KB, TAK SEPENUHNYA HARAM TAK SEPENUHNYA HALAL


Oleh : Hikmatyar R.A

Dewasa ini banyak perdebatan di kalangan para ulama, diskusi – diskusi dan konsultasi di berbagai media internet maupun secara terbuka (diskusi publik). Perdebatan tersebut mengenai hukum dalam islam, program pemerintah nasional yang bertujuan untuk mengurangi angka ledakan penduduk di Indonesia, yaitu KB (Keluarga Berencana). Menurut pendapat para ulama nasional maupun internasional, merujuk pada dasar hukum suci islam Al – Qur’an dan As Sunnah, penerapan program KB dan berbagai apilikasinya hukum asalnya adalah haram. Namun, ada juga pihak yang menentang karena tidak semua aplikasi dari program KB itu adalah haram untuk diimplementasikan untuk masyarakat. Penduduk indonesia yang notebene mayoritas beragama islam, diharapkan mengetahui dan paham mana dari berbagai aplikasi program KB yang tidak bertentangan dengan syariat islam dan mana yang bertentangan.

Negara Indonesia termasuk negara yang memiliki kategori jumlah penduduk yang padat. Indonesia meraih peringkat ke – 4 setelah USA, China, dan India yang memiliki penduduk terbanyak. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia saat sensus penduduk tahun 2010 lalu adalah sekitar 229.964.720 jiwa. Diprediksikan akan terus semakin meningkat di tiap tahunnya. Pertumbuhan penduduk tersebut, dianggap sebagai “ancaman” untuk Indonesia karena berpotensi terjadi ledakan penduduk yang bisa menghambat pembangunan di berbagai sektor. Hambatan tersebut disebabkan tidak lain karena takut terlalu banyak SDM yang tidak berkualitas semakin mendominasi menghabiskan SDA di Indonesia. Ketidakselarasan pemerataan penduduk di wilayah Indonesia juga menambah ruang lingkup permasalahan selain laju pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan akses kebutuhan dasar yang menipis. Lapangan pekerjaan yang tidak memadai untuk memberikan tanggungan hidup bagi kesejahteraan semua warga tersebut dianggap dapat memicu pula angka pengangguran dan kriminalitas.

Untuk mencegah terjadinya ledakan penduduk, pemerintah mencanangkan program Keluarga Berencana (KB) pada masyarakat. KB lahir berdasarkan konsep teori populasi dari Eropa oleh pastur Thomas Robert Maltus pada tahun 1798, ketika ia mempublikasikan sebuah essai berjudul “Prinsip-Prinsip Kependudukan”, dimana dia mengemukakan karena pertumbuhan penduduk meningkat secara geometri sementara kebutuhan meningkat secara aritmetika menyebabkan kemiskinan dan penderitaan tidak dapat dihindari. Oleh karena itulah ia berpendapat bahwa mengendalikan dengan menggunakan kontrasepsi dapat dilakukan untuk membatasi jumlah anak.

Di Indonesia, program KB dikoordinasikan oleh institusi pemerintah yaitu Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Di tahun 2010 lalu, BKKBN telah melakukan revitalisasi visi dan misinya dalam rangka lebih mendukung pencapaian hasil yang optimal pasca terbitnya UU No 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Visi dan misi BKKBN sekarang ini adalah “Penduduk Seimbang 2015” dan “Mewujudkan Pembangunan yang Berwawasan Kependudukan dan Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera” sedangkan visi dan misi sebelumnya yakni “Seluruh Keluarga Ikut KB” dengan “Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera”. Banyak aplikasi yang dilaksanakan guna untuk mendukung program dan upaya dari KB tersebut. Yang antara lain adalah memberdayakan dan menggerakkan masyarakat untuk membangun keluarga kecil berkualitas, menggalang kemitraan dalam peningkatan kesejahteraan, kemandirian, ketahanan keluarga, meningkatkan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.

Disini, penulis tidak menentang sepenuhnya alasan kenapa dicanangkan program KB kepada masyarakat dan penulis juga tidak mendukung sepenuhnya aplikasi program KB kepada masyarakat. Memang benar jumlah penduduk dunia saat ini sangat besar, mayoritas berada dalam kemiskinan dan kesengsaraan, salah satunya Indonesia. Namun sebenarnya tidak ada kolerasi diantaranya. Jika besarnya jumlah penduduk dianggap menghambat kemajuan ekonomi, maka seharusnya China adalah negara terbelakang, karena kita telah mengetahui 3 negara dengan penduduk terbesar adalah China, India dan USA. Tetapi masyarakat dunia tahu bahwa dengan penduduk yang besar pun, China tetap maju dan terdepan dalam perekonomian, begitu juga India dan USA.

Dan banyak produk – produk dari China yang diimport ke Indonesia. Begitu pula sebaliknya, jika SDM tidak terlalu banyak maka SDA yang tersedia bisa efektif digunakan. Namun, itu salah besar. Contohnya Papua. Tanah Papua kaya sumber daya hutan, laut, tambang, minyak, mineral, gas bahkan gunung emas. Tapi pulau yang jumlah penduduk kecil itu justru terbelakang, miskin, bahkan kelaparan. Dan yang ironisnya lagi, SDA dari tanah itu bukan penduduk asli yang lebih banyak menikmati tetapi justru sektor asing yang lebih mengeruk kekayaan alam dengan berkedok “kerjasama”.

Di dalam Islam, memiliki keturunan yang banyak merupakan anjuran. Allah SWT memuji siapa yang ingin mempunyai banyak keturunan (keluarga besar). Untuk itu memperbanyak keturunan sangat dianjurkan, sehingga perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang mandub (dianjurkan) bukan hanya mubah (diperbolehkan) dan perbuatan ini bukanlah suatu kewajiban, hal ini hanyalah suatu perbuatan yang dianjurkan saja. Memperbanyak keturunan merupakan perbuatan yang mandub, hal ini bertolak pada hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda : “Nikahilah wanita yang sayang dan subur, maka aku akan bangga padamu.” Mu’qil bil Yassar melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur keturunannya karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para nabi yang lain pada hari kiamat nanti”. At Tabrani dari bukunya yang berjudul Al Mu’jam Al Kabeer, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Menikahlah agar kamu mempunyai banyak keturunan (keluarga besar).”

Menurut visi misi serta tujuan dari program KB, KB dapat didefinisikan menjadi 2 hal, yaitu sebagai program nasional yang ingin membatasi kelahiran dalam suatu keluarga (tahdid an-nasl) dan mengatur/mencegah kehamilan oleh individu di keluarga (tanzhim an-nasl). Yang pertama, KB sebagai program nasional yang bertujuan untuk membatasi kelahiran atau yang dikenal dengan istilah tahdid an-nasl itu diharamkan atau tidak diperbolehkan. Hal itu dikarenakan bertentangan dengan anjuran islam dalam memperbanyak keturunan berdasarkan hadits yang sudah dijelaskan diatas. Salah satu alasan kenapa program KB itu dicanangkan adalah khawatir tidak bisa mensejahterakan anggota keluarganya. Hal itu bertentangan dalam dasar hidup manusia Al-Qur’an surat Huud ayat 6 yang mempunyai arti :

“Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.”

Ayat itu menjelaskan bahwa Alloh sudah mengatur rizki kepada semua makhluk termasuk manusia tinggal seberapa besar usaha untuk meraihnya. Hal ini juga didukung hasil studi yang dilakukan oleh FAO (Food and Agricultural Organization) pada bulan Mei tahun 1990 mengumumkan bahwa, produksi pangan dunia ternyata mengalami surplus 10 % untuk dapat mencukupi seluruh populasi penduduk dunia apalagi Indonesia. Islam memberikan serangkaian aturan untuk mempertahankan keturunan seperti pernikahan dan juga untuk memeliharanya, terkait firman Alloh SWT, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepadamu”. Dan Alloh SWT juga berfirman, “Dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan.” Serta pada QS Ar-Rum ayat 40, ”Allah- lah yang menciptakan kamu, kemudian memberi rizki”.

Menurut Rudolf H. Strahm dalam karyanya tentang Kemiskinan Dunia Ketiga berpendapat bahwa dari segi politik dan ekonomi global, ketidakcukupan barang dan jasa bukan disebabkan jumlah populasi yang terlalu banyak, atau kurangnya produksi pangan, melainkan lebih disebabkan adanya ketidakadilan dalam distribusi barang dan jasa. Ini terjadi karena pemaksaan ideologi kapitalisme oleh Barat (negara-negara penjajah) atas Dunia Ketiga, termasuk Dunia Islam. Sebanyak 80 % barang dan jasa dunia, dinikmati oleh negara-negara kapitalis yang jumlah penduduknya hanya sekitar 25 % penduduk dunia. Hal ini terjadi juga di Indonesia sejak zaman Orde Baru hingga sekarang seolah – olah negara Indonesia mempunyai perumpamaan seperti “ayam mati di lumbung padi”.

Yang kedua, KB bertujuan mengatur/mencegah kehamilan pada seseorang dengan menggunakan alat atau sarana (kontrasepsi). Hal ini hukumnya mubah atau diperbolehkan. Dalam suatu riwayat Bukhori dan Muslim mengutip dari Jabir “Kami menggunakan ‘azl (senggama terputus) sewaktu masa Rasulullah SAW sementara Al Qur’an masih diturunkan”. Bukhori dan Muslim mengutip dari Said Al Khudri yang melaporkan “Kami pernah keluar bersama-sama Rasulullah SAW dalam peperangan Bani Mustholiq tatkala kami memperoleh tawanan dari orang-orang Arab, kami menginginkan perempuan-perempuan, berat rasanya bagi kami untuk hidup membujang, kami ingin melakukan ‘azl (senggama terputus), kami menanyakan kepada Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW bersabda : “Mengapa tidak kalian lakukan? Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan apa yang Dia ciptakan sampai hari kiamat.”

‘Azl merupakan cara untuk mencegah kehamilan yang di sarankan Rosululloh SAW. Pada saat sekarang, tujuan ‘azl mirip dengan prinsip cara kerja alat kontrasepsi seperti pil KB, kondom dan lain – lain yang mencegah kehamilan bersifat sementara. Perlu ditekankan bahwa yang diperbolehkan disini adalah alat kontrasepsi yang bersifat sementara atau temporal. Lain halnya jika alat kontrasepsi tersebut bersifat permanen atau sterilisasi seperti vasektomi dan tubektomi. Itu diharamkan di dalam Islam sebab Nabi SAW telah melarang pengebirian (al-ikhtisha`), sebagai teknik mencegah kehamilan secara permanen yang ada saat itu.

Sedikit menyinggung tentang alat kontrasepsi di Indonesia. Distribusi alat kontrasepsi khususnya kondom pria dan wanita sangat bebas dijual di berbagai tempat tanpa syarat. Hal ini sangat tidak tepat sasaran karena kontrasepsi sebagian besar seharusnya ditunjukan pada Pasangan Usia Subur (PUS). Remaja atau orang yang belum menikah pun bisa saja membelinya dan dikhawatirkan memarakan seks bebas, prostitusi dan bisa meningkatkan angka kematian akibat aborsi. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar terdapat kebijakan kepada warga sebelum membeli alat kontrasepsi diwajibkan menunjukan surat keterangan menikah supaya meminimalisir tidak terjadi hal – hal negatif yang sudah disebutkan diatas.

Dari berbagai ulasan yang telah disampaikan, disini penulis ingin menyimpulkan bahwa dari program KB yang dilarang oleh islam adalah yang bersifat membatasi kelahiran dan mencegah kehamilan secara paten. Oleh karena itu, penulis juga ingin menyarankan sarana alami untuk mencegah dan mengatur kehamilan yaitu ‘azl yang sudah disampaikan dan menghitung masa prasubur dengan metode kalender. Dengan begitu suami bisa mengetahui masa tidak subur pada istri sehingga bisa mencegah terjadinya kehamilan.

Wallahu a’lam bis showab.

Daftar Pustaka
Al – Hadits
Al- Qur’an ; Surat Al – Isra’  ayat 31 dan Surat An-Nisa ayat 1
Fadly. Hukum Islam Tentang Kontrasepsi.
http://arrahmah.com/read/2007/05/13/416-hukum-islam-tentang
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopediaislam/fatwa/11/01/11/157701-bagaimana-kb-menurut-islam-.Diakses pada tanggal 20 Mei 2011 pada pukul 19.45 WIB
Kisihandi, Fery. Bagaimana KB Menurut Islam?kontrasepsi.html
Diakses pada tanggal 20 Mei 2011 pada pukul 19.50 WIB

One thought on “KB, TAK SEPENUHNYA HARAM TAK SEPENUHNYA HALAL

  1. Assalamu’alaikum Ustadz

    Mohon maaf sebelumnya jika saya ada beda pendapat dengan anda
    Saya punya sedikit cerita (nyata) dari keluarga saya sendiri. Dulu kakek-nenek buyut saya memiliki anak 12 orang salah satunya nenek saya. Tanah yang dimiliki beliau sekitar 2 ha. Saat kakek-nenek buyut meninggal tanah dibagikan kepada 12 anaknya, Sekarang 12 anaknya juga sudah meninggal semua. Praktis tanah warisan sudah terbagi-bagai habis. Nah yang generasi saya tidak lagi mendapat bagian alias harus berusaha mencari sendiri. Keadan dulu dan sekarang sudah berbeda, jaman sudah bergeser, Kebutuhan manusia saat ini bukan hanya makanan, pakaian,perumahan saja tetapi masih banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi, Bayar listrik, PAM, Pulsa telepon, BBM untuk PP kerja, Pendidikan anak (SPP gratis tetapi buku2, antar jemput dan lainnya tetap perlu biaya). Mainan anak (sepeda). Belum lagi cicilan rumah, motor dan masih banyak lagi kebutuhan dasar. Sejengkal tanah di muka bumi sudah dimiliki orang lain. Hutam menjadi milik negara, kita tidak bisa senenaknya membangun rumah dengan membabat hutan. Beda dengan jaman dulu (50 tahunan yang lalau mungkin kebutuhan dasar hanya Makan, Sandang, dan Rumah saja, jika hanya ini kebutuhannya maka teori Thomas Robert Maltus gugur. Tetapi jika direalitakan pada kebutuhan sekarang maka teori Thomas Robert Maltus ada benarnya.
    Saya yakin ustadz sendiri pasti membutuhkan pula pulsa HP untuk komunikasi dan dakwah anda, butuh listrik dll.

    Dengan kebutuhan dasar yang banyak itulah akhirnya orang akan berpikir “Apakah saya mempu membiayai banyak anak” Saya kira manusiawi pikiran itu, Maaf sayapun juga berpikir begitu.
    Jika diargumentasikan bahwa Alloh sudah menetapkan rejeki untuk umat manusia, Itu benar sekali, dalilnya ada dan kita wajib meng-imani-nya, tetapi apakah rejeki (materi untuk kebutuhan) itu setiap orang pasti sama..?? Saya yakin ada dalil lain yang menegaskan bahwa rejeki meteri setiap orang tidak sama. Ada yang sudah susah payah berusaha sampai ada usaha sampingan (siang kerja malam berdagang di pasar) tetap saja hasilnya segitu (pendapatan cuma sekitar 4 jutaan) ada yang hanya duduk di kantor bergaji 15 juta. Penadapatn 4 jt dengan 15 jt jelas berbeda dengan yang 15 jt jika sama-sama punya anak 5 orang. Ditambah lagi ada keyakinan bahwa istri tidak boleh (diharamkan) ikut bentu suami mencari nafkah walaupun hanya berdagang di halaman rumahnya.

    Kalau menurut saya perlu dicari solusinya juga Bagaimana kebutuhan dasar bisa kembali seperti jaman 59 ~ 60 puluhan tahun lalu

    Demikian ustadz
    Wassalamu’alaikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s