SENIOR ITU BUKAN PREMAN


Kategori : Opini gagal masuk koran
Date : 27 – 12 – 2011

ospekPremanisme, salah satunya kekerasan fisik, acap kali kerap terjadi bahkan di dunia kampus. Kekerasan di kampus, biasanya sering terjadi pada saat masa orientasi mahasiswa baru. Dengan dalih menumbuhkan respect, disiplin dan kekompakkan, senioritas dinodai dengan tingkah laku seperti “preman”. Hal – hal tersebut, lebih mendatangkan kerugian daripada manfaatnya. Jika itu dilakukan pada mahasiswa baru maka akan menimbulkan dendam dan akan membalaskan dendamnya pada mahasiswa baru lagi akhirnya akan terjadi terus menerus. Dan bukan rasa hormat dan segan yang berlaku untuk senior tapi rasa takut atau benci yang terjadi.

Sebenarnya untuk menumbuhkan rasa disiplin, hormat atau kekompakkan pada mahasiswa baru banyak cara yang bisa dilakukan. Bisa dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan kreatif. Misalnya, mengadakan acara tanam 1000 pohon di area kampus, membuat perlombaan, dan lain – lain. Dan diharapkan senior terlibat langsung bersama mahasiswa baru agar tidak terkesan eksklusif dan tumbuh rasa kekeluargaan.

One thought on “SENIOR ITU BUKAN PREMAN

  1. Saya pernah atau mungkin jaman menjadi mahasiswa bagian dari senior tersebut. Karena karakter saya, saya memainkan peran protagonis. Saya PJ evaluasi terkait perkembangan mereka. Ok, memang bagus si ada lomba-lomba tapi ketika tidak ada “pemaksaan didalamnya” maka tidak akan sesukses mendidik mereka. Kenapa?

    1. Mereka dari daerah berbeda
    2. TV yang mencerminkan dan membuat bayangan mereka tentang budaya kuliah yang hedonis
    3. Individualistis akan tercipta disana

    Kalau saja saat itu saya tidak mengikuti alur kaderisasi yang mungkin cenderung premanisme, yaa terkadang ada ucapan yang nyelekit si.. Namun tak pernah ada kontak fisik. Mungkin saat itu dan hingga kini saya tak mengenal teman satu angkatan saya, saya tak tahu budaya perkuliahan di tempat saya kuliah seperti apa, dan setelah melewati masa pelantikan… kekeluargaan benar-benar tumbuh sampai sekarang.

    Namun jika terlalu premanisme pun akan tidak baik. Harus imbang. Saya pernah menerapkan lomba-lomba karya tulis, kaderisasi ilmiah sebuatannya kala itu. Alhamdulillah sukses, namun masih ada bumbu “pemaksaan” disana. 2 tahun berikutnya, semua sistem “pemaksaan” itu dihilangkan, apa yang terjadi? kini cenderung apatis terhadap lingkungan perkuliahan, tak saling mengenal. Padahal setelah mereka memasuki the real world… Mereka takkan bisa seperti itu, karena kita makhluk sosial.

    Kaderisasi itu unik, perlu seni tersendiri dalam meraciknya
    Yang jelas, jangan meninggalkan generasi yang lemah

    Hidup mahasiswa ^^Y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s