KONDOM, SIMBOL FREE SEX?


Dengan diterimanya Nafsiah Mboi menjadi Menteri Kesehatan RI terbaru setelah kepulangannya Alm. Endang Rahayu Sedyaningsih seharusnya menjadi “tiket tol” untuk semakin melancarkan terlaksananya program – program strategis mengatasi kasus HIV AIDS di Indonesia. Karena dengan latar belakang dari Nafsiah Mboi yang notebene adalah mantan sekretaris eksekutif KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Nasional yang paham betul akan kasus HIV AIDS di Indonesia dan beserta seluk – beluknya. Namun, langkah pertama Menkes yaitu mensosialisasikan kondom kepada kelompok beresiko, ditanggapi dikalangan masyarakat sebuah langkah Menkes untuk mendukung free sex di kalangan remaja. Kondomisasi berubah menjadi program yang dinilai masyarakat merupakan program yang terstigma buruk oleh masyarakat. Buruknya, jika media – media yang masih kontra dengan beliau secara tidak sengaja ataupun tidak, secara terus membuat opini – opini warga yang membuat semakin buruk citranya kepada masyarakat, maka akan membuat program – program menangani HIV AIDS di Indonesia seperti edukasi tentang seksual khususnya pendidikan kesehatan reproduksi menjadi buruk di mata semua kalangan masyarakat.
Seperti yang telah diketahui bahwa pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini justru sangat penting kepada anak khususnya memberikan pengetahuan kepada remaja supaya terhindar dari perilaku seks beresiko, pemerkosaan maupun unwanted pregnancy yang banyak diakhiri dengan praktik aborsi. Jika mengingat kondisi sekarang, penulis memprediksikan program pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah – sekolah maupun dalam keluarga akan sulit dilakukan. Pendidikan kesehatan reproduksi akan semakin dianggap tabu walaupun pada dasarnya pendidikan kesehatan reproduksi yang terbaik dilakukan adalah dalam keluarga dan sekolah. Apalagi, jika ada suatu program pendidikan kesehatan reproduksi yang menunjukan cara penggunaan kondom atau alat kontrasepsi lainnya, maka akan semakin sulit untuk dipraktikan.  Nampaknya menurut penulis, kondom sudah digambarkan masyarakat sebagai “simbol dari free sex”. Itulah hambatan kesehatan reproduksi di masa mendatang. Jika kondisi seperti itu terjadi, maka angka PMS termasuk HIV AIDS, perilaku seks beresiko, pemerkosaan, aborsi dan lain – lain akan semakin melonjak naik.
Semua hal yang menyangkut kondisi terancamnya kesulitan intervensi program pendidikan kespro di Indonesia karena ada di kalangan masyarakat yang tidak tahu – menahu atau menyalah artikan upaya tersebut. Dan semua itu dilakukan melalui berbagai media. Oleh karena itu, sebagai ahli public health, juga harus memikirkan untuk memperbaiki citra di masyarakat. Langkah awal, merencanakan atau membuat dengan menggunakan media sebagai pengalihan isu. Namun, dengan sifat media pengalihan isu sudah sangat cepat terjadi dengan sendirinya. Dengan menggunakan media pula, kita berusaha untuk mengambil kepercayaan masyarakat kembali tentang pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dengan sedikit demi sedikit menyisipkan materi pula. Kepada remaja pada khususnya, bisa menggunakan media jejaring sosial yang sering mereka gunakan. Dan kita tahu, Indonesia merupakan pemilik akun Facebook terbanyak di dunia. Dan bisa dipastikan sebagian besar pemilik akun tersebut adalah remaja atau kelompok umur beresiko. Sebagai health promotor kita juga dituntut untuk kreatif membuat reproductive health education sebagai langkah promosi kesehatan mencegah perilaku seks dan lainnya melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter ataupun short film di Youtube yang notabene remaja sering berinteraksi dengan semuanya.

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s