HELIQUE (HELM UNIQUE) SEBAGAI ALTERNATIF BARU MEDIA PROMOSI KESEHATAN YANG UNIK GUNA MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT UNTUK PEDULI KESEHATAN SECARA MANDIRI


Artikel ini merupakan usulan PKM -GT yang ndak lolos dikti tahun 2011 hehe… daripada hanya dibiarkan membusuk di data laptop dan dibuang sayang, mending ku upload saja. Karena kami dari basic kesehatan masyarakat, usulan ini dibuat di bidang promosi kesehatan.  Semoga bermanfaat n_n
Disusun oleh (nama) (NIM) (angkatan):

Hikmatyar Rabbi A.    E2A008061                 2008

Indah Kurniasari         E2A008064                 2008

Yuniva Tri Lestari       25010110110021          2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gambaran umum media promosi kesehatan di Indonesia

Promosi atau pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat ,kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan kesehatan yang lebih baik.(Notoatmodjo, 2005)

Tujuan promosi kesehatan yaitu sebagai media yang dapat mempermudah penyampaian informasi, media dapat menghindari kesalahan persepsi, dapat memperjelas informasi, dapat mempermudah pengertian, mengurangi komunikasi yang verbalistik, dapat menampilkan obyek yang tidak bisa ditangkap mata dan dapat memperlancar komunikasi.(Yusup, 2008)

Ada beberapa macam media promosi kesehatan di Indonesia yang digunakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Macam media promosi kesehatan dapat dibagi:

  1. Berdasarakan bentuk umum  penggunaan
    1. Bahan bacaan : modul, buku rujukan/bacaan, leaflet majalah, buletin, tabloid dan lain-lain.
    2. Bahan peragaan : poster tunggal, poster seri, flip chart, transparansi, slide, film dan lain-lain.
  1. Berdasarkan cara produksi
    1. Media cetak

Yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan–pesan visual. Pada umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna. Contoh : poster, leaflet, brosur, majalah, surat kabar, lembar balik, stiker, pamflet.

Fungsi Utama : Memberi Informasi dan Menghibur

Kelemahan : Tidak dapat mensimulasi efek suara dan efek gerak dan mudah terlipat.

  1. Media elektronik

Yaitu suatu media bergerak dan dinamis dapat dilihat dan didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika. Contoh : televisi, radio, film, kaset, CD, VCD, DVD, slide show, CD Interaktif dan lain-lain.

Kelemahan : Biaya lebih tinggi, sedikit rumit, memerlukan energi listrik, diperlukan alat canggih dalam proses produksi, perlu persiapan yang matang, peralatan yang selalu berkembang  dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan, serta perlu keterampilan dalam pengoperasian.

  1. Media luar ruang

Yaitu suatu media yang menyampaikan pesannya di luar ruang secara umum melalui media cetak dan elektronik secara statis. Contoh : papan reklame, spanduk, pameran, banner, TV layar lebar dan lain-lain.

Kelemahan : Biaya lebih tinggi, sedikit rumit, ada yang memerlukan listrik dan atau alat canggih, perlu kesiapan yang matang, peralatan yang selalu berkembang dan berubah, perlu ketrampilan penyimpanan.

Media promosi kesehatan masih terbatas pada penggunaan media cetak (berbahan kertas, kain dan sejenisnya), media elektronik dan media luar ruangan, sehingga belum memanfaatkan media lain yang unik, kreatif, inovatif, efektif serta dapat menjangkau masyarakat luas. Selain terbatasnya jenis media yang digunakan, dana yang dialokasikan pemerintah untuk promosi kesehatan pun terbatas, sehingga perlu adanya media yang efektif dan efisien dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat.

Media promosi yang pernah ada memiliki keterbatasan jangkauan, misalnya untuk media cetak seperti leaflet atau poster diletakkan di tempat-tempat umum dan di daerah pelosok biasanya tidak ada. Untuk media elektronik memang bisa menjangkau daerah yang lebih luas dan informasi yang didapat lebih cepat serta lebih menarik, tetapi daerah terpencil tidak semuanya sudah memiliki jaringan listrik, hal ini menjadi kendala.

Seiring perkembangan zaman dan segala moderenisasi yang ada serta perubahan gaya hidup dalam masyarakat, maka perlu pengembangan media promosi kesehatan dengan memperbaiki yang sudah ada dan memodifikasi atau memunculkan alternatif media baru untuk promosi kesehatan. Hal ini diharapkan dapat menarik minat masyarakat terhadap masalah kesehatan.

Promosi kesehatan di Indonesia saat ini lebih banyak didominasi atau dibebankan kepada pemerintah. Sedangkan masyarakat belum banyak dilibatkan, padahal kesehatan adalah milik bersama dan harus diupayakan bersama-sama pula. Perlu adanya kemitraan lintas sektor dan partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri. Salah satunya adalah dengan upaya pemberdayaan masyarakat (community empowerment). Pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran, kepedulian, dan kemandirian masyarakat terhadap kesehatan (public health awareness).

Peluang helm untuk menjadi media promosi kesehatan

Keberadaan sepeda motor di Indonesia, telah menjadi bagian dari sistem transportasi kota dan memiliki peranan penting sebagai alat transportasi. Harga yang terjangkau, kemudahan pembelian, dan kemudahan mengendarai menjadi penyebab peningkatan jumlah kepemilikan sepeda motor. Selain itu dampak dari kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) dan tidak efisiennya angkutan umum juga menjadi penyebab penjualan sepeda motor di Indonesia semakin meningkat. Bila dibandingkan antara penjualan sepeda motor dengan mobil, seperti langit dengan bumi. Rasio kepemilikan antara keduanya di Indonesia pada tahun 2006 mendekati 1 unit mobil berbanding 13 unit sepeda motor (Trisulo, 21 Agustus 2007).

Volume penjualan yang terus meningkat. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), sepanjang Januari-September 2010 angka penjualan sepeda motor telah mencapai 5,5 juta unit. Tumbuh 34,14% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,1 juta unit (Kontan, 03 November 2010).

Di satu sisi, penggunaan kendaraan bermotor menjadi alternatif pemecahan masalah transportasi, tetapi di sisi lain menimbulkan masalah seperti menambah kemacetan lalu lintas dan kecelakaan pengguna sepeda motor. Guna melindungi pengendara sepeda motor, di Indonesia telah dibuat undang-undang tentang kewajiban memakai helm bagi pengendara sepeda motor. Undang-undang No.22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 106 Ayat 8 mensyaratkan bagi semua pengendara sepeda motor dan penumpangnya untuk memakai helm yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Pengendara dan atau penumpang yang tidak memakai helm dikenakan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan, atau denda sebesar Rp, 250.000 ( dua ratus lima puluh ribu rupiah). Untuk meminimalisir dampak kecelakaan sepeda motor (terutama pada bagian kepala), mengenakan helm yang memenuhi Standar Nasional Indonesia saat berkendara merupakan hal yang wajib mendapat perhatian khusus. Adapun dasar pemberlakuan standar Wajib Helm ber-SNI yaitu  Permen Perindustrian RI No. 40/M-IND/PER/4/2009 tentang Perubahan Atas Permen Perindustrian Nomor 40/M-IND/PER/6/2008 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua Secara Wajib. Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2010.

Tujuan

Adapun tujuan dari gagasan kami adalah:

  1. Memunculkan alternatif media promosi kesehatan baru yang inovatif, kreatif, efektif dan efisien
  2. Menambah nilai manfaat helm
  3. Menarik minat masyarakat  untuk  mengunakan helm standar
  4. Mendidik masyarakat untuk mengerti dan peduli terhadap kesehatan secara mandiri
  5. Penghematan anggaran promosi kesehatan pemerintah
  6. Terciptanya kemitraan antara pemerintah, pengusaha dan masyarakat dalam mewujudkan masyarakat Indonesia sehat

Manfaat

Bagi masyarakat

  1. Menambah pengetahuan tentang kesehatan
  2. Menumbuhkan kesadaran untuk peduli masalah kesehatan

Bagi pemerintah

1.  Membantu pemerintah dalam promosi kesehatan kepada masyarakat dengan  jangkauan pengguna helm yang luas hingga ke daerah-daerah

2.    Membantu pemerintah dalam sosialisasi penggunaan helm SNI

Bagi pengusaha

  1. Menciptakan peluang usaha baru
  2. Membantu meningkatkan omzet  penjualan produk helm

 

GAGASAN

Impelementasi Promosi Kesehatan di Indonesia

Salah satu faktor menentukan kualitas kesehatan masyarakat adalah pengetahuan kesehatan dari masyarakat. Angka kesakitan dan angka kematian di berbagai daerah di Indonesia yang tergolong masih tinggi. Angka kesakitan merupakan tolok ukur dari seberapa besar upaya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memperhatikan kesehatannya.

Hal tersebut didukung oleh data pemerintah melalui Susenas, yaitu data angka kesakitan yang dialami oleh pemuda berdasarkan jenis kelamin di berbagai provinsi. Pada provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki presentase angka kesakitan pemuda paling tinggi yaitu sebesar 24 persen dan lebih besar dialami oleh jenis kelamin laki-laki. Sementara di provinsi Jawa Tengah memiliki presentase angka kesakitan yang paling rendah yaitu 9,3 persen dan masih pada jenis kelamin laki – laki yang lebih besar daripada perempuan yaitu 12,70 persen banding 12,30 persen. (Susenas, 2007).

Saat ini, Pemerintah Indonesia dalam menanggapi masalah kesehatan masih lebih kearah kuratif. Hal ini dibuktikan pada pengalokasian dana untuk kesehatan di Republik Indonesia lebih banyak dianggarkan untuk kegiatan kuratif, tidak untuk promotif dan preventif. Padahal, paradigma kesehatan sejak era reformasi adalah paradigma pembangunan kesehatan yang mengutamakan upaya-upaya promosi dan preventif kesehatan tanpa mengabaikan upaya rehabilitatif dan kuratif. Oleh karena itu, upaya preventif dan promotif sangat penting kedudukannya dalam pembangunan kesehatan Republik Indonesia. (Badan Litbang Kesehatan, 2007). Anggaran dana untuk promosi kesehatan misalnya, masih tergolong minim. Pada tahun 2008 anggaran dana untuk promosi hanya kesehatan mencapai 80 miliar rupiah dan pada tahun-tahun sebelumnya nilainya tidak jauh berbeda. Kondisi demikian mengakibatkan pemerintah sulit untuk melakukan kegiatan promosi kesehatan guna menurunkan angka kematian ibu dan anak, pencegahan penyakit AIDS, tuberkulosis dan malaria serta promosi penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. (Kompas,2008).

Untuk meningkatkan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya kesehatan secara mandiri, hal yang paling sering digunakan adalah melalui media promosi kesehatan. Melalui media, informasi-informasi yang memuat pesan-pesan kesehatan dapat dilakukan secara cepat dan terjangkau dengan luas. Sarana yang sering digunakan adalah melui media cetak, elektronik dan luar ruangan. Sudah berbagai sarana yang sudah digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan baik melalui leaflet, poster, film, papan reklame, dan iklan layanan masyarakat. Namun, pada kenyataannya sekarang impelementasi promosi kesehatan melalui media-media tersebut kurang efektif dan masyarakat masih minim akan kesadaran untuk peduli kesehatan. Sejak tahun 2009, sekitar 250 miliar dari 24,8 triliun anggaran yang diusulkan Depkes untuk promosi kesehatan dan dinas kesehatan mendapatkan anggaran ketiga terbesar setelah PU dan Diknas pada tahun 2010 lalu ternyata belum mampu untuk menjamin kesehatan masyarakat karena masih rendahnya kesadaran masyarakat pentingnya menjaga kesehatan. (Abdul Khoir, 2010).

Oleh karena itu, diperlukan terobosan sarana media promosi kesehatan yang baru guna membantu sarana media-media yang sudah ada. Sarana media yang dimaksud adalah media yang mudah, terjangkau luas untuk masyarakat, kreatif, dan yang terpenting adalah memuat isu – isu dan pesan – pesan kesehatan secara global.

Upaya yang Telah Ada untuk Meningkatkan Kesadaran Masyarakat  Peduli Kesehatan

Intervensi sebagai upaya pencegahan masalah kesehatan masyarakat   dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya adalah menggunakan media untuk mempromosikan kesehatan. Promosi kesehatan tidak dapat lepas dari media karena melalui media, pesan-pesan yang disampaikan dapat lebih menarik dan dipahami, sehingga sasaran dapat mempelajari pesan tersebut sehingga sampai memutuskan untuk mengadopsi perilaku yang positif. (Notoatmodjo, 2005). Beberapa tujuan atau alasan lain mengapa media sangat diperlukan di dalam pelaksanaan promosi kesehatan antara lain adalah media dapat mempermudah penyampaian informasi, menghindari kesalahan persepsi, memperjelas informasi mempermudah pengertian, mengurangi komunikasi yang verbalistik, dapat menampilkan obyek yang tidak bisa ditangkap dengan mata, memperlancar komunikasi dan lain-lain. (Notoatmodjo, 2005)

Beberapa media yang digunakan untuk promosi kesehatan saat ini, baik media cetak maupun elektronik, kebanyakan dari beberapa media tersebut menggunakan metode yang lama. Seperti halnya poster. Poster adalah sehelai kertas atau papan yang berisikan gambar-gambar dengan sedikit kata-kata. Kata-kata dalam poster harus jelas artinya, tepat pesannya dan dapat dengan mudah dibaca pada jarak kurang lebih 6 meter. Poster biasanya ditempelkan pada suatu tempat yang mudah dilihat dan banyak dilalui orang misalnya di dinding balai desa, pinggir jalan atau papan pengumuman. Gambar dalam poster dapat berupa lukisan, ilustrasi, kartun, gambar atau foto. Poster terutama dibuat untuk mempengaruhi orang banyak, memberikan pesan singkat. Karena itu cara pembuatannya harus menarik, sederhana dan hanya berisikan satu ide atau satu kenyataan saja. Poster yang baik adalah poster yang mempunyai daya tinggal lama dalam ingatan orang yang melihatnya serta dapat mendorong untuk bertindak. (Departemen Kesehatan RI, 2004).

Namun ada beberapa kelemahan di dalam media promosi kesehatan yang menggunakan poster, yaitu gambar ataupun tulisan harus jelas, tidak nyata atau hanya 2 dimensi, dan poster hanya bisa ditempel di suatu tempat sehingga pesan hanya bisa tersampaikan kepada orang yang melintas di tempat tersebut. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan penyampaian pesan dalam bentuk gambar dan/atau tulisan harus dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dimengerti dan menarik bagi siapapun yang melihatnya (Hess, Tosney, Liegel, 2009)

Salah satu upaya pemerintah untuk promosi kesehatan melalui media adalah iklan layanan masyarakat. Promosi kesehatan melalui media iklan di televisi dapat memodifikasi perilaku spesifik berdasarkan prinsip pengkondisian melalui rangsangan. Namun, menyampaikan pesan-pesan kesehatan melalui iklan di televisi mendapatkan kritik dari anggota DPR yang menyatakan bahwa promosi kesehatan haruslah dilakukan lebih dekat kepada masyarakat, tidak ditayangkan di televisi semata. Karena agar anggaran bidang promosi kesehatan untuk tahun 2009 dioptimalisasikan dengan tidak menekankan promosi melalui media televisi semata. (Kompas, 2010)

Penerapan Helique sebagai Alternatif Media Promosi Kesehatan yang Unik

Helm adalah topi pelindung kepala yang dibuat dari bahan yang tahan benturan (dipakai oleh tentara, anggota barisan pemadam kebakaran, pekerja tambang, penyelam sebagai bagian dari pakaian, pengendara sepeda motor, dan sebagainya). (KBBI, 2005). Helm dapat memberi perlindungan tambahan pada sebagian dari kepala (bergantung pada strukturnya) dari benda jatuh atau berkecepatan tinggi. Namun dalam penulisan ini, helm yang penulis maksudkan adalah helm yang biasanya digunakan sebagai perlindungan kepala untuk aktivitas berkendara. Penulis ingin memberikan nilai lebih untuk helm yang tidak sekedar memberi perlindungan untuk kepala saja, tetapi sekaligus bisa memberi  pesan dan isu kesehatan kepada masyarakat sebagai sarana media promosi kesehatan yang baru. Oleh karena itu, helm media promosi kesehatan tersebut kami sebut dengan “Helique”.

Helique (Helm Unique) atau helm unik adalah helm yang biasa dipakai oleh para pengendara sepeda motor yang didesain atau bermotif gambar atau tulisan tentang pesan-pesan kesehatan, helm unik ini dijadikan sebagai media promosi kesehatan dengan pesan-pesan kesehatan yang tampak dari luar helm.

Pada teori perubahan perilaku dalam promosi kesehatan, perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon (Skinner, cit. Notoatmojo 1993). Perilaku tersebut dibagi lagi dalam 3 domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif diukur dari pengetahuan, afektif dari sikap psikomotor dan tindakan (ketrampilan). Berhubungan dengan hal tersebut, tindakan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap dan kepercayaan (Notoatmojo, 1993). Menurut Notoatmojo (1993), pengetahuan merupakan hasil dari tabu akibat proses penginderaan terhadap suatu objek. Penginderaan tersebut terjadi sebagian besar dari penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan yang cakap dalam koginitif mempunyai enam tingkatan, yaitu mengetahui, memahami, menggunakan, menguraikan, menyimpulkan dan evaluasi.

helique

Pada teori-teori yang dikemukakan di atas, merupakan teori yang saling berkaitan untuk mengubah perilaku seseorang berdasarkan pengetahuan kesehatan akibat proses dari penglihatan. Dari tahap-tahap teori inilah, fungsi dasar Helique dapat menjadi sarana baru media promosi kesehatan. Dengan melihat fungsi dasar tersebut, Helique juga dapat berperan sebagai salah satu teknologi (Technological approach) komunikasi kesehatan untuk intervensi perubahan perilaku.

Disamping itu, salah satu alasan mengapa helm yang dimaksud merupakan helm untuk sepeda motor adalah melihat dari konsumen sepeda motor di Indonesia yang tergolong tinggi sehingga dapat memudahkan perluasan jangkauan dalam promosi kesehatan kepada masyarakat. Penggunaan Helique, seperti helm pada umumnya, pesan atau isu kesehatan yang tertera pada helm tersebut akan dibaca dan dipahami oleh masyarakat yang melihat kemana pun pemilik Helique tersebut berpergian dan  tidak selalu diam ditempat seperti halnya poster.

Realisasi penjualan sepeda motor di Indonesia tahun 2010 menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menembus angka 7,39 juta unit, naik 25 % dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai angka 5,8 juta unit. (Budi Prasetyo, 2011). Melihat dari data tersebut, dapat diperkirakan penjualan maupun jumlah helm yang akan diproduksi pun akan semakin meningkat di tahun 2011 ini.

Menjalin Kemitraan Kesehataan dalam Penerapan Helique sebagai Alternatif Media Promosi Kesehatan yang Unik

Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak secara individual atau kelompok. Menurut Notoatmojo (2003), Kemitraan adalah suatu kerjasama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Sedangkan menurut Depkes (2006) dalam promosi kesehatan Online mengemukakan bahwa kemitraan adalah hubungan atau kerjasama antara dua belah pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat.

Health problem adalah tanggung jawab bersama setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta. Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan merupakan sektor yang paling depan dalam bertanggung jawab (leading sector), namun dalam mengimplementasikan kebijakan program, intervensi harus bersama-sama dengan sektor lain, baik pemerintah maupun swasta. Dengan kata lain sektor kesehatan seyogyanya merupakan pemrakarsa dalam menjalin kerjasama atau kemitraan (partnership) dengan sektor-sektor terkait. (Notoatmodjo, 2003)

Salah satu aktor kemitraan dalam hal ini yang paling besar peranannya adalah masyarakat. Berdasarkan data AISI yang telah disebutkan, masyarakat Indonesia yang notabene adalah salah satu konsumen sepeda motor sekaligus helm terbesar, mendapat peranan penting untuk ikut serta dalam menyebarkan pesan dan isu kesehatan menjangkau kepada masyarakat secara luas. Diharapkan ketika sedang atau tidak menggunakan Helique, pesan kesehatan yang ada pada  Helique dapat dilihat, dibaca, dan dipahami oleh masyarakat sehingga dapat memunculkan public health awareness pada masyarakat secara mandiri sesuai dengan teori perubahan perilaku yang telah dikemukakan sebelumnya.

Dalam hal ini para pengusaha swasta produsen helm juga ikut berperan dalam pelaksanaan program. Peranan perusahaan produsen helm yaitu memproduksi helm-helm yang bergambar dan/atau bertuliskan pesan dan isu kesehatan yang menarik sesuai keinginan pasar terkini dan tentu sesuai standar nasional (SNI). Perusahaan tersebut juga akan mendapatkan keuntungan besar jika Helique bisa menjadi trend di pasar dan mungkin akan didukung oleh para stakeholder seperti Kementerian Kesehatan dan kepolisian jika mampu memuaskan konsumen dan berkontribusi dalam upaya pendidikan kesehatan masyarakat.

Apabila semua pihak yang terkait dalam menjalin kerjasama berperan se

suai proporsinya, maka sumbangan besar bagi negara ini untuk ikut andil dalam upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan secara mandiri, menanamkan mindset  preventif lebih baik daripada kuratif kepada masyarakat, mencerdaskan masyarakat, serta mendukung MDG’s (Millenium Development Goal’s) oleh pemerintah Republik Indonesia.

 

 

KESIMPULAN

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan secara mandiri, hal ampuh yang digunakan adalah melalui media promosi kesehatan. Diperlukan terobosan sarana media promosi kesehatan baru guna membantu sarana media-media yang sudah ada. Sarana media yang dimaksud adalah media yang mudah, terjangkau luas untuk masyarakat, kreatif dan yang terpenting adalah memuat isu-isu dan pesan-pesan kesehatan secara global.

Terobosan baru media promosi kesehatan itu adalah berupa helm. Penulis ingin memberikan nilai lebih pada helm yang tidak sekedar memberi perlindungan untuk kepala saja, tetapi sekaligus mampu memberi  pesan dan isu kesehatan kepada masyarakat sebagai sarana media promosi kesehatan yang baru. Oleh karena itu, helm media promosi kesehatan tersebut kami sebut dengan “Helique”.

Helique (Helm Unique) atau helm unik adalah helm yang biasa dipaka

i oleh para pengendara sepeda motor yang didesain atau bermotif gambar atau tulisan tentang pesan-pesan kesehatan yang tampak dari luar helm. Helique juga dapat berperan sebagai salah satu teknologi (Technological approach) komunikasi kesehatan untuk intervensi perubahan perilaku. Penggunaan Helique, seperti helm pada umumnya, pesan atau isu kesehatan yang tertera pada helm tersebut akan dibaca dan dipahami oleh masyarakat yang melihat kemana pun pemilik Helique tersebut berpergian dan  tidak selalu diam ditempat seperti halnya poster.

Dalam mengupayakan program ini, aktor kemitraan yang paling besar berperan adalah masyarakat. Para pengusaha swasta produsen helm pun ikut berperan. Peranan perusahaan produsen helm yaitu memproduksi helm-helm bergambar dan/atau bertuliskan pesan dan isu kesehatan sesuai keinginan pasar dan sesuai standar nasional (SNI). Perusahaan akan mendapatkan keuntungan besar jika Helique bisa menjadi trend di pasar dan akan merambah dukungan dari para stakeholder (Kementerian Kesehatan atau kepolisian).

Apabila semua pihak yang terkait dalam menjalin

kerjasama berperan sesuai proporsinya, maka sumbangan besar bagi negara dalam upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan secara mandiri, mencerdaskan dan  menanamkan mindset  preventif daripada kuratif kepada masyarakat, serta mendukung MDG’s (Millenium Development Goal’s) oleh pemerintah Republik Indonesia.

helm

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Nurudin. http://bataviase.co.id/node/241350 (online), diakses 13 Februari  2011, 21.15 WIB.

BSN. http://www.bsn.go.id/news_detail.php?news_id=1581(online), diakses 14 Februari 2011, 13.00 WIB.

Khoir, Abdul. Kesehatan Hidup Sehat Masih Rendah. http://www.borneotribune.com/sanggau/kesadaran-hidup-sehat-masih-rendah.html, diakses tanggal 5 Februari pukul 20.08 WIB.

Khoirul J, Ied. http://bataviase.co.id/node/239371 (online), diakses 13 februari 21.11WIB.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta:Rineka Cipta. Cetakan I, hlm 284-296.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta:Rineka Cipta. Cetakan I, hlm 69-70.

Supratman. http://file.upi.edu/Direktori/E%20-%20FPTK/JUR.%20PEND.TEKNIK%20SIPIL/195210211979031%20-%20SUPRATMAN/STUDI%20SEPEDA%20MOTOR.pdf (online), diakses 13 Februari 2011, 22.15 WIB.

Susanto, Abdi. Anggaran Promosi Kesehatan Minim. http://nasional.kompas.com/read/2008/09/18/19174594/anggaran.promosi.kesehatan.minim. Diakses tanggal 5 Februari pukul 21.07 WIB.

Susenas. Angka Keseakitan Pemuda Menurut Propinsi dan jenis Kelamin. http://www.pdfgemi.com/download/Angka+Kesakitan+Pemuda+Menurut+Propinsi+dan+Jenis+Kelamin-UURL-kppo.bappenas.go.id/files/-11-Angka%20Kesakitan%20Pemuda%20Menurut%20Propinsi%20dan%20Jenis%20Kelamin.pdf.html. Diakses tanggal 5 Februari pukul 20.05 WIB.

Susilo, Djoko. http://www.komisikepolisianindonesia.com/main.php?page=ruu&id=139 (online), diakses 13 Februari, 21.27 WIB.

Yusup E.S. Media Promosi Kesehatanhttp://yusup.files.wordpress.com/2008/06/media-promkes.pdf (online). diakses 30 Januari 2011 pukul 12.16 WIB.

2 thoughts on “HELIQUE (HELM UNIQUE) SEBAGAI ALTERNATIF BARU MEDIA PROMOSI KESEHATAN YANG UNIK GUNA MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT UNTUK PEDULI KESEHATAN SECARA MANDIRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s