TAK SEINDAH NAMANYA TAK SEBAGUS RUPANYA TAK SEHARUM NAMANYA ANDA TAHU?


Mahasiswa takut pada Dosen

Dosen takut pada Dekan

Dekan takut pada Rektor

Rektor takut pada Menteri

Menteri takut pada Presiden

Presiden takut pada Mahasiswa

Mungkin puisi karangan sastrawan Taufiq Ismail dengan judul “Takut” diatas sangat pas mendeskripsikan sandiwara – sandiwara yang sudah atau terjadi di dunia pendidikan saat ini. Mahasiswa seperti kehilangan taringnya ketika saat ini dibelokkan idealismenya kepada hal – hal yang bersifat akademik. “Yang penting kuliah lulus dapet kerja”. Padahal bukan sekedar itu mahasiswa yang populer sebagai insan perubahan dan makhluk intelektual belajar di institusi pendidikan.

Saya sekarang ini mahasiswa, belajar dan mengabdi di ***  yang sama sekali bukan impian saya saat lulus SMA. Namun, disini di tempat ini, saya belajar tidak hanya tentang ilmu pengetahuan yang katanya sebagai bekal saya bekerja, tetapi juga saya menemukan tentang pentingnya kejujuran, ketabahan “legowo”, serta ada kasta antara dosen dan mahasiswa.

Saya akan menulis ini secara blak – blakan. Saya pun tidak tahu apakah ini hitam atau putih. Yang saya tulis adalah yang saya rasakan, dengar, saya lihat ataupun saya temukan di tempat saya belajar ini. Terserah apapun respon dari otak berpikir apa Anda tentang tulisan ini, saya tak pernah hiraukan. Saya kritik karena itu sangat perlu dan ini menyangkut aspirasi.

Mungkin di awali dengan birokrasi, dengan sistem SPJ untuk kegiatan mahasiswa. Surat Pertanggungjawaban atau yang lebih populer dengan istilah SPJ ini dilakukan sebelum acara diselenggarakan. Logikanya, yang namanya pertanggung jawaban apapun bentuknya sudah sewajarnya dilakukan setelah acara dilakukan. Kami berbuat baru kami bertanggung jawab, bukan kami bertanggung jawab dulu baru berbuat. Kami terpaksa mengumpulkan nota – nota, tanda tangan para peserta sebanyak rencana proposal yang belum tentu datang semua itu demi uang kemahasiswaan yang kami idam- idamkan turun. Secara tidak langsung kami mahasiswa diajarkan untuk berbuat curang, menipu dan berbohong. Walaupun tak semua mahasiswa merasa seperti itu, mungkin ada sebagian mahasiswa juga merasa di untungkan. Yang saya tanyakan adalah Kenapa nilai – nilai kejujuran dan keterbukaan merupakan hal langka sekarang ini, benak saya. Tak pernah saya tahu kebijakan dari mana ini, dari Mawa Rektoratkah? Diktikah? Menterikah? atau Mawa Fakultas Sendiri? Mungkin Anda lebih tahu dari saya.

Selanjutnya tentang pencairan dana kemahasiswaan. Pada saat selesai mengajukan proposal kegiatan hingga akan mendapatkan dana kegiatan, dana kegiatan tidak sepenuhnya 100% dapat diambil, ada peraturan untuk dipotong beberapa persen untuk pajak. Semakin besar dana kegiatan, semakin besar pula pajak yang memotong dana kegiatan. Saat ini belum jelas ataupun sosialisasi tentang keterangan kebijakan besaran potongan pajak itu berapa secara pastinya. 1% kah? 2% kah? Yang jelas mahasiswa tidak tahu. Anda tahu?

Tidak habis disitu, dana yang sudah kepotong pajak itu tidak bisa kita minta di saat – saat yang kita minta. Minimal 3 hari sebelum hari acara. Realitanya hal semacam konsumsi, tempat, dan lain – lain itu harus dibayar dulu jauh – jauh hari sebelum hari acara dan itu memakai uang – uang hutang kesana kesini yang cukup menyiksa mahasiswa. Dana itu pun hanya 70 % kita dapat dan yang 30 % bisa diambil setelah LPJ selesai dikumpulkan.

Berlanjut di dana 30% tadi. Lagi – lagi dana itu dipotong dengan alasan untuk fee panitia dosen yang tertera di proposal awal. Padahal, panitia dosen tersebut belum tentu membantu sepenuhnya di proses pelaksanaan ataupun sebelum pelaksanaan suatu acara tersebut. Jika dosen datang, itupun tidak sampai akhir acara, paling – paling mengisi sambutan, makan snack dan pergi. Saya pernah bertanya ke salah satu dosen mengenai hal fee untuk panitia dosen ini. Beliau mengatakan bahwa seharusnya untuk fee panitia dosen sudah ada tersendiri dari bidang 2, bukan menggunakan uang kemahasiswaan.

Selesai? Tentu tidak. Yang kedua adalah isu tentang penurunan dana untuk kemahasiswaan. Alasan utama kenapa dana kemahasiswaan turun untuk tahun 2011 adalah jumlah mahasiswa angkatan 2010 sebagian besar berasal dari jalur SNMPTN bukan dari jalur UM dalam rangka mengimplementasikan PP No. 66 tahun 2010 tentang pembatasan penerimaan mahasiswa lewat jalur Ujian Mandiri atau UM. Alasan itu belum bisa diterima, kenapa? karena jumlah penerimaan mahasiswa untuk angkatan 2010 adalah 2 kali lipat dari penerimaan mahasiswa angkatan 2009. Itu tidak mengurangi kalkulasi dana yang di dapat menurut saya. Karena dengan 15 juta per calon mahasiswa dikalikan pendaftar UM tahun 2010 lalu, logikanya dana untuk kemahasiswaan tahun 2011 bisa lebih banyak dari tahun lalu 2010. Tapi ternyata sama saja. Ditambah statement PD 3 alasan kenapa penurunan dana kemahasiswaan terlambat adalah keterlambatan pengumpulan proposal dari masing UKK BEM SENAT.  Terlambat atau sengaja dibuat terlambat? Dan Kenapa Anggaran untuk kegiatan kemahasiswaan itu adalah sisa – sisa? Kenapa tidak lebih diprioritaskan? Anda mungkin lebih tahu.

Ternyata yang “gerah” karena penurunan dana yang tidak sepadan dengan kebutuhan tidak hanya organisasi dari mahasiswa, penurunan dana juga dialami oleh bagian peminatan – peminatan di ***. Kabar burung, anggaran dana untuk peminatan ** hanya mendapatkan 20 juta dari awal mengajukan 90 juta untuk tahun 2011 dan **** tidak mendapatkan dana sama sekali. Yang lainnya? mungkin Anda lebih tahu.

Selanjutnya adalah masalah rokok di ***. Memang saya acungkan 2 jempol untuk *** yang berani menolak beasiswa dari perusahaan rokok, melarang mahasiswa dan civitas akademika merokok atau apapun yang berbau rokok. Ketika berbicara realita, saya lihat masih banyak mahasiswa kita yang berani merokok di kampus. Lalu kerja Satgas itu bagaimana? Kinerja Unit Advokasi Berhenti Merokok yang katanya di danai langsung dari DKK itu bagaimana? Mungkin detik ini, di hari Kartini ini, saat saya menulis artikel ini tidak ada mahasiswa ataupun civitas akademika yang mau datang berbicara mengenai “keluhan” rokoknya di Unit Advokasi Merokok.

Sebenarnya masih banyak yang saya ingin kusampaikan dan kutelusuri di tempat saya belajar ini. Yang lainnya seperti; dana kemahasiswaan tahun 2010 turun akibat penyelenggaraan Dies Natalis *** ke – 25 yang besar – besaran dan pembangunan gedung D, ada pekerja yang meninggal saat pembangunan gedung D, transparasi dana BMOM, sistem keamanan di *** yang kemarin – kemarin kehilangan layar komputer dan proyektor di kelas B201, belum lagi kehilangan barang – barang yang menjadi langganan pencuri di musholla ***, dan masih banyak lagi. Anda mungkin lebih tahu.

14.21 WIB, 21 Maret 2011

Hikmatyar Rabbi Al Mujaddidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s