MELIBATKAN ALLAH


Pernahkah kita selalu melibatkan Allah di setiap aktivitas dakwah kita? Bagaimana caranya? Bagaimana menghadirkan Allah selalu dalam hati kita?

Untukmu para aktivis dakwah dan golongan orang muflihuun

Mukminin wa mukminat rahimakumullah

Kita memang sudah sangatlah sering mengalami berbagai musibah , kesukaran , kepahitan, kekecewaan dalam perjalanan dakwah kita. Namun, ingatlah bahwa semuanya itu terjadi karena memang atas izin Allah.

”Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah”. (At-Taghaabun 11)

Percayalah, pasti ada hikmah besar dibalik musibah yang kita alami ini. Dan pilihannya hanya ada dua, mundur atau bangkit. Bisa jadi, musibah ini justru membuat kita “terpaksa” untuk lebih kuat lagi, lebih cerdas lagi, lebih solid lagi, lebih banyak belajar dalam berjamaah dan berdakwah. Ujian kelas kakap pasti akan melahirkan orang kelas kakap, ujian kelas teri akan menghasilkan orang kelas teri juga. Oleh karena itu, bukankah kita termasuk wa ulaaika humul muflikhuun mendapat ujian ini?

Nahkoda yang tangguh tidak lahir di samudra yang tenang

 

Mukminin wa mukminat rahimakumullah

Berbagai ujian yang mungkin masih kita anggap musibah itu, bisa jadi terjadi karena kurangnya ikhitar kita dalam berdakwah. Sudah seberapa besar kah ikhtiar kita untuk berdakwah? Kita hanya bisa berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin. Untuk hasil? kita serahkan pada Allah SWT. Jangan sekali – kali hasil akhir kita anggap sebagai indikator keberhasilan atau kegagalan dakwah kita. Karna kita sudah berharap selain kepada Allah, yaitu manusia , termasuk berharap pada diri kita sendiri. Yang akan timbul hanyalah kesombongan atau kekecewaan karena berharap pada selain Allah. Ingat, Allah tempat bergantung (Q.S Al Ikhlas :2). Contoh kecilnya, pernahkah kita mendoakan binaan – binaan kita yang mungkin jarang berangkat halaqoh itu agar mendapatkan hidayah?

Maka tidaklah pantas, kita menyalahkan diri sendiri jika dakwah ini terkadang belum berhasil. Ini ujian. Jika seperti itu, bisa jadi kita masih bergantung pada manusia bukan pada Allah. Manusiawi memang, jika air mata kita sampai keluar karna getir pahitnya dalam berdakwah, namun itu untuk menguatkan kita agar kita memohon pertolongan kepada Allah saja bukan untuk menyesali berlarut-larut. Apakah Rosulullah SAW menyalahkan dirinya sendiri, ketika banyak yang syahid di medan perang? Tentu saja tidak, para syuhada itu mati bukan karna Rosul , namun karna membela panji Allah. Apakah Rosul bertanggung jawab atas umatnya yang belum masuk islam? Tentu saja tidak. Tugas Rosul hanya sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan.

”Dan Kami tidak mengutusmu(Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”.[QS. Saba’ ayat 28]

Urusan hidayah adalah urusan Allah. Kita hanya bisa berusaha sambil bertawakal

Maka tidaklah pantas, kita menyalahkan diri sendiri, karena kita dalam barisan jamaah. Kita membutuhkan keahlian orang lain untuk kemajuan dakwah ini. Allah tidak menciptakan kita sempurna, yang bisa semua hal untuk berdakwah ini. Jika kita bisa semua, maka kita tidak pernah bisa belajar dari suatu kesalahan, tidak bisa berjamaah yang kuat dan dakwah ini bersifat individualistik yang sarat akan subjektivitas. Bahkan Rosul membutuhkan Khadijah yang menyelimutinya ketika mendapatkan wahyu pertama, membutuhkan Abu Thalib untuk melindunginya dari orang kafir. Namun ketika Allah mengambil mereka semua, itu supaya agar Rosul dan kita paham, yang kita pantas butuhkan prioritas hanya Allah saja. Allah saja. Apakah kita siap dengan diberi ujian seperti itu? Semua ujian ini belumlah seberapa.

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”. (QS 88:21-22)

Dan kita sebagai da’i dan da’iyah , bertugas sebatas untuk mengajak ke kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran. Bukan memaksa kebaikan dan membasmi kemungkaran.

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? “(QS 10: 99)

Itu jika kita diberi ujian kondisi buruk dalam berdakwah. Namun, bagaimana jika kita diberi ujian kemenangan dalam dakwah ini. Dengan pola pikir yang sama, dengan analogi yang sama, maka, bisa jadi kita akan bilang, dengan membusungkan dada “dakwah ini berhasil karna aku” . Itulah ujian, bisa dalam bentuk musibah atau dalam bentuk keberlimpahan yang melenakan. Maka jika seperti itu, kita sudah mempunyai sifat sombong, dan sifat ini cikal bakal penyakit hati yang lain.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Maka dari itu, berdoalah. Setelah kita berikhtiar sembari bertawakal sekuat tenaga, berdoalah. Berdoalah meminta apapun kepada Allah. Bawalah target – target dakwah kita ke dalam doa – doa kita. Berdoalah supaya hati kita tenang. Libatkan Allah.

Hasbunallah wani’mal-wakîl, ni’mal-mawlâ, wani’man-nashîr”

“Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami,  sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami”

Wallahu’alam bishowab

30 September 2014

Hikmatyar Rabbi Al Mujaddidi, SKM

url

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s