Aby Kecil… Jangan Menangis Lagi.


Berawal saat Aku mendapat materi di kuliah tentang ilmu perilaku, yaitu lebih tepatnya adalah masa kecil atau masa kanak – kanak juga mempengaruhi karakter ketika dia dewasa. Atau lebih tepatnya, karakter pribadi seseorang saat ini sebagian besar didapatkan dari proses belajar dari masa anak – anak. Karena disebutkan, anak kecil adalah “peniru yang ulung”. Oleh karena itu, hal itu langsung Aku coba…Ya, pada diriku sendiri.

…..

Ini kisah nyataku. Dahulu, aku terlahir dari keluarga yang serba ada, dihormati dan terpandang. Mungkin karena silsilah keluarga yang mengalir dalam darahku. Kakek buyutku merupakan salah satu perintis atau penggerak organisasi islam yang didirikan oleh Ahmad Dahlan di desaku. Aku hidup sejak kecil penuh dengan kecukupan dan pujian dari tetangga – tetangga. Karena dahulu mungkin mereka hanya memandang dari penghasilan keluargaku saja. Dahulu, mungkin hampir setiap minggu sekali keluargaku pergi ke kota sebelah hanya untuk plesir,  makan makanan yang enak, mengajak keluarga jalan – jalan, atau belanja bahan pokok untuk keperluan sehari – hari. Hidupku bahagia, saat itu.

Namun, kondisi berubah saat aku berumur…mungkin sekitar sejak umurku 4 atau 5 tahun.
Sebelumnya, Ayahku bekerja dengan seorang wirausaha yang sukses di kotaku saat itu. Suatu hari sang wirausaha itu meninggal karena suatu penyakit dan memaksa perusahaan produksi dan distributor ikan itu gulung tikar dan akhirnya keluargaku pun kehilangan sumber penghasilan.

“Andai saja, aku jadi ayahku saat itu, tentu saja akan Aku ambil alih perusahaan itu, memulai dari awal dan mengumpulkan teman – teman yang masih setia dengan perusahaan itu”. benakku saat ini. Namun, ku tak pantas menyalahkan Ayahku.

Untung dulu, kami masih punya empang luas warisan peninggalan kakek yang menjadi tumpuan rizki untuk menyambung hidup keluarga. Hingga di saat sekarang.

Setiap hari suasana keluarga yang dahulu harmonis pun berubah…saat itu. Hampir setiap hari ada saja cekcok, melihat Ibu menangis, adu mulut antara Ibu dan Ayah menjadi hal yang biasa setiap malam,  saling menyalahkan, karena tidak terima dengan keadaan.

Akupun hanya bisa diam menonton pemandangan – pemandangan itu, karena saat itu Aku tak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka ributkan.

Aku masih ingat betul ketika Mbakku, kakak perempuanku satu – satunya mencoba untuk melerai mereka berdua yang sedang bertengkar hebat di suatu malam. Namun, yang diterima Mbakku bukannya sambutan baik, tetapi malah dipukul – pukulkan kepalanya oleh Ayahku di pintu tengah rumah dekat kamarku yang sedang kupandang sekarang ketika menulis artikel ini. Masih terekam jelas di memori otaku hingga kini.

Sekali lagi, aku yang masih kecil saat itu hanya bisa diam, mencoba berpikir  dan menerima apa yang kulihat itu. Namun, baru ku sadari ketika ku dewasa ini.

Akupun saat itu kadang tak luput dari “pelampiasan” masalah mereka dengan bentakan – bentakannya ataupun jeweran – jeweran menyakitkan ketika aku ingin mainan ini, ingin mainan itu, ketika aku tidak menuruti perintah mereka atau ketika main kerumah teman hingga malam karena tak betahku dirumah. Namun sekali lagi, aku tak menyalahkan orang tuaku karenanya.

Akupun tumbuh menjadi anak yang hampir tak mempunyai kepercayaan diri, minder, penurut, dan mudah sekali menangis ketika mendapat masalah atau ketika bertengkar dengan teman – teman sekolahku. Akupun menjadi anak yang terkenal dengan gelar “cengeng” dan dianggap tidak bisa melakukan apa – apa oleh  keluargaku, teman – temanku, sekolahku, ataupun mungkin desa tempat tinggalku. Entah kenapa mudah sekali Aku ini untuk menangis.lomba puisi TK

Pernah dulu ketika masih di Taman Kanak – Kanak. Suatu saat Aku diikutkan lomba membaca puisi perwakilan sekolah. Beberapa temanku pun ikut lomba. Latihan demi latihan aku terus jalani dibimbing ibu guruku. Aku pun menjadi mahir membaca puisi yang menjadi andalanku beserta gerakan tubuh yang sudah diatur. Aku bahkan hafal puisi yang dibacakan temanku nanti beserta gerakan tangannya. Dan aku diprediksikan guruku untuj juara 1. Rasa percaya diri pun tumbuh dalam hati kecilku saat itu. Aku masih ingat itu. Namun, saat rasa percaya diri dan optimis itu hancur ketika salah satu guru di TK yang menjadi kepala sekolah mengatakan kurang lebih seperti ini kepadaku, “Awas ya pokoknya, kalau Abi gak juara! Ceweng!”. Itu kalimat ancaman pertama yang kudengar di sekolah (TK). Hal itu membuat Aku takut ikut lomba puisi itu. Dan apa yang terjadi saat hari lomba? Yang ku ingat, ketika temanku – temanku yang mengikuti lomba puisi yang lain sibuk mempersiapkan diri, Aku sibuk merengek ke Ibu untuk segera pulang saja. Aku tak tahu atau kenapa dulu Aku melakukan hal itu. Mungkin Aku sudah terlalu takut jika tidak juara karena ancaman Bu Guru yang masih terngiang. Akhirnya yang ku ingat saat itu, ketika nomor urutan untuk maju tampil punyaku belum disebutkan, tiba – tiba Aku maju saja di depan juri – juri dan penonton. Aku pun membaca puisi yang sebenarnya sudah kuhafal dengan baik itu dengan suara yang hampir mirip mau menangis. Akupun lupa gerakan tangan yang sudah diajarkan. Dan akhirnya membaca puisi itupun selesai. Aku kembali merengek ke Ibuku agar segera pulang. Namun, Ibuku berjanji mengajak pulang ketika pengumuman pemenang. Dan akhirnya diumumkan aku juara tiga. Ya, itu piala pertama yang Aku hasilkan. Walaupun dengan proses yang seperti itu.

Ku teringat cerita yang lain. Ketika aku ingin membantu Ayah ketika membuat sesuatu, aku disuruh hanya diam saja dan tidak pernah diajarkan seperti Ayah kepada teman – temanku yang lain.
Ketika aku ingin bermain bersama teman – temanku di siang hari, Ayahku mengusir mereka dan menyuruh aku tidur siang saja dirumah. Ketika malam, banyak temanku bermain petak umpet, aku disuruh Ayahku untuk belajar di rumah dan ketika minggu ujian aku tidak boleh sedikitpun menonton TV. Kerjaku hanya belajar. Dan Ayahku pun mengecam Aku untuk selalu rangking 1 di setiap penerimaan buku raport.
Aku sering iri kepada teman – temanku yang rangking 3 atau 4 selalu diberi hadiah oleh orang tuanya. Sedangkan aku, yang ranking 1 saja tak pernah satupun diberi hadiah. Yah… oleh karenanya dari Madrasah (SD) hingga SMP aku selalu ranking 1.
Namun sekali lagi, aku tak menyalahkan orang tuaku karenanya.

Sepakbola. Adalah salah satu hal yang ku benci saat aku kecil.
Saat sepakbola booming di desaku. Akupun senang sekali bermain sepakbola. Saat itu Aku masih SD. Aku tak terlalu buruk ketika bermain sepakbola.
Hingga saat itu, ada sebuah pertandingan besar antar SD se-desa. Aku sangat senang sekali mendengarnya dan berharap menjadi tim di Madrasah. Namun, tim yang didominansi kakak kelasku dan diriku pun tak bisa masuk ke dalam tim, terlebih mereka bilang kepadaku “Emang kamu bisa apa? Nendang bola?” terekam jelas hingga saat ini. Tak tahu berasal darimana dan mengapa kata – kata itu mereka itu ucapkan. Mungkin gelar cengeng, anak rumah, manja, tak bisa apa – apa sangat kuat melekat di wajahku. Saat itu aku mulai tidak menyukai bermain sepakbola.

Cerita – cerita itu adalah sedikit dari pengalaman- pengalamanku sejak ku kecil. Yang telah sukses membuatku mempunyai karakter benci dan pendendam. Namun, baru ku sadari semua hal itu tersimpan mutiara hikmah. Mungkin Alloh SWT sedang mengajarkan kepadaku tentang ikhlas tanpa pamrih dan puas walaupun hasil itu sudah terbaik. Belajar arti memaafkan dan sabar walaupun kejadian itu sangat menyakitkan dan sulit untuk dilupakan. Ku teringat ada salah satu sahabat yang masuk surga bukan karena setiap malam dia tahajud, namun karena tiap malam sebelum tidur dia rutin mengevaluasi hari – harinya dan memaafkan orang – orang yang sudah mendzalimi dia saat pagi sampai mau tidur. Mungkin Aku dituntut belajar akan hal itu oleh Alloh.

Alhamdulillah kutemukan sebuah hikmah…

2 thoughts on “Aby Kecil… Jangan Menangis Lagi.

  1. berarti kalo gedhenya jadi pendiam itu dari kecilnya knapa? di marahi kah sewaktu kecil sehingga sampai gedhe nggak berani berpendapat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s