LAMUNANKU PUN TLAH USAI, AKU JATUH CINTA SATU SETENGAH JAM DI KERETA ITU -18 JAM DI JAKARTA- (CHAPTER 2)


Berawal ingin mengikuti seminar kesehatan nasional yang diselenggarakan di Balairung UI kemarin pada tanggal 12 Oktober 2010. Dalam benakku padahal sama sekali tiada stimulan untuk ikut hijrah sementara di salah satu dari 5 kota metropolitan di Indonesia, Jakarta. Apalagi kocek yang semakin menipis di bulan itu karena dipakai sana – sini untuk kegiatan kampus dan bingung untuk hutang kemana lagi. Namun, melihat antusias teman – teman yang ikut, pikiranku pun ikut berubah.

“Iseng – iseng mungkin di Seminar nanti ku bisa dapat tanda tangan Bu Menkes” , pikirku. Karena di Seminar Kesehatan itu akan datang menteri kesehatan RI dr. Endang Sri Rahayu.

“Mungkin juga bisa foto bareng”, khayalku lagi.

Akhirnya dengan sedikit persiapan, bekal, baju ganti, dan tentu saja kocek yang seadanya, aku berangkat ke Jakarta bersama dengan teman – teman lainnya.

….

Kala itu aku di kereta.

Seminar nasional tujuan utama kami itupun selesai dengan suksesnya.

Aku menjadi teringat ketika mendapat pengalaman memalukan di saat acara itu berlangsung.

Aku sempat tertidur di tengah pembicara yang pada saat itu sedang asyik – asyiknya menerangkan materi tentang kebijakan umum transportasi perkotaan. Dengan kondisi badan yang lelah dan nyamannya angin semilir di dalam ruang seminar, membuat Aku terkantuk – kantuk dan tak sadar terjatuh dari kursi saksi bisu peristiwa memalukan itu. Peristiwa itu begitu cepat. Aku yang kebetulan duduk di barisan paling depan hanya bisa menahan malu karena memang sempat spontan terdengar suara – suara cekikikan dari arah belakangku. Aku tak berani menengok ke belakang, namun aku tahu pasti mereka menertawakan aku karena kejadian tadi.

Malunya diriku.

Namun, untungnya ku berpikir cepat. Setelah sang pembicara selesai unjuk gigi memaparkan semua kebolehannya, akupun tanpa malu memberanikan diri untuk menjadi seorang penanya pertama tanpa memikirkan peristiwa tadi.

“Ini caraku memperbaiki citraku dan almamater”, pikirku saat itu.

Aku pun mengeluarkan semua jurus.

Sebelum pertanyaanku dikumandangkan, Aku mengucapkan selamat kepada FKM UI yang kebetulan ulang tahun waktu itu serta memperkenalkan bahwa Aku dan teman – temanku jauh – jauh dari FKM UNDIP hanya untuk datang di acara Semnas tersebut.

Para peserta semua tepuk tangan.

“Hah…leganya. Lumayan..dapet tepuk tangan. Semoga dengan tepuk tangan itu menandakan mereka lupa akan insiden tadi…”, pikirku.

Tak habis disitu. Ketika sampai ke pertanyaan, referensi jurnal – jurnal kesehatan pun aku keluarkan untuk memperindah pertanyaanku. Walaupun akhirnya jawaban yang dikeluarkan pembicara terlalu singkat dan tidak memuaskan.

“He..he..he..ada – ada saja aku ini”, ku tertawa lirih sendiri.

Lamunanku berakhir. Aku pun kembali fokus ke arah sekitar.

Di dalam gerbong kereta arah stasiun kota Jakarta yang ku tak tahu namanya ini, penuh dengan penumpang berwajah aneka ekspresi. Tak lupa pula bakul – bakul pengais rezeki di kereta sibuk mondar – mandir mempromosikan jualannya dengan gayanya yang khas. Ku tatap satu persatu wajah penumpang yang mayoritas pemuda dan pemudi ini sebagai pengikis kebosanan. Ada yang bermuka masam, mungkin karena berjubelnya penumpang khas kota ini. Ada yang berekspresi kosong, ada yang matanya melirik – lirik sana – sini, mungkin dia khawatir akan kehadiran sang pencopet atau dia sendiri yang pencopet?. Ada yang mengobrol asyik dengan orang di sebelahnya, ada yang sedang membaca buku, ada yang tidur, dan macam – macam lainnya.

Terlintas dalam hatiku rasa iba melihat mereka harus menerima keadaan ini. Mereka yang mungkin semuanya adalah para kaum mahasiswa yang sedang mengabdi di bangsa dengan jalan belajar ini, harus menerima fasilitas seperti itu.

“Hah sudahlah…mungkin setelah kita yang mengganti memimpin bangsa ini bisa menjadi lebih baik”, pikirku.

Aku kembali fokus mengamati wajah  – wajah di sekitarku. Dan..

“Makhluk apa itu?”, kataku lirih berbisik.

Perhatianku sampai tak teralihkan oleh satu sosok yang duduk di bangku gerbong arah jam 10 dan tak jauh dari tempat ku berdiri. Mataku pun mungkin tak berkedip selama 3 detik, karena terpana ku melihatnya.

Satu sosok yang membuatku sontak fokus padanya. Dia berwajah lembut, bibirnya tetap tersenyum walaupun tak ada orang yang membalas tersenyum. Wajahnya menenangkan dan menyenangkan mata siapa pun yang memandang, termasuk mataku ini. Dan dia itu wanita.

“Siapakah gerangan wanita itu?”, bisikku dalam hati.

Dari sekian ekspresi yang ku amati satu persatu di gerbong kereta ini, hanya dia yang berbeda. Dominan semua orang berwajah muram dan lelah, namun dia lain. Seakan tak pernah ada rasa lelah di raut wajahnya yang sedang ku amati dengan detail itu. Dan dia berjilbab biru.

Tak lama sinar lampu gerbong kereta memantulkan cahayanya di dalam gerbong ini. Menandakan hari mulai senja yang terlihat jelas gelap di jendela kereta. Aku kembali fokus kepada wanita berjilbab biru yang ku tak tahu namanya itu.

Kali ini dia terlihat lebih berbeda. Sinar lampu gerbong kereta yang menyinari pipinya yang memang putih itu membuat seakan – akan dia bercahaya. Wajahnya menjadi semakin bersinar dengan balutan jilbab biru lautnya yang terkulai panjang dan kebetulan warna kesukaanku itu. Bak purnama yang terselimutkan awan. Atau lebih tepatnya bagaikan mentari di birunya langit pagi hari. Menyejukkan walaupun di senja hari dan aku pun kembali tak berkedip selama 3 detik lamanya.

“Subhanallah…cantik sekali dia”, benakku.

Di dunia ini yang ku tahu wanita tercantik adalah ibuku, namun kali ini aku salah. Maha Besar Alloh dengan segala keindahan ciptaanNya.

Melihatnya membuatku semakin penasaran ingin mengetahui lebih lanjut siapakah dia sebenarnya. Dia pasti cerdas, solehah dan baik. Aku harus maju mendekati dia, menanyakan namanya, nomor Hpnya, alamat Facebooknya, dan…

“Astagfirullohaladzim….”, bisikku lirih.

Pikiran apa yang ada di otakku ini?? Walaupun jujur dia sangat mempesona dan ku berharap sangat dia adalah jodohku, namun cara itu salah. Ku teringat akan Q:S An-Nuur ayat 26 yang menyatakan bahwasanya wanita keji itu untuk laki – laki yang keji dan wanita yang baik adalah untuk laki – laki yang baik, begitu pula sebaliknya. Cara seperti itu adalah cara yang keji dan bisa menjerumuskan ke jalan setan. Aku tak mau menodai dia dengan caraku yang salah. Hasil yang baik pasti berasal dari proses yang baik dan awal yang baik.

Cukup sudah. Aku terlalu lama terlena memandangnya. Ku palingkan wajah ku ke arah jendela pintu gerbong tepat di depan tempatku berdiri.

Tak lama kereta pun berhenti.

Pintu kereta yang berada tepat di depanku itu pun terbuka. Orang – orang sebagian keluar termasuk wanita berjilbab biru itu. Wanita itu berjalan ke arah pintu tepat melewatiku. Pintu kereta itupun kembali tertutup. Kubiarkan dia lenyap dari pandangan bersama orang lalu lalang. Samar perlahan kemudian menghilang.

Ku ambil HP di saku celanaku, bermaksud melihat waktu yang tertera. Sudah satu setengah jam aku di kereta ini.

Kereta pun kembali bergerak. Stasiun Kota tempat akhir tujuan kereta ini.

Hah..perjalanan masih panjang. Entah apa lagi yang akan ku temui selama perjalanan ini. Namun semua itu akan bermakna jika semuanya bisa kuambil hikmahnya.

17.21 WIB, 18 September 2011

Hikmatyar R.A

baca cerita sebelumnya, chapter 1

2 thoughts on “LAMUNANKU PUN TLAH USAI, AKU JATUH CINTA SATU SETENGAH JAM DI KERETA ITU -18 JAM DI JAKARTA- (CHAPTER 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s