Cerita Tentang Si Buku Catatan dan Si Bolpoin


sumber : google

Kala itu masih pagi hari. Jendela kayu yang terbuka setiap pagi itu menyedot udara jernih khas daerah perbukitan ke dalam kamar ukuran kecil. Sinar mentari pun tak kalah gesit menyinari kamar yang mungkin sudah bosan diterangi lampu listrik semenjak senja kemarin. Buku – buku tertata rapi di rak buku yang terbuat dari kayu murah berbalut kertas warna ungu. Kertas – kertas bertulis, foto, jam dinding pun ikut berpartisipasi meramaikan tiap sudut tembok kamar yang sudah tak berwarna putih jernih itu. Berbagai jenis pakaian juga banyak tergantung – gantung di pintu kamar, khas suasana kamar kos anak perantauan yang mengabdi untuk belajar di salah satu perguruan tinggi negeri.
Di meja kecil pendek yang biasanya digunakan belajar itu terdapat kotak pensil terisi penuh dengan alat tulis lengkap dengan penggarisnya. Dari situlah terjadi sebuah percakapan dimulai.
“Bosan!…bosan!…aku kesel!…” teriak Bolpoin di dalam kotak pensil kecil di atas meja.
“No opo toh iki?” tanya Buku Catatan yang tergeletak di sampingnya.
“Pokok-e aku bosan! Aku capek! Lihat tintaku hampir habis karena dipakai terus sama Sang Pemakai..”
“Kau ini bagaimana? Justru bagus dong…itu artinya kamu itu barang yang bermanfaat…kowe iki pie toh?”
“Kau yang bagaimana…coba kamu pikir, kalau aku dipake terus lama – kelamaan kan tintaku habis…jika tintaku habis, yo wes aku gak akan dipake lagi…paling – paling tempat terakhir di tempat sampah. Kau juga kan? Kenapa kamu tenang – tenang aja? kertas mau habis gitu, udah lecek, penuh coretan, sobek – sobek lagi. Paling umurmu gak bertahan 1 bulan.”
“Hahaha…” Suara tertawa kecil menyindir dari Buku Catatan.
“Kenapa kamu malah tertawa?” tanya Bolpoin terheran – heran.
“Begini sob…tak ada yang abadi di dunia ini, kau paham?”
“Apa maksudmu?”
“Kita disini hanya menjaga dengan baik dan benar apa yang dititipkan pada kita…sebenarnya itu saja sih intinya.”
“Aku masih tak mengerti apa yang kau maksud?”, tanya Bolpoin semakin penasaran.
“Sebenarnya, kekuasaan – kekuasaan yang sudah diduduki oleh para manusia pengendali negeri ini menjadi rusak karena apa? Kau tahu? karena mereka kurang mampu atau bahkan memang tak mampu untuk menjaga dengan baik dan juga benar kekuasaan yang menjadi titipan bagi mereka. Baik saja tak cukup tetapi harus benar pula. Mungkin kebanyakan dari mereka yang tiap harinya hanya duduk berbicara, mendengarkan dan mengetok – ngetok palu di ruang megah itu malah menyalah gunakan titipan mereka”.
“Demi urusan perut, individualisme, egoisme, kekuasaan, dan nafsu keserakahan mereka rela menutup mata dan telinga mereka ketika kesalahan akan atau bahkan sudah terjadi. Atau mungkin sebagian dari mereka ada yang ingin tidak melakukannya tetapi apa daya mereka takut dengan manusia yang memiliki kursi lebih tinggi dari mereka. Padahal, mereka – mereka yang duduk di kursi di ruang megah itu tidak akan disana jika manusia – manusia yang lain tidak mendukung mereka.” Jawab Si Buku Catatan.
“Lalu?”, tanya Bolpoin
“Yo aku heran wae…”, jawab Buku Catatan
“Heran kenapa?”
“Aku heran saja, manusia setahuku adalah makhluk sosial, zoon politicon, atau apapun istilahnya itu yang intinya mereka itu tidak akan bisa hidup sendirian. Dengan begitu, seharusnya mereka bisa saling berbagi, saling memberi yang baik, saling mengasihi, dan saling – saling yang lain.”
“Lalu kenapa tidak terjadi saat sekarang ini?”
“Itulah manusia itu makhluk yang unik…selalu berpasangan”.
“Berpasangan?” tanya Bolpoin semakin bingung.
“Ya berpasangan, ada wanita dan pria, ada tinggi dan pendek, ada baik dan jahat, ada iri dan ikhlas, ada hitam dan putih.”
“Dan mereka saat itu memilih ingin seperti apa mereka? Hitam atau putih? Hitam ketika manusia itu tak sadar kesalahannya dan tidak menjaga dengan baik dan benar titipan pada mereka. Mereka itu manusia yang tak bisa dipercaya lagi. Kalau aku, lebih baik kehilangan kertas daripada kehilangan kepercayaan. Andai aku jadi kau, lebih baik kehabisan tintaku daripada terisi penuh namun tak tergunakan. Jika tak ada kepercayaan, ya sudah…terima saja dan lapangkan hati untuk menyadari dan memperbaiki diri.
Seperti yang terjadi di negeri yang penuh padang pasir sana tuh. Rakyatnya sudah tak mempercayai lagi pemimpin mereka, tapi pemimpin mereka malah ngotot gak mau mundur dan malah melukai siapa saja yang membangkang dari dirinya. Di negeri kita ini juga terjadi, pemimpin yang kehilangan kepercayaan yaitu pada mantan ketua yang mengurus teman kita, si Bola.”
“Hahaha..” tawa kecil sinis Si Bolpoin
“kenapa kamu yang sekarang tertawa?” tanya Buku Catatan tersindir.
“Berbicara memang mudah kawan, ngomong ki gampang… tapi hidup tak semudah yang kau utarakan”, jelas Si Bolpoin.
“Aku percaya nek manusia – manusia di gedung megah yang kau bicarakan atau pun manusia – manusia yang memimpin kelompok manusia lain yo pasti tidak sepenuhnya hitam seperti yang kamu maksud. Aku pun yakin bahwa mereka tak semuanya mau melakukan perbuatan – perbuatan yang tak baik itu. Namun, keadaan lah yg membuat mereka terpaksa melakukannya. Hidup sekarang berlaku hukum rimba kawan, jika tidak ingin dibunuh yo harus membunuh”. Bantah sang Bolpoin
“Oke, sekarang gini wis…menurutmu kenapa para pedagang kaki lima atau rumah – rumah disekitar jalan raya yang pada akhir – akhir ini banyak digusur oleh pemerintah? Apa menurutmu itu benar?”
“Tentu saja salah!”jawab Si Buku Catatan.
“Itu benar kawan…” bantah Si Bolpoin.
“Loh? kenapa benar? kowe ki pie?…jelas – jelas pemerintah dengan pasukannya mengusir rakyat dengan kasar. Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana orang – orang yang dulu tinggal disana kini tak punya rumah?! Apalagi mata pencaharian yang menjadi tumpuan hidup mereka sekarang hilang, mau makan apa mereka?! Bagaimana nasib anak – anak mereka? bayi – bayi mereka?! kowe ki pie?”
Bolpoin terdiam dan seraya berkata.
“Itu karena ada kerugian yang lebih besar jika tetap dibiarkan”.
“Nek pasar – pasar atau rumah – rumah itu tetap saja menjamur dijalan seperti itu, akan menimbulkan macet dimana – mana, distribusi terlambat, dan akan lebih menimbulkan kerugian banyak orang baik waktu dan biaya….lagian itu juga secara hukum bukan tanah milik mereka. Itu demi tatanan yang lebih baik, tetapi respon mereka terkadang anarkis”.
“Untuk masalah hilangnya pekerjaan, tak semuanya itu hilang. Pemerintah masih mengganti tempat pasar yang lebih baik…kalau mereka masih meronta – ronta seperti itu berarti mereka itu bodoh dan malas. Selain itu, kalau mereka mau berpikir dan berusaha konsisten, seharusnya mereka bisa menjadi wirausaha bukan selamanya menjadi wiraswasta. Oke saiki ngene, kau lihat sekarang banyak dari mereka menjadikan pengemis menjadi profesi. Meminta – meminta sebagai jalan pintas untuk mempunyai kendaraan, bahkan mereka bisa membeli tanah. Celakanya, banyak orang meniru itu dan bahkan diorganisir”.
“Aku tak habis pikir, negeri dengan sumber daya alam yang dari dulu ingin dijajah karena kekayaan alamnya ini, tidak bisa mereka manfaatkan. Itu semua karena mereka bodoh dan malas!..Aku kasih tahu, pengemis yang benar – benar pengemis itu, tidak mau ingin menjadi pengemis. Mereka mengemis dengan muka tertunduk malu, bukan malah menonjolkan rengekan palsu!”.
“Aku juga penasaran…apakah Sang Pemakai juga mempunyai predikat malas dan bodoh?” tambah Si Bolpoin.
Tidak!…tidak!..itu tidak benar!”. Bantah Buku Catatan.
“Sang Pemakai adalah orang yang baik. Dia seorang mahasiswa juga seorang jurnalis. Dia menyampaikan kebenaran melalui tulisan – tulisannya walaupun banyak penguasa – penguasa birokrasi kampusnya yang complain. Dia juga gemar berpolitik. Salah satu pesan yang pernah terukir di kertas aku adalah Kalau Kita Tidak Bisa Berpolitik, Maka Kita Tidak Sadar Kita Bisa Dipolitiki”.
“Banyak kertas dariku yang dia coret karena dia selalu bawa diriku untuk menulis berita yang dia temukan spontan. Dia seorang yang peka dan aku bangga jika aku lecek dan banyak coretan.”
“Dia seorang jurnalis sosial kawan….bukan jurnalis komersial yang sekali lagi mementingkan perut mereka. Mungkin itu terjadi di berbagai media di negeri kita. Demi kepentingan politik pribadi dan konspirasi, mereka jadikan alat politik dan media untuk saling menghujat, ataupun yang lainnya. Siapa menguasai media, dia menguasai dunia”.

“Hei!…hei!..hei!…ribut wae”. Tiba – tiba suara bernada berat memotong perdebatan mereka.
Suara itu berasal dari Si Jam Dinding yang menempel di tembok tepat diatas mereka yang ternyata diam – diam menyimak percakapan itu.
Si Buku Catatan dan Si Bolpoin pun sontak terdiam terkagetkan.
“Sebenarnya apa yang kalian debatkan heh?. Semuanya benar…dan juga semua salah!” Kata Jam Dinding yang kini menengahkan mereka.
“Heh Bolpoin…seharusnya kamu bersyukur. Kamu dipake oleh Sang Pemakai untuk menulis, kalaupun kamu ingin tintamu utuh tak terkurangi, itu juga buruk menurutku. Karena apa kau tahu? karena kau juga akan mati dalam kebosanan dalam kotak pensil. Masih mending kau ini menjadi bolpoin, coba kamu lihat temenmu Si Pensil, tulisannya itu mudah terhapuskan dan sekarang jarang digunakan. Sedangkan kau, tak bisa dihapuskan dan walaupun bisa tapi meninggalkan bekas dan sering digunakan Sang Pemakai pula.”
“Kau juga Catatan!…tak semua orang diluar sana itu buruk dimatamu. Semua itu harus seimbang antara idealisme dan rasionalisme. Dan semua kembali ke pribadi masing – masing mau pilih jalan yang mana. Hidup ini adalah pilihan dan mereka manusia punya akal untuk berpikir untuk memilihnya bukan nafsu yang merajai” Kata Jam Dinding dengan bijak namun bernada tinggi”.
Di luar kamar terdengar suara langkah kaki terketuk tertuju. Tiba – tiba gagang pintu terbuka perlahan karena Sang Pemakai sudah datang. Semua pun kembali hening senyap tak bersuara kecuali detak jarum jam dinding yang terus berputar.
….

Keterangan:
Kesel : Capek
No opo toh iki : Ada apa sih ini
kowe iki pie toh : Kamu ini bagaimana sih
yo wes : Ya sudah
ngomong ki gampang : Bicara itu mudah
nek : Kalau
saiki ngene : Sekarang begini

Semarang, 31 Maret 2011
Hikmatyar R.A