“KAPAL KOSONG, NAHKODA TANPA NAVIGATOR”


Aku dan LPM Publica Health

-Chapter 1-

“Bi, PU tahun depan kamu ya?…” itu kalimat pertama yang mengawali ceritaku disini. Sebuah kalimat pertanyaan yang sebenarnya bisa menjadi retoris, jika ditanyakan kepada kebanyakan orang. Dan pasti kebanyakan jawabannya adalah “Tidak mau.., Ah aku gak siap..,..coba cari yang lain aja…bla and bla…” Seperti kebanyakan contoh disekitar kampus, jika orang atau mahasiswa diajak atau disuruh untuk memimpin, pasti jawabannya hampir semua seperti itu. Atau jika disuruh bertanya oleh dosennya disaat kuliah, hampir semuanya juga pasti diam seribu bahasa. Kultur seperti itu memang susah untuk dihilangkan di bumi pertiwi ini. Tak tahu aku apa sebabnya.

Dan diriku pun, ketika ditanya seperti itu tak jauh berbeda. Ketika mendengar pertanyaan itu, aku membayangkan jika aku emban amanat itu seperti ada monster besar hitam kelam yang siap menerkam diriku dengan mulutnya yang besar. “ Ngeri.., pasti berat nanti…banyak tuntutan, nanti pasti stress, pusing dan banyak pikiran, kuliah keteteran..ah…” pikirku ngelantur kemana – mana. Untungnya dulu aku bisa dibilang masih “nurutan”, polos, masih suka ngalah, dan tidak bisa bilang “tidak” jika dimintai tolong untuk sesuatu. Akhirnya dengan polos aku menjawab “Ok. Insya Alloh aku siap Sri”. Jawabku tak pikir panjang, pada Sri Anani yang kebetulan menjadi Wakil Pimpinan Umum LPM PH kepengurusan 2010 waktu itu.

Sebenarnya aku tak suka di PH. Sejak pertama aku jadi Redpel Artistik, banyak hal yang ku tak sukai ketika itu. Memang benar artistik sangat pas dengan potensiku yang aku punya, namun sedikit penghargaan yang ku temui. Setiap konsep yang ku tawarkan, tak pernah didengar dan dianggap biasa saja. Ingin sekali kudengar di telinga ini, “Wah..ide bagus dek/Bi, boleh juga tuh..bla and bla”. Namun yang sering ku dengar adalah “Ayo Bi mana desainnya? Udah deadline ini..,besok jadi ya?..bla and bla..” “Ah…persetan dengan deadline..bikin stress…” gumamku. Tak tahu apa mereka? seringkali aku nglembur sampai tak tidur, atau bahkan meninggalkan kuliah demi memaksimalkan hasil karya yang tak pernah dihargai itu. Apalagi ditambah aku hanya punya dua staf, yang kutahu staf – stafku itupun skill-nya bisa dibilang kurang. Bukan maksud untuk tak menghargai dan percaya, namun aku tak tega jika turut memusingkan mereka dengan deadline yang ada. Akhirnya pun seringkali jika ada job, aku yang kebanyakan menyelesaikannya sendiri. “Biarlah aku sendiri yang menderita”, pikirku.

Terbesit rasa sesal menyumpal di dada. Kenapa aku waktu itu mau “dipaksa” menjadi Redpel artisitik? Padahal di satu sisi aku kandidat terkuat Kadept Kesma BEM Fakultas waktu itu. Dan dari situ, aku bisa saja menjadi ketua BEM dan populer seperti Mas Bakti atau Mas Asep sesuai impianku.Namun, Aku dengan sok rendah hatinya ketika ditanya tentang hal ini, hanya bisa beralasan, “Karena di Artistik itu tidak hanya membutuhkan softskill memimpin , mengkoordinasi, mengorganisasi, namun juga harus mempunyai skill desain grafis yang memadai”.

“Tau gini, mending jadi Kadept Kesma aja”, gumamku.

***

Hari demi hari sudah terlampaui. Waktu itu, sekitar awal bulan Oktober 2010. Ini mungkin bulan dimana semua lembaga kemahasiswaan di fakultas ancang – ancang untuk “rebutan” kader untuk dijadikan pengurus hariannya. Aku sangat sadar akan hal itu. Namun, aku menunggu arahan dari pengurus PH yang lama, untuk memberikan sedikit wejangan padaku tentang apa yang harus aku lakukan. Terutama dari PU. Karena, jika aku bergerak dahulu, mungkin bisa dibilang aku tak tahu diri, karena tidak mempunyai “tiket” start. Dan karena juga, statusku yang masih bakal calon PU, belum calon PU. Bisa jadi, mungkin bukan aku sendiri yang “disunting” oleh Sri untuk menjadi PU baru.

“Aku tak boleh GeEr duluan”.

Jika benar Aku yang jadi PU, Aku ingin pengurus PH 2011 nanti merupakan orang – orang yang sudah dipersiapkan dan dari proses yang rumit sehingga menghasilkan orang – orang yang benar – benar terpilih. Sampai – sampai pada saat akan diadakannya PJTD –syarat mutlak untuk menjadi pengurus PH- aku turut serta mempromosikannya pada anak – anak 2010 man by man. Agar mereka nanti lebih siap. Namun harapanku terkikis oleh pesimis melihat peserta yang datang, hanya sedikit jauh dari harapan.

Aku hanya bisa memprediksi. Dengan apa yang kurasakan di PH selama ini, mungkin dari pengurus lama banyak yang tidak betah dan “berusaha” ingin keluar karena rasa kekeluargaan yang kurang, kompetensi dengan lembaga yang lain yang rendah, jobdesk yang gak jelas dan lain – lain. Aku pahami itu.

Mungkin, apa yang kurasa ini yang lain juga merasakan. Banyak mahasiswa yang ikut UKK hanya sekedar “meramaikan” saja. Jarang orang berkontribusi dengan hati, ikhlas, tanpa ingin dipuji. Ikut UKK atau tidak ikut, itu sama saja. Atau bahkan lebih merugikan ikut. Satu tahun ikut UKK, tak ada hal berkesan yang hinggap di hati dan memori. Ikut UKK hanya dianggap main – main, dan UKK dianggap “mainan” belaka. Salah satunya mungkin LPM PH.

Jika Aku yang memimpin PH 2011 nanti, aku tidak ingin demikian. Aku ingin setiap anak yang menjadi pengurus betah di PH. Merasakan kekeluargaan yang kental dan dihargai. Bertemu tidak hanya saat yang berhubungan di PH saja, tetapi bahkan diluar itu. Bisa dengan cara makan bareng, belajar bareng, nonton bareng, rekayasa konflik atau apapun. Lebih banyak interaksi itu lebih baik. Itu akan mengikat di setiap hati mereka. Aku ingin membalikkan keadaan di PH. Dari yang ngebet ingin keluar menjadi ngebet tidak mau keluar. Atau bahkan, kalau perlu, ada air mata menghiasi disebabkan karena sangking penginnya masuk PH. Aku harus merubahnya dari sekarang. Karena proses itu butuh waktu yang tak panjang, tak cukup satu atau dua bulan.

***

Akhir bulan Oktober memasuki November. Akhir kepengurusan makin dekat. Aku makin yakin bahwa ternyata aku memang calon tunggal untuk PU tahun depan. Bahkan di poling saat makan bareng bersama seluruh anak PH, hanya aku yang menuliskan “Aku siap menjadi PU tahun depan”. Apakah aku yang memang peduli pada PH, atau aku yang bodoh mau dicalonkan jadi PU? Bimbang mulai nakal menari – nari dihati. Ditambah wejangan yang aku idam – idamkan itu tak kunjung datang (hingga sekarang).

Sebenarnya, aku sangat cemburu dengan Joko yang pada waktu itu sudah terpilih menjadi ketua BEM 2011. Begitu seriusnya Mas Cahyudi, Mas Benni, Mba Funny , Mas – mas dan mba – mba yang lain mentransfer ilmunya kepadanya. Bisa diajak diskusi kapanpun tentang perihal ke-BEM-an. Aku cemburu dengan Gamais, yang pada waktu itu pengurus lama sangat kompak dan serius mempersiapkan Mas’ul Gamais tahun depan. Sedangkan aku? Mungkin aku satu – satunya ketua “asal comot” pada waktu itu. Bagaimana mungkin, seorang artistik-er dicalonkan jadi PU? Sangat kontras. Yang ku tahu hanyalah tentang  bagaimana men-convert gambar di Corel Draw 14. Tak tahu menahu tentang jurnalisme, bagaimana caranya menulis dengan baik, bla and bla. Akhirnya aku ibarat nahkoda tanpa navigator. Kapalku masih kosong, tak tahu arah kemana, dan tak tahu samudera mana yang akan aku seberangi. Jengah makin menjadi.

Akhir kepengurusan makin dekat. Kapalku pun masih kosong.

Aku masih mengharap wejangan dan “aba – aba start” dari PU lama. “Ah…sudahlah. Mungkin Dia sudah teramat sibuk dan pusing dengan jabatan barunya di BEM”, pikirku. Mencoba berpositif thinking di tengah pergulatan batin. Akhirnya dengan beralasan “jemput bola” aku cari siapa – siapa yang bertahan di PH untuk aku ajak menjadi awak kapalku. Hanya beberapa orang yang ku ingat waktu itu adalah Abdil, kusunting menjadi Redpel Majalah. Karena dia bersedia dan pandai menulis. Terbukti dia sudah mempunyai novel sendiri. Nana, aku sunting menjadi Pimpinan Perusahaan. Karena saat PJTD dia nampaknya mempunyai link sponsor banyak termasuk kenal beberapa fotografer profesional. Lalu Fikri, kusunting agar tetap di Artisitik PH membantu Hervian. Karena aku paham betul potensi motion grafis dan desain grafis yang dia miliki. Untuk jabatan yang lainnya aku tak tahu siapa yang mengusahakan. Mungkin Joko dan Sri. Aku berterima kasih akan hal itu walaupun itu memang seharusnya tugas mereka. Tinggal Pimpinan Redaksi. Satu jabatan yang penting selain PU. Karena dia akar dari segala Produk. Karena menurutku LPM bisa dikatakan bagus atau tidak, dilihat dari produknya.

Dan kandidat yang akan menjadi Pimred adalah Fina. Aku tak protes jika Dia yang yang menjadi Pimred karena pengalamannya di Redaksi selama dua tahun khususnya di Buletin. Namun, ternyata Dia tidak bersedia. Aku bingung bukan kepalang. Aku dan Joko berusaha untuk membujuk Fina agar berubah pikiran. Namun hasilnya nihil. Satu kali, dua kali sampai datang ke kosnya, hasilnya pun sama. Dia bersikukuh tidak mau. Hinggga akhirnya yang ketiga dan keempat kalinya, Aku sendiri yang membujuk Fina di kosnya, walaupun hujan ku bela – belain datang. Namun hasilnya tetaplah sama.

Aku bingung, kehabisan cara. Mungkin cari yang lain saja. Tapi siapa? Rata – rata pengurus lama ingin keluar dari PH. Sempat terpikir aku pun ingin menyerah dan ingin mengundurkan diri dan keluar dari PH. Karena ibaratnya, kapal sudah banyak yang bocor dan tinggal menunggu karamnya saja. Namun, nasi sudah jadi bubur, sudah terlanjur basah ku bermain air. Jika aku melakukan itu, maka berapa banyak orang yang aku kecewakan tanpa mereka tahu kondisiku dulu. Terlebih maka aku bisa di cap sebagai pengecut sejati yang lari dari masalah.

Di balik kesulitan pasti ada titik kemudahan. Hanya itu modalku.

Beberapa hari kemudian, ku dengar dari beberapa teman untuk merekomendasikan Sri Anani untuk dijadikan Pimred. Karena kondisi yang sudah kepepet, aku tak menolak saran itu. Tanpa pikir panjang aku temui dia , berharap dia bersedia untuk kujadikan Pimred tahun depan. Namun, jawabannya membuatku tak kaget. Dia pun menolaknya. Dengan beralasan dia tak banyak dimanfaatkan di PH karena jobdesk yang tak jelas dan terlebih dia akan masuk Dimas BEM. Tak tahu aku BEM mana yang dia maksud.

“Tapi Sri, nanti kan kamu jadi Pimred. Pasti banyaklah tugas – tugasnya. Kamu Insya Alloh lebih termanfaatkan disana”, kataku.

“Gak mau Bi, aku sudah merencanakan kalau aku nanti mau masuk di Dimas BEM…”, kata Sri membantah.

“Tapi Sri, ayolah Sri…”

“Gak mau, aku maunya di Dimas BEM…”.

Dengan urat kepala yang sudah keluar, dada yang sudah merasa sesak, aku pun berbicara dengan nada menyentak.

“Tega ya kau Sri…”

“Dengan kondisiku sekarang, ibaratnya kamu itu sudah mendorong aku jatuh ke jurang sendirian. Dulu kamu minta aku untuk jadi PU. Sekarang aku balik, aku minta kamu temani aku untuk jadi Pimred. Jika kamu gak mau, maka aku pun gak mau jadi PU. Impas kan??”

Akupun pergi dengan nafas tersengal karena menahan emosi yang hampir meluap.

Selang beberapa hari kemudian aku dengar kabar kalau akhirnya Sri mau jadi Pimred asalkan ada Wakil Pimred. Satu jabatan baru yang mungkin baru ada di PH 2011.

“OK. Gak apa – apa. Aku penuhin permintaannya”, pikirku.

Dan akhirnya tinggal mencari siapa yang bersedia menemani Sri untuk menjadi WaPimred.

Kita tawarkan lagi ke Fina. Dan hasilnya dia tetap tidak mau. Kita tawarkan ke Anita Mega yang kebetulan dia dulu aktif di Majalah. Awalnya dia pun tidak mau. Namun tanpa menyerah aku dan Sri bersikeras untuk terus membujuk dia. Akhirnya dia mau jadi Wa Pimred.

“Hah….leganya. Lengkap sudah awak kapalku”, pikirku waktu itu.

“Sekarang tugasku apa lagi?”. Pertanyaan yang muncul karena bingung tak punya navigator yang mengarahkan. Akupun bertanya ke ketua RC untuk membandingkan apa yang sudah ku lakukan apa yang sekiranya belum kulakukan.

Nampaknya kapalku sudah sangat terlambat untuk berlayar. Aku harus benahi dulu apa yang kurang dan yang belum ada di PH. Aku tambal dulu bagian – bagian yang bocor di kapalku ini sebelum siap berlayar.

***

Usaha sudah, ikhtiar sudah…tinggal tawakal dan do’a. Maka ku abadikan doaku untuk PH di notes Facebookku.

Targetku Insya Alloh di tahun 2011 :

  1. Ketua Publica Health
  2. Buat produk baru utk PH;majalah soft dan buletin pdf yg bs di download di blog PH
  3.  Untuk PH, terbit jurnal ilmiah pertama FKM kerjasama dg RC
  4. Memperkental keharmonisan dan kekeluargaan di PH
  5. Tulisan anak PH dimuat di surat kabar…minimal pernah mengirim.
  6. Majalah PH keluar FKM
  7. Kartu Pers, Baju reporter, sertifikat pengurus utk kepengurusan PH 2011
  8. Insya Alloh lbh profesional,terorganisir, dan sinergis drpd thun lalu….
  9. ….

Ku tak tahu apakah bisa terwujud atau tidak. Bismillah..

Semarang, 21.47 WIB 29 Desember 2011

Oleh: Hikmatyar R.A
didesikasikan untuk LPM PH tercinta.

3 thoughts on ““KAPAL KOSONG, NAHKODA TANPA NAVIGATOR”

  1. Hem…. satu hal yang mbak soroti adalah perasaan merasa sendiri. Yup, sepertinya perasaan itu yang hampir selalu dialami orang2 yang bersiap atau telah menjadi pimpinan. Tapi ingatlah bahwa saat itu pun sebenarnya kamu tidak sendiri, banyak sekali orang yang memikirkan nasib PH ke depan saat itu. Dan masih ingat jelas, waktu mbak udah keluar kampus dan kembali ke kampung halaman, masih banyak sekali yang berdiskusi tentang nasib PH ke depan. So.. You’re never alone.. ^^
    Keep Spirit dan ditunggu tulisan selanjutnya…

  2. Awalnya kupikir begitu menyedihkan nasib kapal itu. .tp aku sebagai salah satu bagian kecil awakny saat ini merasakan sesuatu yang hebat dr kisah kapal tak bernahkoda yang kini telah hidup mungkin lebih hidup dari yang sebelumnya, mencapai kesuksesan meskipun tetap ada badai-badai menerpa mewarnai perjalanan kapal sang uyut. .

    tetap semngadh uyut,,,^_^
    . . .trimakasih telah memilih keputusan itu u/ memajukan keluarga PH saat ini dan seterusnya nanti karena kita semua tetaplah keluarga. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s