SANG OUTLIER


Pak Raswan. Begitu dia akrab dipanggil murid – muridnya di sekolah. Sosok tegap layaknya polisi, sederhana,  kulit cokelat sawo matang, berbicara lantang, supel, dan disiplin, itu karakter khasnya. Dia salah satu seorang guru saat aku masih duduk dibangku SMP delapan tahun yang lalu. Tepatnya di SMP Muhammadiyah desa Sawojajar. Sebuah sekolah yang lebih banyak mengajarkan agama di mata pelajarannya. SMP itu bertempatkan di desa pelosok dengan daerah geografis sangat dekat dengan laut utara kota Brebes.

Kami tinggal di kota yang mempunyai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah dari 35 kota lainnya se Jawa Tengah. Dan bisa anda bayangkan, desa kami termasuk daerah pelosok dari kota kami sendiri. Tentu saja infrastruktur pendidikan seadanya, sarana prasarana jauh dari kata cukup, kualitas SDM (siswa maupun pengajar) kurang, dan yang paling penting adalah kompetensi dan atmosfer kompetisi SMPku bisa dibilang sangat redup dengan SMP – SMP lainnya di kota Brebes atau bahkan dengan kelas kecamatan saja bisa dibilang sangat kurang ratingnya. Sistem pendidikannya pun bisa ditebak. Dan juga dulu, saat aku masih SMP, di sekolah internet belum ada bahkan di desa. Murid – murid belum mempunyai Handphone. Komputer hanya ada di ruang kepala sekolah, kebanyakan masih menggunakan mesin tik. Fotocopi kalau tidak salah hanya satu di desaku dulu. Dan sekolah kami itu termasuk yang “mewah” (mepet sawah).. Rata – rata orang tua murid berpenghasilan dari hasil bertani, nelayan dan budidaya ikan dan garam. Kebanyakan orang kaya di desa kami menyekolahkan anak – anaknya di kota yang kualitas pendidikannya otomatis jauh lebih tinggi dari sekolahku dulu.

Sekolahku dulu sangat minim prestasi, kegiatan ekstrakurikuler hanya jalan sekedar “ada” saja atau hanya untuk “pantas – pantas” ada di sekolah. Kami seperti katak dalam tempurung saat itu. Namun, semua berubah saat Pak Raswan datang ke sekolah kami. Dia seperti guru softskill khusus buat kami. Dan yang pertama serta yang paling penting dia ajarkan pada kami, yaitu tentang berbicara.

“Kalian harus bisa ngomong!”, kata beliau lantang, disaat mengisi kegiatan ekstrakulikuler Pramuka. Satu eskul yang tidak produktif mengoleksi prestasi. Tentu saja sebelum dia menyuruh kami bisa berbicara Dia sudah mencontohkan. Dan dia memberikan contoh yang baik menurut aku saat itu. Berbeda cara dia berbicara dengan guru – guru yang biasa kami mengajar. Biasanya guru – guru kami hanya berbicara seperti untuk dirinya sendiri, pesannya tak tersampaikan ke otak kami dan kadang juga hanya membaca dan mengutip dari buku. Guru – guru terkesan mengajar dengan suasana “yang penting ngajar dan cepat  – cepat selesai”. Namun Pak Raswan berbeda, punya alur dan berseni. Kadang dengan nada tinggi, kadang bahkan dengan berbisik. Kadang bisa membuat kami tegang serius dan bisa juga tertawa terbahak – bahak. Dia bisa menyulap dirinya menjadi pelawak handal dan bisa menjadi orator ala Soekarno. Yang jelas tak lepas dari pandangan mata kami ke Pak Raswan saat berbicara. Semua audiens terfokus saat serius ataupun santai dan semua yang diomongkannya bisa dicerna dalam pikiran dan kadang sampai dihati.

Kemampuan berbicara memang penting untuk semua orang. Tanpa skill komunikasi apalagi berani berbicara didepan, mengungkapkan pendapat di suatu forum dan lain – lain akan terasa kurang sempurna walaupun memiliki IQ diatas rata – rata. Sesuai yang Pak Raswan bilang ke kami dulu, “Orang pinternya kayak apa, sampai rambutnya nggak adapun, kalau nggak bisa ngomong,..percuma!”, ujar Pak Raswan yang ke sekolah sering menggunakan sepeda di tiap harinya itu. Kata – kata itu rupanya melekat kuat dalam diriku. Dan kami pun dilatih untuk berbicara didepan, apapun itu walaupun hanya menyampaikan satu kalimat, kami terus disuruh bicara didepan. Terbukti, aku yang dulu termasuk kategori orang yang enggan mengungkapkan sesuatu, pendiam, kini bisa berani berbicara mengungkapkan pendapat  di depan forum hingga sekarang diriku dapat sering dipercaya menjadi pimpinan sidang rapat mahasiswa yang pasti kerap kali berdebat.

Dulu di saat kami mengikuti kegiatan Pramuka, Pak Raswan menempa skill, merubah karakter, maupun fisik kami habis – habisan. Dari kami yang menganggap datang terlambat itu wajar, menjadi jika terlambat datang, bisa berinisiatif menghukum diri sendiri. Dari ikut Pramuka yang berangkat terkesan “terpaksa” hingga menjadi kegiatan yang ditunggu – tunggu. Semuanya berubah suasananya.

Suatu saat Pak Raswan mendaftarkan eskul Pramuka SMP kami ke perlombaan Pramuka terbaik se- Kabupaten Brebes. Aku masih ingat disana banyak hal yang belum pernah kami jumpai dan alami. Mulai dari tempatnya, teman – teman kenalan baru dari pesertanya, proses perlombaannya, kemampuan masing – masing peserta, dan semuanya.

Mengikuti perlombaan ataupun kompetisi sangat penting untuk siswa sekolah dalam eksplorasi dan menyalurkan minat dan bakatnya. Melatih rasa percaya diri, dan kemampuan yang lain. Sebuah ajang ataupun kompetisi khususnya yang diadakan diluar sekolah bisa memberikan pengalaman baru bagi siswanya agar tak hanya menjadi “katak dalam tempurung” di sekolahnya. Saat itu banyak hal yang kami ambil untuk pelajaran, walaupun kami akhirnya tidak memenangkan lomba itu. Kami bisa belajar dari kekalahan kami, bahwa memang kemampuan kami saat itu belum ada apa – apanya dibandingkan SMP lain yang mungkin sudah berpengalaman dan mempunyai abilitas skill yang jauh diatas kami. Dengan mengikuti lomba itu kami – khususnya aku- bisa mengukur sudah sejauh mana kemampuan yang kami miliki saat itu.

“Tak apa, masih ada 1 kesempatan lagi”, kata pak Raswan sambil tersenyum. Memang nanti ada Jambore Pramuka se – Kecamatan yang tiap tahun diadakan saat itu. Dia mengajarkan kekalahan adalah hal biasa dalam kompetisi. Kami mengira akan dimarahi olehnya. Karena biasanya memang Pak Raswan dalam melatih kami saat serius itu bak “singa yang lapar” dan persiapan latihan yang menguras tenaga dan waktu. Mental kami sudah biasa digembleng. Jika dimarahipun, kami tak merasa kaget. Namun, ternyata tidak. Ternyata kami bisa pulang dengan senang, tertawa – tawa bahkan sambil bernyanyi dipandu oleh Pak Raswan yang memang juga cakap tuk bernyanyi itu.

Saya akui, untuk merubah sifat siswa – siswa nakal seperti kami memang butuh ketegasan. Namun bukanlah kekerasan. Dahulu -masih disaat yang sama-  ada guru kami yang suka menggunakan kekerasan untuk meredam kami jika melakukan kesalahan. Seringnya guru itu menampar kami saat melakukan hukuman. Mungkin perlakuan kekerasan seperti itu baru ter-publish  di media saat – saat sekarang ini. Namun, untuk kami perlakuan kasar guru pada muridnya sudah lama terjadi dan sudah menjadi pemandangan biasa saat aku dibangku SMP dulu. Namun yang dilakukan Pak Raswan itu berbeda, dia tegas tapi bukan kasar. Entah dengan hipnotis apa, dia bisa membuat “takluk” kami dan membuat kami menurut kepadanya. Jika kami melakukan kesalahan di sekolah bukannya takut tapi merasa segan jika ditegurnya. Dia bisa menjadi guru, pelatih atau bahkan teman terbaik kami. Kami bisa berbagi cerita apapun, hal tentang sekolah maupun hal pribadi. Seolah tidak ada gap atau jurang pemisah antara guru dan muridnya. Namun tentu saja kami masih menaruh respect terhadapnya. Aku kira jarang menemukan guru yang berkapabilitas seperti Pak Raswan ini. Dia seperti aktor bisa menyulap dirinya pada kami sesuai peran yang dibutuhkan. Tanpa melakukan kekerasan, Dia bisa membuat kami sadar menghukum diri sendiri jika datang terlambat berangkat Pramuka.

Dan disaat Jambore itu datang, kami sudah berbeda dari kompetisi pertama. Kami lebih bersemangat, kami lebih siap dan kami lebih percaya diri akan membawa tropi piala pertama. Dan anda mungkin sudah tahu hasilnya. Disaat Jambore berlangsung kami menjadi juara umum di setiap cabang perlombaan hingga akhirnya kami menang juara pertama. Juara pertama untuk pertama kalinya dalam sejarah Pramuka di SMP kami. Dan itu terjadi di angkatan kami, angkatanku. Ini merupakan proses yang tidak semua orang bisa alami. Kami merasa sangat bangga ketika piala terbaik putra dan piala terbaik putri itu diserahkan kepada Kepala Sekolah saat upacara bendera. Itu upacara bendera terkhidmat yang pernah aku alami dengan rasa bangga yang membuncah sangat hebat. Tak akan pernah dan tak akan bisa aku lupakan hingga saat ini.

Perlu pembaca ketahui Pak Raswan saat itu bukanlah seorang lulusan sarjana. Di sekolah, pagi dia menjadi petugas perpustakaan SMP kami, dan disaat sore dia menjadi pelatih softskill kami. Seorang lulusan SMA saja bisa melakukan perubahan yang besar kepada murid – muridnya. Perubahan yang hingga kini sangat penting untuk pendidikannya, karirnya atau bahkan hidupnya. Seorang guru sudah seharusnya senantiasa bisa memberikan ilmu selain dari ilmu untuk hardskill muridnya. Agar tercetak generasi – generasi berpendidikan serta berkepribadian. Itu yang dibutuhkan Indonesia saat ini. banyak orang cerdas dan kaya namun miskin hati dan kelakuannya seperti orang yang tak berpendidikan. Tentu sangat berbahaya jika analogi “maling berpendidikan” itu terlalu banyak lahir di Indonesia. Para siswa sekolah yang sudah dibebankan dengan materi kurikulum yang sangat banyak seperti sekarang ini, tentu saja sangat memerlukan ilmu softskill agar siswa tidak bosan, atau bahkan stres untuk bisa menyeimbangkan otak kanan dan otak kirinya. Dan tidak hanya untuk menyeimbangkan, namun juga untuk menyalurkan potensi minat bakat agar siswa Indonesia bisa berprestasi sejak dini. Disini penulis ingin menceritakan pengalaman saat dibangku SMP serta agar bisa menginspirasi para guru di seluruh Indonesia. Beruntung, aku menemukan seorang guru yang berbeda dengan guru yang lain. Sosok yang out of the box dalam pikiran dan perlakuannya, dan dia adalah….sang Outlier.

Semarang, 8 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s