Tukang Jaga Toilet -18 jam di Jakarta- (chapter 1)


18 jam di jakarta

-chapter 1-

Tukang Jaga Toilet

Pengalaman ini begitu singkat, namun cukup membuatku sadar akan salah satu arti jalani hidupku..

Berawal ingin mengikuti seminar kesehatan nasional yang diselenggarakan di Balairung UI kemarin tanggal 12 oktober 2010. Padahal dalam benakku sama sekali tiada stimulan untuk ikut hijrah sementara di salah satu dari 5 kota metropolitan di Indonesia, Jakarta. Apalagi kocek yang semakin menipis di bulan ini karena dipakai sana – sini untuk kegiatan kampus dan bingung untuk hutang kemana lagi. Namun, melihat antusias teman – teman yang ikut, pikiranku berubah.

“Iseng – iseng mungkin di Seminar nanti ku bisa dapat tanda tangan bu Menkes” pikirku. Karena di Seminar Kesehatan itu akan datang menteri kesehatan RI dr. Endang sri Rahayu.

“Mungkin juga bisa foto bareng” pikirku lagi.

Akhirnya dengan persiapan, bekal, baju, dan tentu saja kocek yang seadanya aku berangkat ke Jakarta bersama dengan teman – teman lainnya.Kami ada 34 orang, kami mahasiswa FKM Undip angkatan 2008,2009 dan 2010.

Stasiun Poncol Semarang, pukul 17.00 kami kumpul di parkiran stasiun untuk pengecekan, kordinasi dan persiapan terakhir untuk pemberangkatan. setelah sholat maghrib di stasiun dan dilanjutkan sholat isya yang dijama’ qoshor, akhirnya kurang lebih sekitar pukul 18.55 kita sudah di kereta dan berangkat menuju tujuan terakhir stasiun jakarta kota. Diringi canda gurau,debat kusir penumpang kereta tawang jaya menghiasi malam perjalanan. Tak lupa pula bakul – bakul pengais rezeki di kereta sibuk mondar – mandir mempromosikan jualannya dengan gayanya yang khas. Suasana semakin sunyi karena mata ini semakin berat diiringi hilangnya suara deru mesin kereta..ku pun tertidur lelap.

Pukul 04.02 wib stasiun jakarta kota, Jakarta.

Mata terkantuk-kantuk terlihat jelas di wajah teman – temanku. Pagi untuk pertama kalinya ku di Jakarta ini bukan kicauan burung yang ku dengar seperti biasanya, namun deru mesin dan suara langkah kaki sibuk yang mondar – mandir.

Kami segerakan untuk kumpul dan akan melakukan sholat subuh didekat toilet  stasiun yang sudah terlihat tua ini.

“Seperti bangunan jaman Belanda” benakku.

Aku beserta teman – teman ku segerakan untuk melakukan sholat subuh di musholla stasiun. Sempit tak terawat.

“Kenapa bangunan sebesar ini musholla nya sekecil ini?, ini mungkin lebih kecil dari kantor kepala stasiun dan tolietnya.”pikirku menggerutu. Ini juga berlaku pada Mall – Mall,Toserba dan Swalayan yang pernah ku singgahi.

Setelah sholat subuh, tak lupa saya berdzikir sejenak, meminta perlindungan dan keselamatan serta mengadu penatku seharian kepada sang Khalik Alloh SWT tempat ku bergantung.

Kulihat Handphoneku di saku celana yang hampir mati kehabisan energi. Tak berpikir panjang kucabut kabel dekat tempat imam kucolokkan charger HP yang ku beli dengan uang hasil keringatku sendiri ini. Teman – temanku sepertinya sudah melakukan dan merasakan hal yang serupa.

Ku mundur beberapa langkah untuk sekedar bersandar dan meneruskan kantukku yang masih terasa.

Selang beberapa menit kemudian..

“Heh mas !! kalo mau

nyolokin bilang – bilang dong!! Maen cabut – cabut aja!! Air WC mati tuh !! “…

Ternyata tukang jaga toilet yang menimbulkan kebisingan ini. Salah satu temanku sebut saja Syarif yang kebetulan duduk dekat colokkan yang dimaksud kena semprot dari Tukang jaga toilet tersebut.

“huhh..gimana sih?!!”…sambil menggerutu dia cepat cabut charger Hpku dan memasang kabel air yang ku cabut itu kembali. Dia pun kembali ke toilet tempat dia bekerja sambil terpincang – pincang karena kakinya memang pincang sebelah.

Ternyata biangnya adalah aku.

Sambil ketawa cekikikan diikuti teman – teman sedikit menertawai keadaan tadi karena ekspresi Syarif yang tak berdosa kena marah seperti itu.

Kasihan juga si Syarif. Tak punya salah malah kena marah. Bukannya aku lempar batu sembunyi tangan, namun kejadiannya terlalu cepat tak sempat berpikir untuk mengaku. Lagian kenapa tukang jaga toilet itu langsung marah – marah? Kenapa tidak tanya dahulu dengan baik – baik dan halus? Sejenak ku berpikir apakah memang ini kultur dari kota metropolitan yang setiap lebaran bertambah penduduknya ini? Apa sebenarnya penyebab kultur  ini? Berbagai pertanyaan terlintas cepat dalam otakku.

Setahuku memang teman – temanku yang berasal dari Jakarta sebagian besar mempunyai karakter yang khas..namun tentu saja tidak semuanya. Semuanya kembali kepada diri masing – masing apakah dia cerdas bisa beradaptasi dengan lingkungan yang membutuhkan keramahan dan tata krama atau hanya mementingkan keegoisan tanpa memperhatikan apa perasaan orang dan menghargai budaya tempat yang disinggahinya. Itu berlaku pada semua orang yang berasal dari daerah manapun. Itu point yang bisa kuambil saat itu.

One thought on “Tukang Jaga Toilet -18 jam di Jakarta- (chapter 1)

  1. Pingback: LAMUNANKU PUN TLAH USAI, AKU JATUH CINTA SATU SETENGAH JAM DI KERETA ITU -18 JAM DI JAKARTA- (CHAPTER 2) | Al Mujaddidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s