Implementasi Nasionalisme Pemuda untuk Ibu Pertiwi


Merdeka atau tidak merdeka, Indonesia tetap negara kita. Kita jangan membenci negeri kita tetapi sepatutnya kita mencintai negeri kita sendiri dengan memberikan apapun layaknya pahlawan tempo dulu. Namun, apa yang bisa kita berikan untuk menolong negara kita di saat seperti ini.

Sejarah Kemerdekaan dan Nasionalisme Pemuda

Jika berbicara hal yang berkaitan dengan nasionalisme, tentunya tak lepas dari sejarahnya kemerdekaan. Bangsa Indonesia yang sudah menjamur dijajah selama tiga setengah abad oleh bangsa – bangsa lain, masih berbekas hingga saat ini. Hampir di semua sektor bidang sosial budaya, agama, politik ataupun sedikit dari infrastruktur peninggalan – peninggalan dari pra kemerdekaan yang masih awet digunakan warga Indonesia saat ini. Kemerdekaan dahulu kita proklamasikan dengan susah payah, itupun karena adanya dorongan dan paksaan dari golongan pemuda. Bangsa Indonesia sudah bosan dan kenyang dengan masa penjajahan menjadi trauma fundamental di kondisi mental tanah air. Di zaman tersebut, dorongan dan paksaan itu saya sebut nasionalisme. Walaupun bilah – bilah bambu runcing sebagai senjata utama untuk melawan senapan dan meriam – meriam penjajah, namun tak akan gentar raga putra – putri pertiwi menantang maut merebut kembali tanah air. Harta, jiwa, raga, dan apapun bangsa kita sudah korbankan dan lakukan untuk segera keluar dari jerat – jerat kolonial dan bangsa penjajah yang seperti parasit menguras habis sumber kekayaan alam ibu pertiwi dan tak kenal hati kejam membunuh rakyat – rakyat Indonesia. Rasa senasib merupakan kekuatan utama untuk mempersatukan seluruh masyarakat dibawah jajahan kolonial untuk dijadikan landasan utama para pendiri negara untuk membentuk NKRI waktu itu.

Nasionalisme Saat Ini

Bangsa Indonesia  saat ini seperti “ayam yang mati di lumbung padi”. Pemerintah  belum bisa mengoptimalkan sumber kekayaan alam di Indonesia secara optimal untuk kesejahteraan rakyat di tanah air. Indonesia yang mempunyai 10 rekor kekayaan alam dibandingkan yang dimiliki negara lain, seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menyejahterakan masyarakatnya selama tujuh turunan. Namun, apa yang terjadi justru ironis kondisinya. Pemerintah lebih memilih menjual aset – aset negara dan kekayaan alam Indonesia kepada investor asing. Negara asing semakin kaya dengan menikmati dan mengeruk habis kekayaan alam yang seharusnya menjadi warisan kita, sedangkan warga Indonesia semakin tertindas dengan terjerat oleh hutang negara. Itu sama saja negara kita masih dijajah oleh negara asing. Akibatnya, kebobrokan melanda di segala sektor pada pemerintah maupun masyarakat. Korupsi menjadi tradisi, rakyat miskin semakin miskin, gizi buruk melanda, busung lapar, pelajar generasi penerus bangsa terjerat narkoba, free sex karenaglobalisasi, dan masih banyak lagi contoh – contoh kebobrokan di negara kita. Pertanyaannya, salah siapakah ini? Apakah pemerintah yang takut akan investor asing dan Bank Dunia, ataukah warga Indonesia yang bodoh belum bisa mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam? Padahal yang kita tahu, banyak putra –putri Indonesia yang berotak cerdas sering memenangkan olimpiade di panggung – panggung dunia.

Merdeka atau tidak merdeka, Indonesia tetap negara kita. Kita jangan membenci negeri kita tetapi sepatutnya kita mencintai negeri kita sendiri dengan memberikan apapun layaknya pahlawan tempo dulu. Namun, apa yang bisa kita berikan untuk menolong negara kita di saat seperti ini. Untuk merubah Indonesia memang tak semudah kata – kata yang terucap. Memerlukan rasa nasionalisme nasional bukan nasionalisme regional. Kenyataannya sekarang, memang nasionalisme nasional telah berubah menjadi nasionalisme regional. Indikatornya adalah muncul berbagai konflik sosial dan politik, baik dalam bentuk konflik vertikal maupun konflik horizontal di beberapa daerah. Realitas tersebut membuktikan telah terjadi penurunan nilai nasionalisme di tingkat lokal, meskipun hanya dikumandangkan oleh sebagian kecil masyarakat.

Prinsip – prinsip nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia umumnya telah mengalami degradasi lantaran terus menerus terkikis oleh nilai-nilai dari luar. Jika kondisi dilematis itu tetap dibiarkan, bukan tidak mustahil degradasi nasionalisme akan mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kondisi semakin parah lantaran masih kurang maksimalnya distribusi keadilan pembangunan yang dilakukan pemerintah sehingga semakin menumbuhkan semangat etnonasionalisme yang jika dibiarkan akan mengancam eksistensi NKRI pula.

Impelementasi Nasionalisme Pemuda

Mungkin kita para pemuda khususnya para mahasiswa, bingung apa yang seharusnya kita lakukan untuk menolong bangsa yang sudah bobrok ini agar kembali bermatabat, beretika, dan sejahtera layaknya cerita nenek moyang kita dulu. Mahasiswa sebagai agent of change rasanya tidak cukup, tetapi sebagai directur of change karena mahasiswalah insan yang menjunjung tinggi idealisme yang dapat merubah bangsa ini. Merubah memang tidak mudah dan butuh pengorbanan besar dan periode yang lama sedangkan masalah sudah terlampau kompleks. Yang dapat kita lakukan adalah menerapkan nilai – nilai ideologi pancasila dan patriotisme di rutinitas sehari – sehari, berkarya untuk negeri, dan cintai produk anak bangsa. Memipin diri untuk berubah menjadi insan yang kritis agar tetap bisa menjaga bangsa kita dari penyelewengan – penyelewengan nilai – nilai pancasila yang katanya menjadi dasar negara kita. Semoga para pemuda khususnya pelajar/mahasiswa, bisa bertekad dan mewujudkan tujuan mulia ini di bidang masing – masing untuk bangsa ini dan untuk anak cucu kita sesuai dengan salah satu doa dan harapan orang tua kita sewaktu lahir, yaitu “menjadi anak yang berguna bagi nusa bangsa dan agama”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s