SANDIWARA TENGAH MALAM


Oleh : Hikmatyar R.A

sumber : google

Kala itu malam minggu, malam yang sangat fenomenal kalangan muda – mudi untuk pergi mengikuti hasrat menghilangkan lelah tertumpuk selama 6 hari. Kala itu juga, Aku dan 3 teman yang kebetulan sekelas ini, tak berniat untuk sengaja keluar di malam ini mengerjakan hal yang tidak umum di malam minggu, yaitu mengerjakan tugas kampus secara berkelompok. Satu tugas itu merupakan hal yang tidak umum pula, yaitu membeli alat kontrasepsi secara berpasangan. Aku ketawa dalam hati ketika mendengar pertama kali tugas ini diberikan. Tugas yang cukup menyentak kawan – kawan satu kelas ini, tak bisa aku bayangkan saat itu bagaimana aku dan teman – temanku mengerjakannya. Pengalaman serukah, lucukah, sedihkah, atau datar – datar saja yang akan didapat teman – temanku. Dan aku pun berpikir demikian untuk diriku sendiri.

Oke, kembali ke ceritaku. Berawal malam itu aku dan teman – teman organisasi intra kampus -Studio 8- pergi mengamen untuk mencari uang di sekitar kawasan Simpang 5 Semarang.

“Malam yang sewajarnya ramai, pasti dapat banyak uang”, benakku.

Walaupun sempat terjadi persaingan kecil dengan pengamen pribumi sana, hasilnya pun tak mengecewakan. Uang yang kami cari dari jam 8 malam sampai jam 10 malam kira – kira cukup untuk diriku makan 2 minggu . Uang yang terkumpul itu rencananya kami alokasikan untuk kegiatan kami nanti.

Setelah berpuas menyanyi ria, kami pun pulang di kos salah satu teman sebagai tempat kami berkumpul dahulu. Selesai itu, sempat terlintas hal yang  penting namun terlupakan.

“Eh, teman – teman…bagaimana kalau malam ini kita sekalian ngerjain tugas kondom kita?”, kata salah satu teman kami menawarkan.

“Wah ide bagus itu, pas banget mumpung malam minggu gini kan?”, kataku menambahkan.

Akhirnya kami yang sejumlah sekitar 15an orang dipecah menjadi beberapa kelompok secara berpasangan. Dini, Sebastian, dan Ayu menjadi kelompokku.

Jam segini apa apotik masih ada yang buka?”, benakku sambil melihat jam di Handphone. Waktu sudah menunjukan pukul 10.35 WIB

Setelah itu, kami pun pergi untuk mencari Apotik. Akhirnya kami pilih target operasi kami adalah apotik daerah Banyumanik Semarang.

Selang beberapa waktu kemudian.

“Sip ketemu!”, kataku sambil menunjukkan apotik yang dinanti – nanti tersebut kepada Sebastian dan Ayu yang kebetulan mereka mengendarai motor berboncengan.

Sengaja kami memilih daerah yang agak jauh dari daerah kampus agar harap kami menjadi pengunjung pertama yang melakukan tugas kampus ini. Dan yang paling utama adalah respon alami penjaga apotik yang menjadi inti tugas ini.

Sekitar jam 10.55 WIB kami temukan dan sampai di Apotik 24 jam di Banyumanik.

Kami parkir di samping Apotik untuk mendiskusikan sejenak strategi sandiwara kami. Kami undi pasangan siapa yang akan menjadi sukarelawan pertama. Yap, ternyata aku dan Dini yang beruntung menjadi awal aktor sandiwara ini.

Aku dan Dini tak langsung masuk ke Apotik dengan alasan masih ada pelanggan yang ada di Apotik.

“Nunggu sepi ya Bi”, kata Dini kepadaku karena masih ada rasa malu dalam dirinya.

Kami pun menunggu sampai pelanggan yang terlihat sekeluarga itu keluar pulang dari apotik.

Satu orang laki – laki paruh baya, satu orang perempuan yang terlihat seperti istrinya, dan anak kecil yang digendong perempuan itu akhirnya keluar dari apotik. Nampaknya anak kecil itu yang sedang sakit, dan malam – malam begini orang tua itu harus rela mengantar demi kondisi kesehatan anaknya yang mungkin sedang tak bersahabat itu.

Terlintas dalam benakku teringat orang tuaku dirumah.

Laki – laki itu dengan mengendarai sepeda motornya yang membawa keluarganya pergi dari apotik itu sempat melihat Aku dan Dini. Tatapannya walaupun samar namun cukup mempunyai arti. Seakan – akan seperti berkata “Apa yang sedang dilakukan pemuda – dan pemudi itu malam – malam begini di Apotik?”. Tertawa kecil hadir dalam hatiku tersindir sendiri.

Aku dan Dini pun segera melangkah menuju Apotik untuk menyelesaikan sandiwara ini. Mengingat waktu yang sudah larut malam ini.

Sebelum ke pintu masuk, aku berhenti sejenak untuk mengusir ragu, memantapkan hati dan memilih karakter sandiwara tengah malam ini. Karena malam ini, Aku merasa Akulah aktor utama dalam kelompok sandiwara ini.

Oke let’s go”, kataku dalam hati.

Kami pun masuk ke dalam Apotik. Disitu terdapat dua orang wanita penjaga apotik lengkap dengan seragam putihnya. Meja – meja kaca penuh obat menghiasi, satu mesin kasir, dan berbagai foto – foto dan poster pesan – pesan kesehatan ikut berpartisipasi meramaikan apotik 24 jam terjaga ini.

“Ada yang bisa saya bantu mas?”, Kata salah satu wanita penjaga apotik berumur sekitar 25an menhampiriku dengan ramah.

Dengan nada congkak, khas anak kota metropolitan aku bertanya padanya.

“Disini jual kondom kagak Mba?”

Wajah yang semula manis karena senyum ramah menghiasi, kini berubah drastis. Wanita itu menekuk wajahnya bak suasana cemberut khas aura kuburan.

“Oh ada mas, sebelah sini”, jawab wanita itu ketus.

Aku dan Dini pun mengikuti wanita itu menunjukkan meja kaca yang terletak sebelah kiri mesin kasir. Terlihat berbagai alat kontrasepsi lengkap dengan aneka merk dari lokal maupun luar negeri. Kondom, pil – pil, alat kontrasepsi untuk wanita, tissu dan lain – lain.

“Yang ini berapaan mba?”, kataku sambil menunjuk kearah salah satu kondom pria

“5000 mas”, jawabnya masih ketus.

“Oh…kalo yang ini?”.

“6000 mas”.

“Yang mahalan dikit ada mba?”tanyaku lagi.

“Ada, ini harganya 50.000 mas” sambil menunjukan 1 pak kondom pria merk luar negeri.

Buset…segede apa itu kondom?”, katakku dalam hati, lugu karena pertama kali.

“Oh…yang ini aja deh mba…oh iya katanya ada rasanya ya mba?rasa apa aja emang?”

“Ada pisang, strawberry, jeruk…jadi pilih yang mana mas?!”

Aku tahu wanita penjaga ini sudah geram dengan lagakku. Namun Aku masih ingin tahu dengan sedikit jahil.

Sambil melirik Dini, Aku mengisyaratkan kepalaku bergerak seakan – akan seperti berkata “Mau pilih yang mana?”.

Dini pun hanya diam dan mengisyaratkan tubuhnya pula, seakan – akan berkata “Terserah kamu”.

“Yang ini aja mba”, kataku

Sebuah kondom pria dengan harga 6000an akhirnya yang aku beli. Mengingat isi kantong yang bukan bagian properti sandiwara namun asli apa adanya. Barang belianku pun dibawanya kekasir untuk dicek harganya dan aku bayar.

Aku dan Dini pun akhirnya segera keluar dari apotik dengan saling tawa cekikikan melihat kejadian yang kami alami tadi yang bisa terbilang sukses.

Sambil menuju teman kami Ayu dan Sebastian di parkiran sebelah Apotik yang sudah tak sabar menunggu cerita kami, sejenak ku melihat jam di Handphone yang ku beli memakai uangku sendiri ini. 12.06 WIB, ku dan Dini masih tertawa cekikikan di tengah malam.

“Semoga ini yang pertama dan terakhir”, benaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s