihad).

Sesampainya di lokasi longsor.

“Mana desanya?”, gumamku. Tak ada rumah – rumah bekas longsor. Yang terlihat hanya gundukan tanah. Semuanya tanah.

IMG_7723 IMG_7952 IMG_7968 IMG_7982

Ku tak bisa membayangkan betapa dahsyatnya kejadiannya longsor itu. Bahkan bisa membuat  satu dusun menghilang bak ditelan bumi. Hanya kuasa Allah yang  bisa melakukannya. Subhanallah. Innalillahi. Perasaan ngeri pun datang.

Disana rupanya sudah ada alat-alat berat yang beroperasi. bulldozer, begho dan alat berat lainnya. Beroperasi untuk berusaha membuka akses jalan yang tertutup tanah, merapikan gundukan tanah, membuka jalan aliran sungai dan yang paling penting, membantu menemukan korban yang terkubur dalam tanah.

Ku berjalan di sekitar.

Kadang kakiku terperosok dalam gundukan tanah lembek yang kukira keras itu. Sesekali aku memotret moment dan suasana. Sambil menunggu tim evakuasi menemukan mayat korban longsor.

Kulihat berkeliling.

Memang dusun ini terletak di tengah – tengah bukit atau dikeililingi tebing tanah yang menjulang tinggi namun rapuh.

Ku membayangkan, awal longsor yang paling besar bermula dari asal tanah di atas bukit, lalu turun bak air bah dengan tak kenal ampun menyapu dan menenggelamkan semua rumah beserta isinya. Semakin ke bawah, semakin kuat arusnya. Hingga kawasan seluas 5-6 hektar ratalah semua dengan tanah. Kejadiannya pastilah begitu cepat.

Sambil ku potret ke arah sekitar dengan kamera DSLR milik kantor, ku merenung.

Kejadiannya pasti begitu cepat dan dahsyat. Hingga jarang ataupun tak ada yang berhasil untuk menyelamatkan diri. Jangankan menyelamatkan keluarga atau harta bendanya, menyelamatkan dirinya saja tak kuasa.  Tak bisa dibandingkan, berapa lama proses hidup dengan berapa lama proses ajal menjemput.

Sejenak berpikir, sungguh sayang manusia yang hidupnya di sia – siakan, tidak bermanfaat, atau bahkan lalai penuh maksiat. Atau, tidak beriman. Sedangkan ajal bisa kapan saja menjemput dengan cepat dan dengan cara apapun.

Aku sekarang sedikit mengerti di Al Qur’an menjelaskan tentang suasana kiamat nanti, orang kaget terheran – heran, wanita hamil pun diacuhkan. Semua sibuk dengan sendirinya. Namun, tak ada yang terlepas dan bersembunyi dari adzab Allah yang datang. Tak ada.

Tak peduli kaya, miskin, tua, muda, rupawan, buruk rupa, bayi, balita, sakit sehat, pria, wanita, pangkat tinggi terhormat, disegani, terkenal. Semuanya dilibas begitu saja. Sangat sederhana.

“Hei….!!! Disini…!!!”

Sebuah teriakan terdengar dari satu arah.

Segera aku bergegas ke sumber suara. Dan semua orang pun secepat kilat berkerumun mengelilingi temuan mayat.

“Gali !!! cepat gali !!!”

Segera aku cari posisi atau angle kamera untuk mendapat gambar atau merekam aksi evakuasi. Agak susah,karna kondisi tanah berlumpur dan kerumunan tentara dan tim relawan yang lain juga ikut menonton, berdesakan. Namun beruntung , aku bisa merekam dengan cukup jelas dengan dibantu mendapat tempat cukup dekat oleh salah satu tentara yang bertugas dokumentasi juga.

Segera ku mainkan kamera, jepret sana jepret sini, tak akan kutinggalkan sedikitpun moment yang bagus. Lebih sering ku merekam video aksinya ketimbang tuk mengcapture. Aku zoom lensanya. Terlihat jelas tubuh bisu yang terkubur tanah yang sedang diusahakan digali  itu.

Terlihat samar, namun ku tahu itu mayat wanita. Kulitnya putih,  bukan putih yang diidamkan wanita –wanita yang  hidup, tapi putih kehijauan daging yang sudah membusuk.

IMG_7760

Sejenak berpikir, kepada wanita – wanita yang terlalu berlebihan merawat kulit putihnya, membanggakan kulit  halusnya, hingga mungkin menjadi sombong bahkan meremehkan.

Menyakiti hati wanita lain lewat mulutnya, tatapan matanya, gesturenya, yang tidak memiliki kulit yang seputih dan semulus dirinya. Atau bahkan sengaja memamerkan kulit putih mulusnya yang sangat terawat itu kepada khalayak ramai. Merawat kulit hingga menghabiskan dana yang  tak sedikit, melupakan arti kesyukuran, melupakan menyisihkan sebagian untuk sedekah?.

Buat apa?  Toh, akhirnya akan menjadi seperti daging mati yang kulihat lewat lensa kamera ku ini. Putih, kehijauan, busuk.  Kemana kulit putih mulus yang dibanggakan dulu? Kulit sejatinya hanya pembungkus tulang. Sia –sialah sudah. Materi itu pasti fana.

Ah… tak hanya wanita, lelaki pun sama saja. Dan  apapun bentuknya itu, setiap kelebihan, menurutku berpotensi menjadi sebuah kesombongan.

“Siap ya!! Satu komando!!”

Pikiranku kembali fokus ke sekitar.

Terlihat, satu anggota kopasus berusaha menjadi komando dalam aksi evakuasi kali ini. Di samping disitu ada tim PKPU yang berbaju khas merah yang memang sudah langganan untuk evakuator bencana. Saat itu, ada satu mayat,bukan dua mayat. Yang terlihat. Satu wanita dan satu nampaknya anak kecil. Bisa dipastikan itu adalah ibu dan anaknya.

Anggota kopasus itu memerintahkan alat berat atau begho untuk menggaruk tanah disekitar mayat agar proses evakuasi lebih mudah dilakukan. Dan si mayat pun sudah siap angkat.

“Ok!! Satu komando ya?!!”

Ngko sek!!

Huekkkkkkk…..!!!

“Lah? Bapaknya muntah…”,benakku. Sejenak suasana serius menjadi jenaka gara – gara anggota kopassus tadi yang muntah. Karena dari awal dia terlihat bersemangat sekali. Bahkan sampai terkesan sok ngatur.  Salahnya sendiri, yang terlalu bersemangat hingga lupa pakai masker hehe. Lelaki tinggi kekar muka tegas, terlihat garang tapi akhirnya muntah juga di saat yang lain tidak muntah. Hehe.

Dan mayat pun segera terangkat, dibungkus dengan kantong mayat dan dievakuasi melalui ambulan yang sudah dari tadi standby.

IMG_7831

???????????????????????????????

Pernah di saat kami istirahat makan siang di lokasi longsor, di saat hari yang sama. Disaat kami tim evakuasi dari PKPU istirahat sejanak dan makan siang dari jatah logistik yang diantar dari pos rescue.

Alat – alat berat masih terus beroperasi. Namun, tiba tiba saja ada yang teriak…

“Oooi…!! Disini..!!”

Kali ini operator Begho yang teriak. Ternyata saat dia menggali tanah, tak sengaja dia menemukan mayat di tebing tanah. Segera kami tim evakuasi yang kebetulan paling dekat menaruh bungkus makan siang yang belum selesai habis itu, segera berlari untuk lakukan aksi evakuasi. Begitu pula aku, yang berlari sambil mengunyah makan yang belum sempat tertelan.

IMG_7824

Pernah juga dilain hari, saat itu hujan dan tim evakuasi dan semua relawan diperintahkan menghentikan semua aktivitas evakuasi. Saat itu kami berada di dirumah warga untuk istirahat Kami menunggu hujan reda sambil menyantap makan siang yang kami bawa dari persediaan logistik pos.

Kala itu, lauknya agak istimewa. Dengan daging cumi dan nasi putih. Semua makan dengan lahapnya karena cuaca hujan yang membuat lapar lebih cepat datang. Namun, tak sengaja ada nyletuk bilang…

“Ini daging kok warnanya putih kaya mayat yang tadi ya?”

Sontak ada yang mendengarnya dan melempar nasi bungkusnya.

“Ah elu, ngapain bilang begitu sih?!”

Hehe. Lucu juga kejadiannya, karena orang tadi gak jadi makan gara –gara mungkin kebayang daging cumi yang ia akan makan, mirip dengan daging mayat. Panteslah gak jadi doyan makan. Padahal tadi sudah lahap makannya. Hehe. Kalau aku santai – santai saja lanjutkan makan siangku.

Yang Tak Terekspos

Sekitar jam 9 pagi. Kali ini aku  bertugas  untuk dokumentasi aksi di tempat pemulasaraan atau tempat pemandian jenazah korban evakuasi. Tempatnya sederhana. Hanya ada dua barak atau tenda besar. Yang satu untuk pemandian jenazah atau mayat temuan dan satunya untuk penampungan mayat dan identifikasi mayat temuan.

Disana banyak sekali relawan dari berbagai organisasi islam, lembaga zakat dan bahkan berasal dari partai. Disamping dari BASARNAS, PMI, Polisi dan Tentara. Namun, jika seandainya pembaca berada dilapangan, akan tahu mana yang benar – benar sering  bekerja, mana yang sering duduk – duduk tapi sering terekspos media.

Dari ormas islam yang kutahu ada NU, Muhammadiyah dan bahkan FPI. Ya FPI, ormas islam yang satu ini yang lebih sering dikenalkan oleh media mainstream dengan ke-anarkis-annya. Tapi sangat berbeda disini. Mana mungkin jika mereka benar anarkis, mau menjadi relawan.

Mau capek –capek meninggalkan rumah hanya demi mencari di tengah tanah lumpur, mencari tubuh – tubuh busuk yang tak bernyawa yang mungkin mereka tak kenal? Selama beberapa hari pula.

Satu lagi namun dari kalangan partai. PKS.

Apa yang ada dalam benak pembaca ketika ku menyebut partai ini? Mereka sedang pencitraan? Dengan menjadi relawan? Terlalu capek jika pencitraan seperti itu. Dan aku yakin mereka jarang atau bahkan sama sekali tidak terekspos media saat mereka melakukan aksi.

Sapi ? hehe. Ya satu – satunya kasus korupsi gak jelas yang dibuat terkenal. Satu- satunya. Mengalahkan kasus – kasus partai lain yang notabene lebih banyak dan mungkin lebih merugikan negara.

Aku tahu apa yang kulihat disana.

Dimana – mana ada mereka, orang PKS. Saat evakuasi, mencari korban , bahkan di pemandian jenazah. Disaat orang jijik dengan pekerjaan itu, orang PKS mau memandikan jenazah. Bentuk upaya penghormatan terakhir bagi si mayat. Disaat mungkin orang lain takut melakukan itu, karna pastinya akan meninggalkan bayangan seram karena melihat ekspresi bisu sang mayat saat memandikan tubuhnya. Tubuh yang utuh, sebagian utuh, atau hanya kaki dan tangannya saja sesuai apa yang ditemukan di lokasi.

Dimana – mana ada mereka. Bahkan tak hanya lelaki tapi wanitanya pun turut terjun. Terutama untuk memandikan jenazah wanita. Dengan jilbab yang besar itu, dilengkapi dengan alat pelindung diri sederhana seperti boot,jas hujan dan sarung tangan latex,mereka mau melakukannya.

Bisa dikatakan mereka juga mempertaruhkan nyawa, karna mayat mengandung bakteri yang berbahaya yang jika terkena tubuh yang terluka atau tak tertutup, bisa amputasi akibatnya.

Dan mereka lakukan, tanpa terekspos.

Mungkin pembaca sudah menerka – nerka, jangan – jangan penulis ini orang PKS atau bahkan orang FPI?. Hehe.Silahkan saja, yang jelas aku tahu apa yang kulihat dilapangan, yang kurasakan dan kuceritakan apa adanya.

Kenapa, aku mengangkat dua nama ini? karna dua nama ini yang paling “dibenci” oleh media mainstream. Atau sebagian dari pembaca sendiri

Aku termasuk tipe orang yang tak mudah percaya oleh media. Media bisa menjadikan yang benar terkesan salah, yang salah terkesan benar. Membesarkan yang kecil dan memperkecil yang besar. Bisa menjadikan yang salah menjadi benar dengan cara memperulang terus- menerus. Kesalahan yang berulang terus menerus akan menjadi kebenaran. Itulah bad effect dari media. Tergantung dari yang mempergunakannya. Yang memesannya.

Aku tahu, eksistensi juga sudah menjadi kebutuhan. Namun, kita bisa mengukur atau mencari eksitensi itu sebagai pemenuhan kebutuhan saja atau sudah menjadi prioritas utama.

Aku dilapangan juga menemukan lembaga mana yang banyak bekerja dilapangan, mencucurkan keringat dan lembaga mana yang hanya modal branding saja. Menempelkan stiker – stiker dijalan, memasang bendera sepanjang jalan, membagikan kaos berlogo mereka. Namun… dilapangan kontribusi mereka sedikit.

Ambulan dari lembaga atau partai mana yang sering rela menumpangkan mayat – mayat dan ambulan dari lembaga mana yang hanya majang di parkiran saja.

Ah… aku tahu. Itulah keikhlasan.

Kita takkan tahu kita ikhlas atau tidak, jika tak pernah teruji. Ikhlas, melakukan tanpa syarat. Dihina tak merasa apa – apa, dipuji pun tak merasa apa – apa.

Kita takkan tahu kita sabar atau tidak, jika kita tak pernah dihina, dicerca, difitnah.

Kita takkan tahu kita benar, jika kita tak pernah menyadari kalau kita pernah salah.

Kita takkan pernah belajar jika kita selalu benar. Dan…

Kita sebaiknya tak pernah mengharap kita tahu kita sudah ikhlas. Karna ikhlas juga belum benar jika kita bilang ke orang “Gue ikhlas,,”

Ikhlas hanya kita dan Allah SWT saja yang tahu. Cukup itu. Cukup kita berusaha untuk selalu ikhlas. Biar Allah tahu betapa sulitnya menjaga keikhlasan ini.

Dan Diantara Tanda – Tanda Kebesarannya

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam  buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al A’rof: 57)

Saat itu aku kembali ditugaskan dokumentasi di lokasi longsor. Seperti biasa suasana hiruk pikuk alat berat beroperasi. Dan para relawan sibuk dengan tugasnya masing – masing. Dan aku pun sibuk mengcapture moment aksi mereka.

Namun saat itu suasana ditambah, gerimis kecil rintik – rintik.

Sambil mataku fokus yang tenggelam dalam membidik di kamera, sambil ku merenung. Bagaimana nasibnya kepada mayat yang tak berhasil ditemukan ya?

Mengingat aksi evakuasi hanya dilakukan selama kurang lebih seminggu.

Ah iya benar, biar Allah saja yang akan “mengevakuasi” mereka sendiri. Bahkan mereka yang masih tertimbun nantinya hidup lagi. Dibangkitkan kembali dari mati. Seperti air gerimis yang sesekali kutadah dengan tangan ini. Yang mati akan bangkit seperti tanaman yang tumbuh karena hujan.

Dengan lensa kameraku masih kuajak arahkan berkeliling, berharap mendapat moment yang bagus.

IMG_7946

Dan ku terhenti pada satu bukit yang tinggi menjulang, namun sudah terkoyak karna longsor. Dan ada rumah tepat di bawahnya. Ya rumah, utuh. Bahkan dengan halaman rumahnya pun utuh, tak ikut tersapu longsor.

Sunggguh pemandangan yang aneh, tidak logis.

Seperti longsor itu melewatinya begitu saja. Padahal logisnya rumah itu yang pertama kali hancur karena tepat berada dibawah sumber longsor. Bagaimana bisa?

Yang jelas Allah sedang menunjukan sesuatu kepada kita.

Apakah sekiranya hikmah yang sama dengan tsunami Aceh ? yang hanya bangunan masjid saja yang dibiarkan utuh tidak tersapu ombak tsunami?

Aku pun ada keinginan kecil untuk mencari tahu, siapakah pemilik rumah yang sendirian tak hancur itu?

Dari sedikit informasi yang ku tahu, ternyata, rumah itu adalah milik keluarga yang sering digunakan warga untuk pengajian.

Pemilik rumah dan seorang anak meninggal. Dan hanya istri yang sedang hamil tujuh bulan yang selamat dari bencana itu, karena berlindung di dalam rumah tersebut. Sementara suami dan anak sedang berada diluar.

Lalu bagaimana karakter warga lainnya?

“Tanah dusun itu subur, warga sangat makmur, terkenal dengan penghasil dan penyetok saur mayur di pasar desa. Tapi warga dusun Jemblung sering bersenang – senang”..

Begitu bunyi salah satu warga yang kuajak ngobrol itu. Aku tak paham apa makna sering bersenang – senang darinya. Apakah konotasi positif atau negatif.

Mungkin Allah sedang menunjukan kebesaranNya dengan mendatangkan musibah ini. Bisa saja adzab bagi orang dzalim dan bisa menjadi ujian serta penghapus dosa bagi orang saleh.

Dan juga ketika nanti yang mati dihidupkan lagi seperti hujan menumbuhkan tumbuhan, maka saat itulah semua rekaman perbuatan selama kita hidup akan dipertontonkan.

Wallohu’alam.

IMG_7880

10 thoughts on “MEREKAM PESAN KEMATIAN DALAM TANAH. Bencana Longsor Karangkobar – Banjarnegara

  1. Subhanallah

    Merinding saya Membacanya
    seolah membawa saya terjun sebagai relawan
    “hanya para relawanlah yang tahu siapa yg benar benar bekerja dan siapa yg numpang parkir, nyebarin kaos dan pencitraan”

    Setidaknya dari independen seperti ini kita bisa lebih tahu kondisi lapangan, yg tidak memiliki kepentingan partainya atau golongannya

    Terimakasih mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s