“BAK MANDI ANTI NYAMUK” SEBAGAI ALTERNATIF BARU UNTUK PENGENDALIAN PERKEMBANG BIAKKAN VEKTOR NYAMUK


  1. Latar Belakang
    1. Gambaran Penyebaran Angka Kesakitan Akibat Vektor Nyamuk

Demam Berdarah Dengue  merupakan masalah kesehatan utama di Jawa tengah khususnya kota Semarang. Berdasarkan angka kesakitannya dari 2008 sampai 2009, DBD kota Semarang masih menduduki peringkat pertama di Jawa Tengah. Pada 2009 angka kesakitan DBD kota Semarang mengalami penurunan menjadi 261. Kendati begitu tetap tak merubah posisi peringkat pertama tertinggi di Jateng  mengingat angka kesakitannya pun menurun menjadi 35. Sementara untuk Jateng turun menjadi 55. (Suara Merdeka, 2010).

Berdasarkan data yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa penyebaran virus Dengue masih luas dan belum bisa ditemukan alternatif yang paling jitu untuk menurunkan angka kesakitan DBD. Data tersebut adalah hanya menjelaskan pada daerah kota Semarang provinsi Jawa Tengah saja, belum kepada data penderita atau angka kesakitan DBD di seluruh Indonesia. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini, dari tahun ke tahun angka kesakitannya masih saja tinggi. Korban yang meninggalpun masih ada setiap tahunnya. Jumlah kasus DBD di Semarang sendiri pada 2009 mengalami peningkatan. Jika pada 2009 jumlah penderita DBD sebanyak 3883 orang pada 2010 naik menjadi 4642 kasus. Faktor lingkungan berupa sarang nyamuk, genangan air jernih, semak-semak, sampah dan kaleng besar membawa pengaruh terbesar pada angka kejadian.  (Suara Merdeka, 2010).

  1. Upaya Pemerintah untuk Pengendalian Vektor Nyamuk

Permasalahan DBD sangat kompleks yang menyangkut berbagai aspek sehingga memerlukan penanganan multi sektor baik pemerintah, swasta, LSM maupun masyarakat. Penyakit ini sampai saat ini belum ada vaksinnya dan belum ada pengobatan yang spesifik, karena itu maka upaya terbaik yang bisa dilakukan untuk mengurangi kasus DBD adalah meningkatkan upaya pencegahan (promotif dan preventif). (baliprov.go.id, 2010)

Gambar 1. Inspeksi jentik nyamuk oleh petugas kesehatan

Banyak upaya yang sudah dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran vektor nyamuk dalam rangka menurunkan angka kesakitan oleh DBD maupun malaria secara preventif. Upaya – upaya tersebut seperti program 3M, pengasapan, pemberian bubuk abate di bak mandi, dan lain – lain. Namun, upaya – upaya tersebut belum bisa untuk mengendalikan penyebaran vektor nyamuk khususnya di musim penghujan. Oleh karena itu gagasan kami ini adalah dalam rangka ikut membantu pemerintah untuk menurunkan angka kesakitan DBD dan malaria di rana pengendalian vektor nyamuk.

  1. Identifikasi, Sifat dan Perilaku Vektor Nyamuk

Siklus Hidup Nyamuk

Nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa, sama dengan serangga yang mengalami tingkatan (stadia) yang berbeda-beda. Dalam siklus hidup nyarnuk terdapat 4 (empat) stadia dengan 3 (tiga) stadium berkembang di dalam air dari satu stadium hidup dialam bebas :

  1. Nyamuk dewasa

Nyamuk jantan dan betina dewasa perbandingan 1 : 1, nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul nyarnuk betina, dan nyamuk jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar dari kepompong, setelah jenis betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali kawin. Dalam perkembangan telur tergantung kepada beberapa faktor antara lain temperatur dan kelembaban serta spesies dari nyamuk

  1. Telur nyamuk

Nyamuk biasanya meletakkan telur di tempat yang berair, pada tempat yang keberadaanya kering telur akan rusak dan mati. Kebiasaan meletakkan telur dari nyamuk berbeda -beda tergantung dari jenisnya.

1)   Nyamuk anopeles akan meletakkan telurnya dipermukaan air satu persatu atau bergerombolan tetapi saling lepas, telur anopeles mempunyai alat pengapung.

2)   Nyamuk culex akan meletakkan telur diatas pemlukaan air secara bergerombolan dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung.

3)   Nyamuk Aedes meletakkan telur dan menempel pada yang terapung diatas air atau menempel pada pemlukaan benda yang merupakan tempat air pada batas permukaan air dan tempatnya. Sedangkan nyamuk mansonia meletakkan telurnya menempel pada tumbuhan-tumbuhan air, dan diletakkan secara bergerombol berbentuk karangan bungan. Stadium telur ini memakan waktu 1 -2 hari.

  1. Jentik nyamuk

Pada perkembangan stadium jentik, adalah pertumbuhan dan melengkapi bulubulunya, stadium jentik mermerlukan waktu 1 minggu. Pertumbuhan jentik dipengaruhi faktor temperatur, nutrien, ada tidaknya binatang predator.

  1. Kepompong

Merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada stadium ini memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang 1 -2 hari.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Siklus hidup nyamuk

  1. Tempat Berkembang Biak (Breeding Places)

Dalam perkembang biakan nyamuk selalu memerlukan tiga macam tempat yaitu tempat berkembang biak (breeding places), tempat untuk mendapatkan umpan/darah (feeding places) dan tempat untuk beristirahat (reesting palces).  Nyamuk mempunyai tipe breeding place yang berlainan seperti culex dapat berkembang di sembarangan tempat air, sedangkan Aedes hanya dapat berkembang biak di air yang cukup bersih dan tidak beralaskan tanah langsung, mansonia senang berkembang biak di kolam-kolam, rawa-rawa danau yang  banyak tanaman airnya dan Anopeheles bermacam breeding place, sesuai dengan jenis anophelesnya sebagai berikut :

  1. Anopheles sundaicus, Anopheles subpictus dan anopheles vagus senang berkembang biak di air payau.
  2. Tempat yang langsung mendapat sinar matahari disenangi nyamuk anopheles sundaicus, anopheles mucaltus dalam berkembang biak.
  3. Breeding palces yang terlindung dari sinar matahari disenangi anopheles vagus, anopheles barbumrosis untuk berkembang biak.  (Santio Kirniwardoyo, 1992)

Gambar 3. Bak mandi perumahan biasa

Pada gagasan ini saya bermaksud untuk membuat alternatif solusi untuk memutus siklus perkembang biakkan nyamuk (breeding places) di tempat – tempat yang sangat fundamental keberadaannya di setiap rumah penduduk dan untuk nyamuk itu sendiri, yaitu bak kamar mandi. Keadaan bak mandi pada perumahan warga, pada umumnya berada dalam keadaan terbuka. Hal ini akan berpotensi vector nyamuk untuk berkembang biak, apalagi jika kondisi bak mandi yang jarang dikuras dan jarang diberi bubuk abate. Dengan pemodifikasian bak kamar mandi pada gagasan ini diharapkan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan telur, jentik nyamuk, dan kepompong yang merupakan stadium dari nyamuk menuju stadia nyamuk dewasa. Dan yang paling utama adalah menghambat penyebaran virus DBD, malaria, ataupun penyakit – penyakit yang dibawa oleh vektor nyamuk yang masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia.

  1. B.   Tujuan

Adapun tujuan dari gagasan kami adalah:               

  1. Memunculkan alternatif pengendalian vektor nyamuk yang inovatif, kreatif, efektif dan efisien
  2. Menjaga kualitas air di bak mandi agar tetap bersih
  3. Penghematan anggaran kuratif kesehatan pemerintah untuk DBD dan Malaria
  4. Terciptanya kemitraan antara pemerintah, pengusaha dan masyarakat dalam mewujudkan masyarakat Indonesia sehat
  1. C.   Manfaat

Bagi masyarakat

  1. Menambah pengetahuan tentang kesehatan
  2. Menumbuhkan kesadaran untuk peduli masalah kesehatan
  3. Mencegah terjangkitnya penyakit malaria dan DBD
  4. Dapat memanfaatkan tenaga kerja yang ada di masyarakat sekitar, sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan

Bagi pemerintah

  1. Membantu pemerintah dalam pengendalian vektor nyamuk kepada masyarakat secara luas.
  2. Membantu pemerintah dalam upaya menurunkan angka kesakitan DBD dan Malaria
  1. D.   Spesifikasi Teknis

Pada dasarnya cara kerja dari bak mandi anti nyamuk ini adalah menghambat nyamuk dewasa untuk menaruh telur didalam bak mandi. Bak mandi di dalam rumah – rumah penduduk pada umumnya dalam keadaan terbuka pada saat digunakan ataupun tidak saat digunakan. Disaat itulah nyamuk betina pada fase dewasa biasanya menaruh telur – telur di tempat yang berair (bak mandi) untuk berkembang biak. Oleh karena itu, bak mandi anti nyamuk ini menutup bak mandi selama tidak digunakan dengan harapan menghambat atau bahkan memutus siklus perkembang biakan nyamuk fase telur, jentik, dan kepompong.

Pembuatan bak mandi anti nyamuk ini dibuat dengan bahan plastik atau fiber glass. Dengan rincian bahan pembuatan seperti resin, katalis, talk, dan mat. Dengan sebelumnya dibuat terlebih dahulu cetakannya. Untuk cetakan dapat dibuat dengan bahan kayu. Bahan – bahan ini mudah ditemukan dengan harga beli terjangkau sesuai kebutuhan. Pembuatan bak mandi ini cocok untuk home industry ataupun formal industry.

Gambar 4. Desain bak mandi hasil inovasi

Gambar 5. Beberapa contoh bak mandi inovasi lain

Gambar 5. Desain contoh penerapan bak mandi inovasi

  1. E.   Keunggulan

Adapun keunggulan dari inovasi ini adalah sebagai berikut :

  1. Salah satu wujud alternatif sederhana untuk mencegah penyebaran DBD atau malaria.
  2. Membantu pemerintah untuk menghemat dana kuratif dalam menanggulangi malaria dan DBD pada masyarakat.
  3. Inovasi yang murah dan mudah untuk dibuat.
  4. Dapat digunakan untuk inovasi home industry ataupun industri formal.
  1. F.    Penerapan Pada Masyarakat

Inovasi ini belum terimplementasi di masyarakat. Namun, penulis yakin bahwa temuan atau inovasi ini dapat diterapkan pada masyarakat.

  1. G.   Prospek Pengembangan
    1. Analisa SWOT
      1. Identifikasi secara garis besar Butir SWOT:

1)   Kekuatan-kekuatan (strengths)

  • Bahan baku mudah ditemui
  • Harga bahan baku pembuatan relative terjangkau

2)   Kelemahan – kelemahan (weakness)

  • Implementasi belum terlaksana

3)   Peluang – peluang (opportunities)

  • Potensi kebermanfaatan untuk memberantas DBD dan malaria
  • Membuka lahan usaha baru
  • Potensi penyerapan tenaga kerja pada masyarakat sekitar

4)   Ancaman-ancaman (Threats)

  • Rendahnya intensitas beli dari konsumen terhadap inovasi baru
  1. Strategi Pengembangan Usaha

Beberapa langkah strategi penulis untuk mengimplementasikan inovasi ini, adalah sebagai berikut :

  1. Membuka jaringan dengan pengrajin bak mandi
  2. Menerapkan inovasi pada pembuatan bak mandi
  3. Menjual hasil inovasi pada konsumen dengan publikasi yang menarik
  4. Membuka usaha kerajinan bak mandi secara mandiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s